Zaman Dulu Orang Mandi Tidak Menggunakan Sabun, Lho!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sabun menjadi benda yang wajib saat mandi. Hal ini  karena sabun mengandung senyawa yang dapat menghilangkan lemak dan kotoran yang menempel pada kulit. Tapi tahukah jika dahulu orang-orang tidak menggunakan sabun untuk membersihkan dirinya?

Di zaman dulu, orang-orang di berbagai negara tidak menggunakan sabun untuk membersihkan diri. Di Indonesia saat itu mandi dengan cara menggosok tubuh mereka menggunakan lempengan batu halus untuk membersihkan kotoran yang ada di tubuh. Untuk mengharumkan, biasanya mereka menambahkan bunga-bungaan seperti melati, kenanga, sirih dan mawar ke dalam air pemandian mereka.

Demikian juga dengan orang Yunani Kuno. Mereka mandi menggunakan pasir, batu apung, abu, balok lilin, dan meminyaki tubuh mereka lalu menggosok tubuh mereka menggunakan peralatan metal yang disebut strigil.

Orang Romawi Kuno juga demikian, sebagai pengganti sabun, mereka mandi dengan cara membaluri tubuh mereka dengan minyak dengan debu di atasnya. Hal ini sampai mengering, setelah kering barulah mereka mengelupasnya.

Asal-Usul Sabun

Pada awalnya, sabun tidak digunakan untuk mandi, melainkan untuk membersihkan barang-barang yang terbuat dari tanaman dan hewan. Dahulu masyarakat Mesir Kuno menggunakan campuran garam alkali dan minyak hewan untuk menyembuhkan penyakit kulit.

Dalam sejarahnya, sabun terbuat secara tidak sengaja dari lemak-lemak hewan yang bercampur dengan abu hasil pembakaran di Gunung Sapo. Gunung Sapo adalah gunung yang biasa dijadikan tempat untuk memotong hewan dalam sebuah upacara. Saat hujan, lemak-lemak hewan tersebut bercampur dengan abu kayu hasil dari pembakaran dan mengalir ke sungai Tiber yang berada di bawah gunung. Keduanya menghasilkan senyawa dan terbentuklah busa. Busa inilah yang membuat barang-barang yang dicuci menjadi lebih bersih. Sejak saat itulah orang-orang mulai memproduksi sabun dengan tujuan untuk mandi.

Kemudian pada abad ke-1 orang Romawi Kuno membuat sabun dengan mencampurkan ammonium karbonat yang terdapat dalam urin dengan minyak hewan. Ada pekerja khusus yang mengumpulkan urin tersebut untuk dijual ke para pembuat sabun.

Meskipun sudah dikenal, namun sabun masih menjadi barang asing bagi sebagian masyarakat di Eropa Tengah dan masih dianggap sebagai sesuatu yang istimewa. Sehingga badan orang Eropa Tengah bau karena juga jarang mandi.

Saat ini sudah banyak produsen sabun yang menyampurkan aroma parfum ke dalam sabun mereka. Tujuan pencampuran parfum ke dalam sabun tentunya agar tubuh menjadi harum sekaligus juga untuk menjaga kelembapan kulit.

Reporter: Intan Nadhira Safitri

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini