Selain Inca, 4 Kerajaan Ini Pernah Ada di Amerika Selatan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Selama ini, kerajaan di Amerika Selatan yang paling santer terdengar adalah Kerajaan Inca. Namun sebelum eksistensi Kerajaan Inca, ada beberapa kerajaan yang lebih dulu muncul di Amerika Selatan,. Kerajaan itu adalah Tiwanaku, Wari, Chimor, dan Kerajaan Aymara. Berikut penjelasannya.

  1. Tiwanaku

Kerajaan ini berdiri sejak abad ke-4, yakni sejak tahun 300 – 1150. Lokasinya berada di sekitar Danau Titicaca, yang membentang dari Peru hingga ke Chile.

Di masa eksistensinya, kerajaan ini terkenal akan arsitektur dan seninya yang membawa pengaruh besar terhadap bangsa-bangsa penguasa selanjutnya. Seperti Kalasasaya, salah satu mahakarya dari kerajaan ini yang amat terkenal dan disegani.

Kalasasaya
Kalasasaya

Pada dasarnya, Kalasasaya adalah sebuah kompleks luas yang memang sengaja berfungsi untuk ruang publik dan tempat untuk melangsungkan ritual keagamaan.

Kemajuan dari bangsa ini dapat terlihat dari berbagai ukiran batu berlukis yang dihasilkan oleh para pengrajin dan kemampuannya dalam memotong batu raksasa yang begitu rapi dan presisi. Tak hanya itu, para pengrajin di sini juga menghasilkan banyak karya lainnya, seperti patung, tembikar, tekstil berornamen, hingga perhiasan.

Sebelum resmi berakhir, Kerajaan Tiwanaku mendapat serangan dari Kerajaan Aymara. Tak lama kemudian, kerajaan ini benar-benar berakhir karena dilanda kekeringan yang parah di tahun 1150.

Reruntuhan kota kuno Tiwanaku dapat ditemui di sekitar pesisir tenggara Danau Titicaca di Munisipalitas Tiwanaku, Provinsi Ingavi, Departemen La Paz, sekitar 72 km sebelah barat kota La Paz.

  1. Kerajaan Wari

Terletak di wilayah Pegunungan Peru dan berdiri sejak tahun 500 – 1100. Kerajaan ini memiliki sistem ekonomi yang stabil, pertanian yang maju, dan militer yang kuat. Itulah yang menjadi sebab mengapa kerajaan ini mampu memperluas wilayah kekuasannya.

Pikillacta
Pikillacta

Adapun ibu kota dari kerajaan ini adalah Huari, sebuah kota subur nan Makmur, yang menjadi pusat perhiasan dan kerajinan keramik. Tak hanya itu, Huari juga menjadi pusat perdagangan beraneka macam kerang, seperti kerang moluska dan spondylus.

Di tahun 1100, kerajaan ini harus berakhir lantaran musim kering yang panjang dan yang perpecahan wilayah. Adapun peninggalan Kerajaan Wari yang paling penting adalah Pikillacta.

  1. Kerajaan Chimor

Terletak di sekitar pantai utara Peru, Kerajaan Chimor berdiri sejak tahun 850 – 1470. Kerajaan ini menjadi kerajaan terbesar di akhir periode menengah.

Di masa kejayaannya, kerajaan ini memiliki wilayah seluas 1.300 kilometer persegi, dengan sistem pertanian yang maju dan militer yang tangguh.

Adapun ibu kota dari kerajaan ini adalah Chan Chan, sebuah kota Makmur yang menjadi pusat kesenian dan perdagangan terbesar pada masanya. Di kota ini, para produsen perhiasan menggunakan barang-barang berharga seperti emas, perak, zamrud, batu ambar, hingga cangkang kerang.

Kota ini juga menjadi tempat bagi pengrajin patung-patung berfigur manusia yang terbuat dari kayu.

Sayangnya, kerajaan ini harus berakhir di tahun 1470 akibat serangan dari Kerajaan Inca. Meski begitu, gaya arsitektur, seni, dan budaya khas Chimor ini memiliki masa eksis yang lebih panjang karena Kerajaan Inca mengadopsi budaya mereka.

  1. Kerajaan Aymara

Kerajaan ini adalah salah satu bangsa besar asli yang ada di Amerika Selatan. Berdiri sejak tahun 1150 – 1477, kerajaan ini berlokasinya di Dataran Tinggi Altiplano, dekat dengan Danau Titicaca.

Pada dasarnya, suku-suku yang tinggal di wilayah ini membentuk kerajaan kecil, hingga terciptalah Kerajaan Aymara. Dan umumnya, masyarakat dari kerajaan ini memiliki mata pencaharian utama sebagai peternak alpaca dan ilama.

Mereka juga menjadi petani jagung, kentang, gandum, kacang-kacangan, barley, dan ullucu.

Kerajaan ini resmi berakhir pada tahun 1477, namun meski begitu bahasa dan budayanya masih bertahan hingga kini. Kemudian, kerajaan ini juga memiliki peninggalan Chullpas de Sillustani yang berada di Peru.

Chullpas de Sillustani adalah pemakaman suku kuno yang terbuat dari batu dan tanah liat. Adapun ukuran berkisar dua hingga empat meter, namun ada pula yang mencapai 12 meter.

Reporter: Intan Nadhira Safitri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Penguatan Resiliensi Media Dukung Ketahanan Nasional di Ruang Digital

Oleh: Nazira Billa Putri )*Transformasi digital telah membuka peluang besar bagi masyarakat untukmemperoleh informasi secara cepat dan luas. Di sisi lain, perkembangantersebut juga memunculkan tantangan berupa penyebaran hoaks, misinformasi, dan disinformasi yang semakin sulit dibedakan dariinformasi yang benar. Dalam situasi seperti ini, penguatan resiliensi media menjadi faktor penting untuk mendukung ketahanan nasional di ruangdigital sekaligus menjaga kualitas informasi yang diterima masyarakat.Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam membangunekosistem informasi yang sehat melalui penguatan peran media danpeningkatan kualitas layanan digital. Langkah tersebut menjadi bagiandari strategi nasional untuk memastikan ruang digital Indonesia tetapmenjadi sarana yang aman, produktif, dan mampu memperkuat persatuanbangsa di tengah derasnya arus informasi global.Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasidan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan bahwa pers memiliki posisistrategis sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi hoaks dandisinformasi. Menurutnya, media yang menjalankan fungsi jurnalistiksecara profesional menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitasinformasi yang beredar di tengah masyarakat.Fifi menilai kecepatan perkembangan teknologi tidak boleh mengurangikomitmen terhadap akurasi informasi. Karena itu, pemerintah bersamainsan pers memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiapproduk jurnalistik tetap mengedepankan kepentingan publik sertamemberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Pendekatan tersebutmenjadi semakin penting ketika ruang digital dipenuhi arus informasi yang bergerak sangat cepat dan tidak seluruhnya melalui proses verifikasi.Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat,yang menilai pers tetap menjadi kebutuhan penting masyarakat di tengahledakan informasi digital. Menurutnya, informasi kini telah menjadikebutuhan mendasar sehingga masyarakat membutuhkan sumberinformasi yang dapat dipercaya sebagai rujukan dalam memahamiberbagai peristiwa.Di tengah meningkatnya volume informasi, keberadaan media profesionalmenjadi penentu kualitas ruang publik. Media yang mengedepankanprinsip verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab sosial akanmemperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus mengurangi ruang bagiberkembangnya informasi yang menyesatkan.Upaya memperkuat ketahanan informasi juga didukung melalui berbagaiinovasi digital yang dikembangkan pemerintah. Pengakuan internasionalterhadap tiga inovasi Indonesia dalam ajang World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026 menjadi bukti bahwa transformasidigital nasional semakin mampu menghadirkan solusi yang bermanfaatbagi masyarakat.Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai pencapaiantersebut menunjukkan kualitas inovasi digital...
- Advertisement -

Baca berita yang ini