Sinopsis ‘The World of The Married’ Episode 11 dan 12

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Drama Korea ‘The World of the Married‘ yang kini akan memasuki episode 11 dan 12 terus dinantikan penonton. Episode 11 akan tayang pada Jumat malam, 1 Mei 2020, sementara episode 12 akan tayang Sabtu malam mendatang, 2 Mei 2020.

Tentunya drama yang tayang di kanal JTBC ini akan hadir dengan kisah terbaru. Diketahui, pada episode 10 lalu, Ji Sun Woo (Kim Hee Ae) mengantarkan Min Hyun Seo (Sim Eun Woo) ke Stasiun Gosan untuk pergi ke Ulsan.

Kepergian Min Hyun Seo ini karena ia tidak ingin lagi bertemu dan terlibat dengan Park In Kyu (Lee Hak Jo), mantan kekasihnya. Namun, ketika Ji Sun Woo berusaha menemui Min Hyun Seo kembali, ia menemukan koper milik Hyun Seo tertinggal, sementara kereta telah berangkat.

BACA JUGA: ‘The World of The Married’ Diboikot, Aktornya Pernah Terlibat Kasus Prostitusi Anak

Ketika keluar stasiun, Ji Sun Woo melihat kerumunan orang-orang dan anggota polisi serta staf medis. Ia melihat ada darah di tanah. Ji Sun Woo pun terkejut melihat syal miliknya yang ia berikan pada Min Hyun Seo, ada di tempat berdarah tersebut.

Nah, bagaimana kelanjutan episode 11 dan 12 ‘The World of the Married’? Berikut ulasannya:

Sinopsis Episode 11:

Dalam cuplikan episode mendatang, Yeo Da Kyung (Han So Hee) mengatakan ia mendengar soal berita kematian seseorang di Stasiun Gosan.

Sementara itu, Park In Kyu mencoba membujuk Min Hyun Seo agar bersedia meninggalkan Gosan bersamanya ketika sudah mendapatkan uang dari Lee Tae Oh (Park Hae Joon).

Min Hyun Seo pun bertanya pada Park In Kyu, apakah mereka masih memiliki harapan untuk bersama. Ia pun meminta Park In Kyu untuk menghentikan semuanya.

Ji Sun Woo yang melihat syal miliknya berada di TKP Stasiun Gosan, meminta agar diizinkan untuk melihat. Sun Woo mengatakan kemungkinan orang yang meninggal tersebut adalah orang yang dicarinya.

BACA JUGA: Drakor Hits ‘The World of the Married’ Kena Kritik, Kenapa?

Rumor pun beredar di rumah sakit, mengatakan orang yang tewas di Stasiun Gosan adalah kenalan Ji Sun Woo. Saat penyelidikan di Stasiun Gosan dilakukan, ditemukan keanehan.

Petugas setempat mengatakan CCTV tidak merekam apapun di tempat kejadian tersebut. Disisi lain, ayah Yeo Da Kyung, Yeo Byeong Kyu (Lee Kyung Young), berkata pada seseorang agar sang putri tidak tahu masalah yang tengah ditanganinya.

Ia meminta agar masalah tersebut dirahasiakan dari Da Kyung hingga dirinya meninggal. Sedangkan Lee Tae Oh tampaknya harus menghadapi pihak kepolisian terkait sebuah masalah.

Sinopsis Episode 12:

Dalam episode berdurasi 1 jam 20 menit ini, penonton akan mengetahui jawaban atas sejumlah misteri yang sebelumnya dihadirkan, termasuk soal kematian Min Hyun Seo (Sim Eun Woo).

Perselingkuhan Lee Tae Oh saat masih menjadi suami Ji Sun Woo akan terungkap lebih jelas. Episode itu akan menjadi titik balik bagi kehidupan Ji Sun-woo.

Kemudian, Sun Woo dikisahkan akan terus berjuang melindungi keluarganya dan menyelamatkan kariernya sebagai dokter sekaligus direktur muda rumah sakit, yang saat ini tengah berada di ujung tanduk.

BACA JUGA: Masa-masa Kelam Han Seo Hee, Pelakor di ‘The World of The Married’

Sebelumnya, pemeran Ji Sun Woo, Kim Hee Ae sudah meminta penggemar bersiap-siap untuk kejutan seru yang bakal disajikan di episode ini. Sebab, ia mengatakan kalau karakter yang ia perankan akan menghadapi bahaya besar di episode 12 The World of The Married.

“Sebelum syuting adegan itu, aku sempat takut melakukannya, karena emosi Sun Woo sedang berada di puncak dan terjepit. Tapi semua kru, termasuk sutradara menerima aktingku dan aku puas. Ini akan layak ditonton,” kata Kim Hee Ae, dikutip dari laman Korea Times.

Sedikit mengingatkan, episode 10 yang tayang 25 April 2020 lalu begitu menegangkan dan penonton dibuat menahan napas di menit-menit terakhir. Ending-nya pun bikin syok dan membuat kita penasaran.

Bagaimana dengan nasib Min Hyun Seo? Apakah dia meninggal karena dibunuh sang mantan kekasih, Park In Kyu?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini