Sushi Pertama di Jepang Ternyata Bukan dari Ikan Mentah, Melainkan Ikan Fermentasi

Baca Juga

MATA INDONESIA, TOKYO – Sushi yang kita kenal saat ini berbentuk nasi gulung dengan berisi ikan salmon mentah dan topping di atasnya. Serta tambahan wasabi dan kecap asin sebagai pelengkap.

Ternyata sushi yang beredar saat ini adalah sushi cepat atau sebutannya hayazushi. Pertama kali pembuatan shushi ini di Edo (Tokyo)

Nah, justru sushi pertama itu bukanlah yang sekarang kita kenal. Sushi itu adalah Narezushi. Ini adalah sushi pertama di Jepang. Proses pembuatannya tidak instan seperti sekarang.

Bayangkan. Untuk membuat shuhi ini, ikan–ikan itu harus melalui proses fermentasi dengan cara pengawetan bersama nasi. Sekarang jenis makanan ini sudah jarang termasuk sulit mencarinya saat kita berkunjung ke Tokyo.

Satu-satunya jika ingin mencicipi Narezushi hanya ada di toko Kitashina. Toko ini terletak di kota kecil Jepang, Takashima.

Pemiliknya adalah keluarga Kitamura. Mereka telah membuatnya selama 18 generasi. Berdiri sejak tahun 1619. Saat ini penerusnya adalah Mariko Kitamura dan suaminya, Atsushi.

Toko Kitashina sudah berusia berabad-abad. Toko ini adalah satu dari segelintir tempat yang masih tersisa di Jepang, bahkan dunia.

Makan sushi pertama ini tentunya juga menyaksikan proses pembuatan sushi yang terbilang langka ini. Jika lazimnya kita melihat koki mengikis sisik ikan dengan pisau, melepaskan insangnya, lalu mengeluarkan jeroannya, di toko ini justru berbeda.

Para pegawai Kitashina akan mengemas ikan dengan garam. Melapisinya dalam bak kayu, menimbang tutupnya dengan 30 kg batu dan membiarkannya terjaga selama dua tahun.

Mereka mencuci bersih setiap setelah terpendam selama dua tahun. Setelah itu ikan-ikan ini di simpan di bawa terik matahari selama satu hari penuh. Kemudian mereka melakukan fermentasi dan setelah itu barulah para pegawai ini menghidangkannya ke meja tamu.

Koki dan pembuat sushi pertama ini tentunya adalah nenek moyang Kitamura, Kuemon Yamagataya. Sebelumnya ia pindah ke kota ini untuk membantu pemimpin militer Leyasu Tokugawa.

Karena keterampilan memasaknya yang enak, Tokugawa kemudian menunjuk ia dan keluarganya untuk menjadi koki kastil miliknya.

Sebenarnya sushi pertama ini bukanlah penemuan Kitamura. Ia mengambil resep yang sudah berusia ribuan tahun dari Cina. Ia mempelajari cara membuat makanan dengan metode pengawetan garam dan fermentasi ikan air tawar. Ia kemudian memadukannya dengan cara dia dan menyimpan makanan ini sesuai musim di Jepang. Teknik ini kemudian menyebar ke luar termasuk menjadi tren saat itu di ibu kota Jepang Kuno, Nara.

Banyak orang Jepang yang menyantap makanan ini karena sebagai sumber protein. Orang Jepang akhirnya menjadikan makanan ini sebagai makanan utama bersama nasi. Makanan ini juga menjadi makanan utama bersama sake di meja makan keluarga bangsawan dan samurai.

Persoalan Narezushi ini dengan sushi sekarang adalah soal ikan. Narezushi berasal dari semua ikan air tawar. Termasuk ikan loach kecil, ayu (ikan manis kecil), dan belut. Namun sushi sekarang justru lebih banyak menggunakan ikan laut.

Resep Rahasia Kitamura

Toko Kitashina menawarkan jenis narezushi yang berbeda dan jauh lebih langka. Mereka punya resep andalan, funazushi. Sesuai jenis ikannya yaitu funa (ikan mas).

Ikan mas asli untuk membuat funazushi oleh Kitashina adalah ikan mas Jepang (nigorobuna). Ini adalah spesies liar dan hanya ada di Danau Biwa, danau terbesar di Jepang dan salah satu danau tertua di dunia.

Saat ini, hanya ada lima toko di sekitar danau yang khusus membuat funazushi berkualitas tinggi. Namun, Kitashina lah yang membuat funazushi paling otentik dengan menggunakan nigorobuna dengan metode persiapan tertua dan paling tradisional.

Kini, funazushi telah menjadi makanan mewah di Jepang. Bahkan, Funazushi Kitashina sekarang muncul di menu beberapa ryotei (restoran tradisional Jepang kelas atas) paling eksklusif dan restoran top lainnya di Kyoto dan Tokyo.

Kitashina menjadi toko andalan untuk menyicipi funazushi karena rasanya yang lembut dan halus. Menurut Kitamura, itu sebagian berkat kakeknya yang terus berpegang teguh pada resep fermentasi panjang Kitashina yang berusia 400 tahun.

Reporter : Alyaa

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Taklimat Presiden Tegaskan Diplomasi Energi, Pemerintah Jaga Kedaulatan Pangan dan Stabilitas Harga BBM

Oleh: Arya Satrya WibisonoDi tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, pemerintah terus mempertegas arahkebijakan nasional untuk memastikan ketahanan energi dan pangan tetap terjaga. Salah satu buktikonkret dari ketahanan tersebut tercermin pada kebijakan pemerintah yang tetap menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah gejolak ekonomi global dan fluktuasi hargaenergi dunia. Langkah ini tidak hanya menunjukkan kapasitas negara dalam mengelola sektorenergi secara efektif, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam melindungi daya belimasyarakat serta menjaga stabilitas sektor pangan yang sangat bergantung pada distribusi danbiaya logistik. Dalam konteks ini, kebijakan pengendalian harga BBM menjadi bagian integral dari strategi besar pemerintah untuk meredam dampak krisis global sekaligus memperkuatfondasi kemandirian nasional.Dalam arahannya, Presiden menggarisbawahi bahwa pangan, energi, dan air merupakan tigapilar utama yang menentukan keselamatan suatu bangsa. Pandangan ini, sebagaimanadisampaikannya, telah lama diyakini dan diperjuangkan, bahkan sejalan dengan proyeksi global yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kerangka Sustainable Development Goals. Dengan demikian, langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan di ketiga sektor tersebuttidak hanya berbasis pada kebutuhan domestik, tetapi juga merujuk pada agenda pembangunanglobal yang telah mengantisipasi potensi krisis multidimensi.Taklimat yang disampaikan langsung kepada para menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselonI menjadi momentum penting dalam menyatukan persepsi seluruh elemen pemerintahan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang dijalankan memiliki arah yang selaras, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Di sektor energi, pemerintah menunjukkan langkah konkret melalui penguatan diplomasi dengannegara-negara sahabat. Presiden mengindikasikan bahwa kunjungan luar negeri yang dilakukannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi untukmengamankan pasokan energi nasional, khususnya minyak. Dalam situasi geopolitik yang penuhketidakpastian, pendekatan diplomasi aktif dinilai menjadi instrumen penting untuk menjagastabilitas energi dalam negeri.Diplomasi energi ini mencerminkan kesadaran pemerintah bahwa ketahanan energi tidak dapatsepenuhnya bergantung pada sumber daya domestik. Dibutuhkan jejaring kerja samainternasional yang kuat untuk memastikan keberlanjutan pasokan, sekaligus membuka peluanginvestasi dan transfer teknologi di sektor energi. Kunjungan ke berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Timur, menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam peta energiglobal.Di tengah gejolak harga energi dunia yang fluktuatif, pemerintah juga dinilai berhasil menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kebijakan ini mencerminkankeberpihakan pada daya beli masyarakat sekaligus menunjukkan kapasitas negara dalammeredam dampak langsung dari tekanan eksternal. Stabilitas harga BBM menjadi indikatorpenting bahwa strategi pengelolaan energi nasional berjalan efektif di tengah tekanan global yang tidak ringan.Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kombinasi kebijakan fiskal, penguatan subsidi yang tepat sasaran, serta hasil dari diplomasi energi yang memastikan pasokan tetap aman. Pemerintahsecara tidak langsung menunjukkan bahwa kendali terhadap sektor energi mampu dijaga denganbaik, sehingga gejolak global tidak serta-merta diteruskan ke masyarakat. Namun demikian, pemerintah tidak mengabaikan penguatan kapasitas dalam negeri. Upayamenuju swasembada energi terus didorong melalui berbagai program strategis, termasukoptimalisasi sumber daya alam dan pengembangan energi terbarukan. Langkah ini menunjukkanbahwa diplomasi internasional berjalan beriringan dengan penguatan fondasi domestik, sehinggaIndonesia memiliki ketahanan yang lebih kokoh dalam jangka panjang.Di sektor pangan, pemerintah juga menempatkan swasembada sebagai prioritas utama. Presidenmengisyaratkan bahwa upaya ini telah lama menjadi bagian dari gagasan besar yang kinidiwujudkan melalui program-program konkret. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan denganketersediaan produksi, tetapi juga distribusi, aksesibilitas, serta stabilitas harga yang harus dijagasecara berkelanjutan.Sementara itu, sektor air sebagai salah satu pilar penting dinilai memiliki potensi besar di Indonesia. Pemerintah melihat bahwa secara umum ketersediaan air masih relatif mencukupi, meskipun terdapat tantangan di beberapa wilayah, khususnya di Indonesia timur. Permasalahanutama lebih banyak terletak pada aspek pengelolaan dan kerusakan lingkungan, sepertideforestasi yang berdampak pada berkurangnya daya serap air.Dalam perspektif ini, pemerintah menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungansebagai bagian integral dari strategi ketahanan nasional. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan bahwa potensi yang dimiliki Indonesia dapatdimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan generasi mendatang. Dengan pendekatan yang tepat, tantangan terkait ketersediaan air diyakini dapat diatasi.Lebih jauh, taklimat Presiden juga menjadi ruang untuk menyampaikan optimisme terhadapmasa depan Indonesia. Pemerintah meyakini bahwa di tengah berbagai krisis global, Indonesia justru memiliki peluang untuk tampil sebagai negara yang relatif stabil dan tangguh. Keyakinanini didasarkan pada kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik yang strategis, serta kebijakanyang diarahkan pada penguatan kemandirian nasional.Pendekatan yang mengombinasikan penguatan domestik dan diplomasi internasionalmenunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bersikap reaktif terhadap krisis, tetapi juga proaktifdalam membangun ketahanan jangka panjang. Diplomasi dengan negara sahabat menjadijembatan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global, sekaligus memastikan kebutuhannasional tetap terpenuhi.*) Analis Diplomasi Energi dan Pembangunan Berkelanjutan
- Advertisement -

Baca berita yang ini