Kalina Ocktaranny Ngaku Sudah Cerai dengan Vicky Prasetyo

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kalina Ocktarannya mengaku sudah cerai dengan Vicky Prasetyo. Keduanya sudah pisah rumah sejak Desember 2021.

Kabar keretakan rumah tangga Kalina dan Vicky sudah lama berhembus. Di Channel YouTube Melaney Ricardo, Kalina mengaku dirinya dan Vicky sudah bercerai.

“Sejak 22 atau 23 Desember gue sudah keluar dari rumah. Bukan karena minggat seperti berita di luar sana, gue harus meluruskan. Tapi, memang karena sudah seharusnya gue berpisah. Saat itu sudah bicara kata pisah,” kata Kalina.

“Mungkin belum divorce (cerai), tapi baru diucapkan kata pisah. Gue merasa punya pride, bukan berarti gue nggak mau mempertahankan rumah tangga, bukan berarti gue nggak mau mencoba untuk bertahan dan bersabar. Gue sudah mencoba segala hal,” ujarnya.

“Bukannya nggak mau sabar, tapi sekarang gue mencari happiness dan gue tahu kebahagiaan itu bukan dari orang lain. Jadi gue mencari kebahagiaan mulai dari diri sendiri.”

Ketika ditanya Melaney terkait berita di luar sana yang menyebutkan Kalina dan Vicky sudah bercerai, mantan istri Deddy Corbuzier itu menjawab mantap. “Ya, gue udah cerai,” ungkapnya.

Vicky dan Kalina menikah pada 13 Maret 2020. Belum genap satu tahun usia pernikahan, bahtera rumah tangga keduanya karam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini