Spoiler One Piece 995: Vaksin Virus Queen Jatuh ke Tangan…

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – One Piece chapter baru, yakni 995, dipastikan tidak akan rilis pekan ini. Artinya, chapter baru akan dirilis pada 13 November 2020 mendatang. Diprediksi bakal banyak kisah menarik yang disuguhkan Eiichiro Oda.

Pada chapter 994 lalu, Kaido menyatakan, ia ingin segera mengakhiri pertarungan melawan Akazaya Nine, setelah mendapat perlawanan sengit.

Di bawah kastil Kaido, Luffy dan para samurai tengah sibuk melawan anak buah Kaido yang merepotkan.

Apalagi, di bawah, salah satu All Star, yakni Queen sudah menunjukkan kekuatannya yang mengerikan. Wajar ia dijuluki Sang Wabah, Queen melepas tembakan virus, yang menjangit kawan maupun lawan tanpa pandang bulu.

Virus itu membuat tubuh yang terinfeksi menjadi seperti es, lalu kehilangan kesadaran. Chopper menyadari, Queen pasti memiliki vaksinnya.

Benar saja, Queen kemudian menyerahkan vaksin itu kepada Scratchmen Apoo, dan memerintahkan untuk mempertahankan benda tersebut.

Baik para samurai, anak buah Kaido, hingga kelompok Luffy pun kini memburu Apoo, untuk merebut vaksin tersebut.

Di bagian akhir, anak Kaido, yakni Yamato menunjukkan dukungannya untuk klan Kozuki. Ia siap bertarung dengan salah satu Tobi Roppo, yaitu Sasaki.

Nah, kemungkinan, chapter 995 akan memperlihatkan sengitnya perebutan vaksin atau penawar virus yang kini dipegang Apoo. Sementara Sasaki, diprediksi akan benar-benar baku hantam dengan salah satu bawahan kuat ayahnya.

Lalu bagaimana nasib Luffy, apakah ia akan sampai di puncak kastil Kaido, dan bertempur dengan Sang Raja Hewan Buas? Kita tunggu saja, pekan depan ya. Sabar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini