4 Film Terbaik tentang Mars, Cocok Ditonton Akhir Pekan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Berbicara tentang Planet Mars seperti tak ada habisnya. Planet yang digadang-gadang sebagai tempat tinggal masa depan umat manusia ini masih terus diteliti, bahkan dibuatkan film-film kerennya.

Nah buat kamu yang penasaran tentang Mars dan segala fantasi soal Planet Merah ini, beberapa judul film berikut layak kamu nonton. Lumayan, buat mengisi waktu luang di akhir pekan:

1. The Martian (2015)

The Martian
The Martian

Dari semua film tentang Mars, bisa dikatakan The Martian adalah yang terbaik. Film ini berkisah tentang seorang astronaut bernama Mark Watney yang diperankan Matt Damon, melakukan penelitian bersama rekan-rekannya di Mars. Watney disangka telah tewas, lalu ia ditinggalkan. Ternyata, Watney masih hidup, dan ia bertahan dengan segala apa yang ada di planet tersebut, sambil menanti penyelamatan.

2. John Carter (2012)

John Carter
John Carter

Carter tak menyangka, sebuah peristiwa tiba-tiba membuatnya berteleportasi ke Mars. Ternyata, di planet tersebut terdapat sebuah kehidupan besar, bahkan terjadi perang perebutan kekuasaan. Carter yang merupakan pensiunan tentara akhirnya terjebak dalam perang antar bangsa Mars.

3. Mission to Mars (2000)

Mission to Mars
Mission to Mars

Misi pendaratan ke Mars akhirnya diluncurkan. Namun, semuanya tak berjalan mulus. Sebuah bencana menghantam para astronaut yang ditugaskan, dan menyisakan satu yang selamat. Misi untuk menemukan astronaut tersebut pun dilaksanakan, untuk mencari tahu apa penyebab

4. The Last Days on Mars (2013)

The Last Days on Mars
The Last Days on Mars

Seorang kru penjelajah Mars menemukan fosil bakteri di Planet Merah, yang kemudian membuatnya nekat melakukan ekspedisi sendirian di kemudian hari. Namun, ia mengalami sebuah bencana, yang membuat semua orang berkesimpulan, Mars tidak untuk dihuni.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini