‘Money Heist: Korea’ Jadi Peringkat Pertama dalam Kategori Serial Non-Inggris di Netflix

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Drama remake Korea dari ‘Money Heist’ tampaknya telah menciptakan sensasi global dan mencuri hati pemirsa seluruh dunia. ‘Money Heist: Korea – Joint Economic Area’ kini berhasil menempati posisi pertama dalam kategori serial non-Inggris di Netflix.

Melansir dari Sports Chosun, drama ini berhasil mencatat 33,74 juta penayangan hanya dalam tiga hari setelah dirilis. Selain itu juga berhasil menempati peringkat pertama dalam kategori top 10 TV global non-Inggris di Netflix.

Foto: Sports Chosun.

Tak hanya itu, drama ini juga menempati peringkat pertama dalam daftar top 10 di 51 negara, termasuk Italia, Meksiko, Thailand, dan Mesir. Lalu masuk peringkat pertama di enam negara, termasuk Korea.

Bahkan beberapa outlet media luar negeri memberikan pujian terhadap drama itu.

Drama ‘Money Heist: Korea – Joint Economic Area’ sudah tayang di Netflix pada 24 Juni 2022. Episode bagian pertama terdiri dari enam episode, sisanya akan dirilis pada masa mendatang yang jadwalnya masih dirahasiakan.

Sementara itu, drama ini tak jauh berbeda dengan versi Spanyol aslinya. Kisahnya menggambarkan perampokan sandera yang belum pernah terjadi sebelumnya di latar belakang penyatuan Semenanjung Korea.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini