Tren Wanita Enggan Punya Anak, Apa Sih Alasannya?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dewasa ini, banyak wanita yang sudah menikah maupun belum menikah memutuskan untuk tidak ingin memiliki anak. Keputusan ini cukup menuai perdebatan di kalangan warganet.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Modern Motherhood Report menunjukkan bahwa 22 persen wanita tidak setuju dengan pasangannya perihal memiliki anak. Survei ini dilakukan pada 3.000 wanita dengan rentang usia 28-45 tahun. Hasil lain dari survei ini menunjukkan bahwa 36 persen wanita merasa ragu untuk memiliki anak.

Kemudian penelitian juga dilakukan oleh Urban Institute, dimana didapatkan data bahwa tingkat kelahiran di kalangan wanita berusia 20-an telah turun 15 persen. Adapun penelitian lain dar Pew yang menyebutkan bahwa jumlah pasangan tanpa anak meningkat drastis, sekitar dua kali lipat sejak tahun 1970.

Berbagai alasan mendasari pengambilan keputusan oleh wanita pada generasi milenial seperti sekarang ini. Seringkali mereka tidak mau punya anak karena memiliki alasan seperti lebih tertarik dan ingin fokus pada karier, pendidikan hingga tujuan hidup lainnya.

Berikut alasan yang memengaruhi wanita tidak ingin memiliki seorang anak:

  1. Populasi Manusia di Dunia Sudah Berlimpah
    Bagi sebagian wanita, kehadiran seorang anak di tengah-tengah kehidupan dengan pasangan akan menambah populasi manusia. Populasi manusia dinilai sudah tidak terkendali. Melahirkan satu manusia dinilai akan memberikan beban yang lebih besar lagi kepada dunia. Mereka juga berpikir bahwa apabila penduduk bumi semakin padat, maka akan timbul masalah lingkungan.
  2. Faktor Finansial
    Kondisi finansial atau keuangan yang tidak stabil di antara dirinya dan pasangan membuat sebagian wanita mengurungkan niat untuk memiliki anak. Pendapat lain menyebutkan bahwa mereka menganggap mengurus kehidupan diri sendiri dan pasangan sudah menimbulkan kesulitan, sehingga mereka tidak ingin menambah beban dengan kehadiran seorang anak.
  3. Tidak Ingin Sakit Karena Hamil dan Melahirkan
    Ada beberapa wanita yang beranggapan bahwa mereka tidak ingin merasakan sakitnya melahirkan atau perasaan tidak nyaman saat kehamilan. Mereka berpikir bahwa melahirkan dan kelahiran adalah suatu penderitaan fisik yang amat berat dan menyiksa.
  4. Tidak Menyukai Anak Kecil
    Kehadiran anak kecil dianggap sebagai hal yang merepotkan. Seperti rengekan, tangisan hingga kebisingan dianggap tercipta karena kehadiran anak di dalam kelurga, Anak kecil juga dinilai akan mengganggu kehidupan berumah tangga dengan pasangan nantinya.
  5. Tidak Mampu Menjadi Orang Tua
    Menjadi orang tua bukan sesuatu yang mudah. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk merawat hingga mendidik anak-anaknya. Hal ini yang menjadikan salah satu alasan wanita tidak ingin memiliki anak. Mereka menganggap diri mereka belum baik, sehingga ingin mengurus dan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Reporter: Shafira Annisa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih, Perisai Baru Ekonomi Petani

Oleh : Rivka Mayangsari*)Pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan melalui percepatan pembangunanKoperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di berbagai wilayah Indonesia. Program ini hadir sebagailangkah strategis untuk melindungi petani, peternak, dan pelaku usaha kecil dari ketidakpastianpasar sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa. Di tengah tantangan ekonomi global dan fluktuasi harga pangan, Koperasi Merah Putih diposisikan sebagai perisai baru ekonomirakyat yang mampu menghadirkan stabilitas, kepastian usaha, dan pemerataan kesejahteraan.Pembentukan Koperasi Merah Putih dirancang secara khusus untuk memutus panjangnya rantaipasok distribusi bahan pangan yang selama ini dinilai merugikan masyarakat desa. Selamabertahun-tahun, petani dan peternak sering berada pada posisi lemah akibat ketergantunganterhadap tengkulak dan pembeli besar yang menentukan harga secara sepihak. Akibatnya, keuntungan ekonomi lebih banyak dinikmati pihak tertentu, sementara produsen utama justrumemperoleh margin yang kecil.Melalui koperasi, pemerintah ingin membangun sistem distribusi yang lebih adil dan transparan. Lembaga ini akan menjadi penyerap utama hasil produksi masyarakat, termasuk gabah dankomoditas pangan lainnya, dengan harga yang menguntungkan petani. Kebijakan tersebutmemberikan jaminan pendapatan yang lebih stabil, terutama saat harga pasar mengalamipenurunan drastis. Kehadiran koperasi membuat petani tidak lagi dihantui ketidakpastian hargayang selama ini menjadi persoalan utama di sektor pertanian.Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pemerintah pusat telahmenyiapkan target kerja sama dan dukungan logistik di seluruh wilayah untuk memastikankeberhasilan program tersebut. Menurutnya, Koperasi Merah Putih memiliki mandat utamauntuk menjamin keuntungan bagi setiap produsen di sektor pangan primer. Peran koperasi tidakhanya sebagai lembaga ekonomi biasa, tetapi juga sebagai instrumen negara dalam menjagastabilitas harga komoditas unggulan masyarakat desa.Pemerintah memandang bahwa stabilitas harga merupakan faktor penting dalam menjagakeberlangsungan ekonomi masyarakat kecil. Dengan sistem distribusi yang dikelola secarakolektif melalui koperasi, nilai jual hasil pertanian dapat lebih terkendali dan tidak mudahdipermainkan oleh spekulan pasar. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi tawar petani danpeternak dalam rantai perdagangan nasional.Selain berfungsi sebagai penggerak ekonomi, Koperasi Merah Putih juga akan menjadi pusatlayanan sosial masyarakat desa. Pemerintah menegaskan bahwa koperasi akan difungsikansebagai prasarana distribusi bantuan tunai dan barang kebutuhan pokok bersubsidi agar lebihtepat sasaran. Sistem berbasis keanggotaan dan pengawasan di tingkat desa dinilai mampumemperkuat transparansi sekaligus mencegah praktik penyelewengan bantuan sosial.Koordinasi antara pemerintah desa dan pengelola koperasi diharapkan mampu menciptakansistem distribusi bantuan yang lebih tertib, efisien, dan akuntabel. Dengan demikian, manfaatprogram pemerintah benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Kehadiran koperasi bukan hanya memperkuat ekonomi desa, tetapi juga memperkuat keadilansosial di tingkat akar rumput.Koperasi Merah Putih juga diyakini mampu mempercepat laju ekonomi masyarakat desa secarakeseluruhan. Selama ini, banyak pelaku usaha kecil kesulitan mendapatkan akses modal usahayang sehat dan pasar yang luas. Kondisi tersebut membuat perputaran ekonomi desa berjalanlambat dan kurang kompetitif. Melalui koperasi, masyarakat memiliki wadah bersama untukmembangun sistem ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.Hasil pertanian, peternakan, hingga produk UMKM dapat dipasarkan secara kolektif sehinggamemiliki nilai jual yang lebih baik. Sistem ini memungkinkan efisiensi distribusi sekaligusmemperluas akses pasar. Dampaknya, daya beli masyarakat meningkat dan peluang usaha barusemakin terbuka. Ekonomi desa yang sebelumnya berjalan secara terpisah kini dapat bergeraksecara kolektif dan lebih kuat.Kehadiran koperasi juga menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadapmonopoli harga. Selama ini, petani dan pelaku usaha kecil sering kali tidak memiliki pilihanselain menjual hasil produksinya kepada tengkulak dengan harga rendah. Dengan koperasi, masyarakat memiliki kekuatan bersama untuk menentukan harga yang lebih adil dan stabil.Komitmen pemerintah dalam mempercepat pembangunan Kopdes Merah Putih juga ditegaskanlangsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Presiden mendorong koperasi desa menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu menciptakan pemerataan pembangunan hingga ke pelosoknegeri. Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Komarudin, turut mengajak pemerintah desa untukmengoptimalkan peran koperasi dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang kuat danberkelanjutan.Berdasarkan data Kementerian Desa, saat ini telah dibangun sekitar 34.000 unit Kopdes MerahPutih di seluruh Indonesia, dengan sekitar 5.500 unit di antaranya telah selesai dibangun. Angkatersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat pembangunan ekonomiberbasis desa.Dengan dukungan pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, Koperasi Merah Putih kini hadirsebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Koperasi bukan lagi sekadar lembaga usaha, melainkan benteng perlindungan ekonomi masyarakat desa yang mampu menjaga stabilitasharga, memperkuat kesejahteraan petani, dan menciptakan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih adil dan mandiri.*) Pemerhati ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini