Puncaki Box Office Pekan Ini, Film The Rock dan Emily Blunt Untung Rp865 Miliar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kabar bahagia datang dari industri perfilman Hollywood. Film ‘Jungle Cruise’ sukses memuncaki box office Amerika Serikat pekan ini.

Dilansir Just Jared, film yang dibintangi Dwayne Johnson atau The Rock dan Emily Blunt ini meraup keuntungan yang tak sedikit. Film ini menghasilkan 34.2 juta Dolar AD di box office domestik, menghasilkan angkutan keseluruhan di seluruh dunia sebesar 61,8 juta Dolar AS atau setara dengan 865 miliar Rupiah.

Ini membawa pendapatan tambahan sebesar 30 juta Dolar AS dari Disney Plus Premier Access. Film itu debut bersamaan di layar lebar dan platform streaming tersebut.

Film Jungle Cruise memiliki memiliki anggaran sebesar 200 juta Dolar AS. Film ini didasarkan pada perjalanan Disneyland di mana perahu sungai kecil membawa sekelompok pelancong melalui hutan yang diisi dengan hewan berbahaya dan reptil dengan elemen supranatural.

Jungle Cruise merupakan film dengan kesuksesan besar kedua untuk Emily Blunt. Sebelumnya, aktris ini juga mendaoat keuntungan besar mengingat film terbarunya, A Quiet Place sempat bertengger di puncak box office selama beberapa pekan.

Film ini juga memulai debutnya di layanan streaming Disney, Disney Plus dengan biaya 30 Dolar AS.

Jungle Cruise sendiri bertema petualangan fantasi. Film menceritakan bagaimana seorang kapten kapal Frank (Dwayne Johnson) dan seorang penjelajah Lily (Emily Blunt) terperangkap dalam sebuah misi.

Keduanya mencari kebenaran legenda sebuah pohon yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan segalanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Relaksasi SLIK dan Perluasan Akses Rumah Subsidi

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*Relaksasi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) menjadi salah satu langkahstrategis dalam memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan perumahan, khususnya rumah subsidi. Kebijakan ini hadir di tengah kebutuhan hunian yang terusmeningkat, sementara sebagian masyarakat masih terkendala oleh catatan kredityang tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan finansial mereka saat ini.Dalam konteks tersebut, relaksasi SLIK tidak hanya dilihat sebagai kebijakan teknisdi sektor keuangan, tetapi juga sebagai instrumen sosial untuk mendorong inklusiperumahan. Akses terhadap rumah layak menjadi bagian dari upaya pemerataankesejahteraan yang membutuhkan intervensi kebijakan yang adaptif dan responsif.Kebijakan terbaru memungkinkan masyarakat dengan tunggakan kredit di bawah Rp1 juta tetap dapat mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi. Langkah ini memberikan ruang bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang sebelumnya terhambat oleh catatan kredit minor untuk tetap memiliki kesempatanmemperoleh hunian.Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyampaikan bahwa kebijakan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan riilmasyarakat. Ia menilai bahwa banyak calon debitur sebenarnya memilikikemampuan membayar, tetapi terkendala oleh catatan administratif yang relatif kecil.Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam penilaian kelayakankredit, dari yang semata-mata berbasis riwayat menjadi lebih mempertimbangkankondisi aktual. Dengan demikian, kebijakan ini berpotensi membuka akses yang lebih luas tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap menegaskan pentingnyamanajemen risiko dalam implementasi kebijakan ini. Relaksasi yang diberikan bukanberarti menghilangkan prinsip selektivitas, melainkan memberikan fleksibilitas dalambatas yang terukur.Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwarelaksasi ini tetap mempertimbangkan kualitas kredit secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut dirancang agar tetap menjaga stabilitassektor keuangan sekaligus mendorong inklusi pembiayaan.Dengan kata lain, kebijakan ini mencoba menyeimbangkan antara perluasan aksesdan mitigasi risiko. Hal ini penting agar peningkatan penyaluran KPR subsidi tidakmenimbulkan potensi kredit bermasalah di kemudian hari.Dari perspektif industri, kebijakan ini disambut positif oleh para pengembangproperti. Relaksasi SLIK dinilai dapat meningkatkan daya serap pasar, khususnya di segmen rumah subsidi yang selama ini menghadapi kendala akses pembiayaan.Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI),...
- Advertisement -

Baca berita yang ini