Kisah Pangeran Harry dan Meghan Dibuatkan Film Lagi

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Kisah hidup Pangeran Harry dan Meghan Markle kembali dibuatkan film televisi. Kali ini judulnya adalah: ‘Harry & Meghan: Escaping the Palace’.

Jaringan televisi Lifetime mengonfirmasi pembuatan film ketiga Harry dan Meghan. Sebelumnya, sudah ada dua film yang dimulai pada 2018, yakni ‘Harry & Meghan’ dan di 2019 ‘Harry & Meghan: Becoming Royal’.

Setiap film, aktor dan aktris yang berperan selalu berbeda. Parisa Fitz-Henley sebagai Meghan dan Murray Fraser sebagai Harry di film tahun 2018. Kemudian Tiffany Smith dan Charlie Field di 2019.

Untuk film kali ini belum ditemukan pemerannya karena masih dalam tahap casting dan proses produksi diperkirakan akan dimulai pada musim semi. Menhaj Huda masih dipercaya sebagai sutrada sejak film pertama di 2018. Meredith Finn dan Michele Weiss menjadi produser eksekutif. Demikian dikutip dari Just Jared, Kamis 25 Maret 2021.

Film kali ini bercerita soal kesedihan Meghan yang semakin meningkat karena pihak kerajaan tidak membelanya dari serangan media massa serta ketakutan sang suami sejarah akan terulang lagi dengan kasus kematian ibunya, Putri Diana, dan tak bisa melindungi istri dan anaknya.

Film ini juga akan mengungkap perselisihan keluarga antara Pangeran William dan adiknya, Kate Middleton dan Meghan, Duke of Sussex dengan ayahnya Pangeran Charles, yang berujung pada keputusan putra bungsunya meninggalkan kerajaan.

Harry dan Meghan membuat heboh setelah melakukan wawancara dengan Oprah. Beberapa serangan kepada kerajaan Inggris dilontarkan keduanya, terutama Meghan. Bahkan, wanita 39 tahun itu mengaku sempat berpikir melakukan bunuh diri selama tinggal di kerajaan.

Keinginan bunuh diri muncul karena Meghan merasa tertekan dan terisolasi dengan semua peraturan di Kerajaan Inggris yang sangat ketat. Wanita kelahiran 4 Agustus itu sempat mengutarakan niatannya ke Harry dan membuat sang suami khawatir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Langkah Koordinatif Ditempuh Untuk Jaga Stabilitas Rupiah

*) Oleh: Dinda ParamitaNilai tukar rupiah selalu menjadi salah satu indikator yang paling sensitif terhadapperubahan kondisi ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat akibat gejolakgeopolitik, kebijakan moneter negara maju, maupun pergeseran arus modal internasional, tekanan terhadap mata uang negara berkembang hampir tidakterhindarkan. Dalam konteks tersebut, langkah cepat dan terkoordinasi yang dilakukan pemerintah bersama otoritas ekonomi menjadi faktor penting untuk menjagastabilitas dan membangun kepercayaan pasar. Karena itu, berbagai kebijakan yang saat ini ditempuh menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapitantangan eksternal yang terus berkembang.Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwapemerintah telah mengidentifikasi tekanan utama terhadap rupiah berasal daridinamika aliran modal global. Pelemahan nilai tukar bukan semata-mata dipengaruhifaktor domestik, melainkan juga merupakan konsekuensi dari perubahan perilakuinvestor internasional yang cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih amandi tengah ketidakpastian dunia. Oleh sebab itu, kesepakatan koordinatif antarapemerintah, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk meredam capital outflow menjadi langkah tepat. Sinergi antarlembaga menjadi fondasi penting agar respons kebijakan berjalan efektif dan tidak bergerak sendiri-sendiri.Koordinasi tersebut mencerminkan kematangan tata kelola ekonomi nasional dalammenghadapi tekanan pasar. Pengalaman berbagai krisis sebelumnya menunjukkanbahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dijaga hanya dengan satu instrumen kebijakan. Dibutuhkan harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan agar mampu menciptakan efek penguatan yang saling melengkapi. Dalam situasi saat ini, langkah pemerintah memperkuat koordinasi justru mengirimkan sinyal positif bahwapengambil kebijakan memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional.Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa arusmasuk dana asing mulai terlihat di pasar domestik. Indikasi tersebut menjadi kabarbaik karena menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memilikidaya tarik di mata investor...
- Advertisement -

Baca berita yang ini