Kesha Ratuliu Blak-blakan, Pernah Diludahi dan Lehernya Diinjak oleh Sang Mantan

Baca Juga

MATA INDOENESIA, JAKARTA – Kesha Ratuliu blak-blakan soal kehidupan asmaranya bersama mantan. Artis 21 tahun ini mengaku pernah mendapatkan perlakukan kasar dari mantan pacarnya.

Hal ini disampaikan Kesha di kanal YouTube Gritte Agatha. Kesha mengatakan dirinya mendapat perlakukan tidak baik, secara fisik dan verbal, selama dua tahun menjalin hubungan.

Keponakan Mona Ratuliu itu mengatakan kalau ada kemungkinan perilaku abusive sang mantan berasal dari rasa ketakutannya ditinggal Kesha.

“Pertama kali itu dia mukul,” kata Kesha seperti dikutip pada Kamis 9 Januari 2020.

“Itu kalo engga salah di bulan ketiga apa keenam, tapi mukulnya gini, kita berdebat tapi tiba-tiba tangan dia melayang gitu depan muka aku,” lanjutnya.

Kesha mengatakan bahwa awal hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan, ia mengira sang mantan adalah sosok yang baik dan rajin beribadah. Makanya, saat mantannya berperilaku kasar ia pun kaget.

“Pertama kali kaget banget, karena aku belum pernah sebelumnya tuh kayak enggak pernah menerima perlakukan seperti itu dari lawan jenisku,” kata dia.

Parahnya, wanita yang sudah dilamar sang kekasih, Adhi Permana pada bulan November lalu ini mengungkapkan mantannya pernah menginjak lehernya. Bahkan, ia juga dipanggil wanita murahan kala sedang menjalin asmara dulu.

“Diinjek lehernya tapi enggak kenceng, cuma dia nahan supaya dia bisa mukul lagi. Terus habis itu dipukul lagi.”

“Aku waktu itu mau syuting. Aku dibawa ke mobil, di mobil aku diludahin, aku dikatain perempuan murahan,” ungkap Kesha Ratuliu.

Kesha mengungkapkan bahwa saat dia selisih paham dengan mantan kekasihnya itu selalu mendapat perlakukan tidak baik.

Setelah menjalani hubungan selama dua tahun mendapatkan perlakukan tidak baik, akhirnya Kesha memutuskan untuk berpisah dengan mantannya itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini