Wake Up Iris, Musisi Asal Malang dengan Genre Musik Folk!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Industri musik tanah air semakin berwarna dengan hadirnya musisi baru yang berbakat. Salah satunya duo asal Malang, Wake Up Iris.

Dalam acara Mola Chill Fridays yang tayang di Mola TV, Jumat 25 Juni 2021, Wake Up Iris tampil sebagai pembuka untuk penampilan musisi asal Norwegia, Aurora.

Dalam penampilan itu, Vania Marisca (biola, vokal) dan Bie Paksi (drum, gitar, vokal) yang tergabung dalam Wake Up Iris tampil dengan epic di acara tersebut.

Mengusung musik yang unik, Wake Up Iris mulai dikenal dengan genre folk yang tak biasa. Sehingga, lantunan lagu mereka memiliki warna yang khas.

Mantap bermusik, duo ini sudah terbentuk pada 2015. Setelah memenangkan Go Ahead Challenge, sebuah ajang pencarian insan industri kreatif Indonesia, kesempatan Wake Up Iris! terbuka, karena mereka berkesempatan tampil di panggung bergengsi SXSW (South by South West), di Austin, Texas, Amerika Serikat pada 2017.

Uniknya lagi, lagu-lagu Wake Up Iris sebagian besar mengambil tema semesta alam. Mereka juga menggunakan judul dari berbagai bahasa seperti Jerman, Portugis, dan Swedia.

Hingga kini, Wake Up Iris telah merilis beberapa lagu yang unik. Mulai dari Audeamus, Metanoia, Nefelibata, Fernweh dan Gokotta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini