Yuk Kenali Jenis-Jenis Disabilitas!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Setiap tanggal 3 Desember diperingati sebagai hari Disabilitas Internasional. Lalu, siapa saja yang disebut penyandang disabilitas?

Penyandang disabilitas tak hanya untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik. Setiap orang yang mengalami kesulitan berinteraksi secara penuh di tengah masyarakat dalam waktu yang lama dapat dikatakan disabilitas.

Menurut Resolusi PBB Nomor 61/106 tanggal 13 Desember 2006, penyandang disabilitas merupakan setiap orang yang tidak mampu menjamin oleh dirinya sendiri, seluruh atau sebagian, kebutuhan individual normal dan/atau kehidupan sosial, sebagai hasil dari kecacatan mereka, baik yang bersifat bawaan maupun tidak, dalam hal kemampuan fisik atau mentalnya. Istilah disabilitas berasal dari bahasa inggris yaitu different ability yang artinya manusia memiliki kemampuan yang berbeda.

Kata “disabilitas” tak lain adalah kata “cacat”. Selama ini kata tersebut digunakan oleh kebanyakan orang, untuk menyebut yang kekurangan fisik atau mental.

Karena kata “penyandang cacat” mengandung makna negatif, maka bahasa tersebut diubah menjadi “penyandang disabilitas”. Istilah “cacat” memiliki konotasi yang negatif dan tidak bersahabat terhadap mereka yang memiliki kelainan.

Persepsi yang muncul dari istilah “penyandang disabilitas” adalah kelompok sosial ini merupakan kelompok yang serba kekurangan dan tidak mampu. Persepsi ini jelas bertentangan dengan tujuan konvensi internasional yang mempromosikan penghormatan atas martabat “penyandang disabilitas” dan melindungi serta menjamin kesamaan hak asasi mereka sebagai manusia.

Melansir dari emc.id, terdapat macam-macam disabilitas diantaranya:

1. Disabilitas fisik

Keterbatasan fisik ini mengalami gangguan pada fungsi tubuh. Disabilitas fisik dapat muncul sejak lahir atau akibat kecelakaan, penyakit, dan efek samping dari pengobatan medis. Beberapa jenisnya disabilitas fisik antara lain amputasi, lumpuh, paraplegi, stroke, disabilitas akibat kusta, dan cerebral palsy (CP).

2. Disabilitas sensorik

Orang yang mengalami keterbatasan fungsi panca indra disebut disabilitas sensorik. Terdapat jenis disabilitas ini antara lain disabilitas wicara, rungu, dan netra.

Cara membantu penyandang disabilitas netra, perlu mempelajari secara khusus jika ingin berinteraksi dengan mereka. Jenis sentuhan dan nada bicara yang bisa digunakan untuk berkomunikasi.

Sebelum membantu mereka, sebaiknya bertanya terlebih dahulu apakah mereka membutuhkan bantuan atau tidak. Untuk berinteraksi dengan penyandang disabilitas wicara, rungu, atau rungu wicara. Untuk itu, membutuhkan keahlian dalam menggunakan bahasa isyarat.

3. Disabilitas mental

Penyandang disabilitas mental mengalami keterbatasan akibat gangguan pada pikiran atau otak. Yang termasuk disabilitas mental antara lain: bipolar, skizofrenia, gangguan kecemasan, dan depresi. Mereka yang mengalami disabilitas mental dapat mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, berpikir, mengambil keputusan, dan mengutarakan isi pikiran mereka.

Cara menanganinya adalah dengan tidak menempatkan mereka pada kondisi yang rentan menimbulkan stres atau tertekan. Selain itu, saat berinteraksi dengan penyandang disabilitas mental, sebaiknya menggunakan penjelasan yang mudah dimengerti.

4. Disabilitas intelektual

Disabilitas intelektual dapat ditandai dengan tingkat IQ di bawah standar rata-rata, kesulitan memproses informasi, keterbatasan dalam berkomunikasi, bersosialisasi, dan kepekaan terhadap lingkungan. Beberapa jenis disabilitas intelektual adalah down syndrome kretinisme, mikrosefali, makrosefali, dan skafosefali.

Jika ingin membantu anggota keluarga atau kerabat yang merupakan penyandang disabilitas intelektual, pahami terlebih dahulu bahwa mereka butuh waktu, kesabaran, dan perhatian lebih. Pertama butuh waktu untuk mengajarkan mereka memahami instruksi dasar. Berikan instruksi dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

Selanjutnya, usahakan agar lingkungan tidak menimbulkan tekanan atau stres bagi penyandang disabilitas. Lingkungan yang terlalu berisik atau ramai dapat menganggu konsentrasi mereka sehingga rentan menyebabkan stres.

Karena sulit mengolah instruksi dan rangsangan dari luar diri mereka. Penyandang disabilitas seringkali tidak menyadari keadaan di sekitar mereka. Untuk itu, kamu perlu membantu mereka menyadari hal-hal yang sedang terjadi.

Reporter: Azizah Putri Octavina

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini