Ramalan Sebut Indonesia Akan Alami Masa Keemasan Tahun 2022

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pergantian tahun hanya tinggal menghitung hari. Beberapa paranormal memprediksi hal-hal yang akan terjadi di tahun 2022. Salah satunya adalah Ramalan Jayabaya.

Ramalan Jayabaya atau biasa disebut dengan Jangka Jayabaya adalah sebuah ramalan dalam tradisi jawa. Sementara Jawabaya diambil dari nama raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri sekitar tahun 1135 hingga 1157 M.

Ramalan Jayabaya yang diprediksi untuk tahun 2022 adalah Ramalan-7. Dalam ramalan ini, Indonesia diprediksi akan mendapatkan masa keemasan.

Hal ini digambarkan dengan Tikus Putih Hanongko Baris pada Ramalan ke-7 tersebut. Bisa diisyaratkan bahwa tikus adalah kalangan kecil, sementara putih merupakan simbol dari kesucian, kebenaran, serta ketulusan.

Untuk itu, dapat diartikan Tikus Putih Hanongko Baris sebagai rakyat kecil yang bersatu untuk menghancurkan kezaliman yang merajalela. Ramalan ke-7 ini dimuat dalam syair “Wong Jowo kari separo, Wong Cino kari sejodo, Wong Londo gulung gulung”.

Melihat situasi yang mendekati Indonesia saat ini, Ramalan Jayabaya tersebut mungkin saja bisa terjadi.

Ramalan Jayabaya terjadi sebagai pemicu dari adanya sebuah istilah “Hukum yang lebih tajam ke bawah dan tumpul ke atas”. Diprediksi, rakyat kecil akan bersatu untuk meruntuhkan kekuasaan yang tidak adil.

Banyak kasus yang disebabkan oleh para petinggi serta petugas negara, namun tidak dapat benar-benar terselesaikan dengan baik. Beberapa di antaranya bahkan diabaikan sehingga tidak ditindaklanjuti. Sedangkan kasus-kasus kecil justru ditangani dengan serius.

Rakyat kecil di sini yang nantinya akan berperan penting untuk menegakkan keadilan di Indonesia. Namun begitu, Ramalan Jayabaya hanyalah sebuah prediksi yang tidak dapat dipastikan keakuratannya. Pergantian tahun 2022 yang akan menjadi ajang pembuktiannya.

Reporter: Sheila Permatasari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kehadiran Taruna Akmil di Sekolah Rakyat Bersifat Pendampingan Karakter

Oleh: Dhita Karuniawati )*Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah merupakan salah satu upaya strategis untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluargakurang mampu. Tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan akademik, Sekolah Rakyat juga dirancang sebagai lingkungan pendidikan berasrama yang menekankan pembentukan karakter, kemandirian, serta pembiasaan hidup disiplin. Dalam konteks tersebut, rencana pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) mendapatperhatian publik. Meski sempat memunculkan beragam persepsi, pemerintahmenegaskan bahwa kehadiran para taruna bukan untuk menghadirkan pendidikanbergaya militer, melainkan sebagai pendamping dalam proses pembentukan karakterpeserta didik. Karakter menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusiaIndonesia yang unggul. Kemampuan akademik yang baik akan lebih optimal apabiladiiringi dengan sikap disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, sertakemampuan beradaptasi. Nilai-nilai tersebut tidak selalu dapat dibentuk melalui proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi siswa yang tinggal di lingkungan asrama.Model pendidikan berasrama memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sekolahreguler. Para siswa dituntut mampu mengatur aktivitas harian secara mandiri, mulai darimenjaga kebersihan diri, merapikan tempat tidur, mengelola perlengkapan pribadi, hingga membangun kebiasaan hidup tertib sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pada masa awal tinggal di asrama, proses adaptasi sering kali menjadi tantangan tersendirikarena siswa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berbeda darikehidupan di rumah.Dalam konteks ini pemerintah memandang pengalaman hidup para taruna Akmil dapatmemberikan teladan yang relevan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwapelibatan taruna merupakan inisiatif Kementerian Sosial untuk mendukung proses pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat yang sama-sama menjalani pendidikanberasrama. Menurutnya, para taruna diharapkan mampu memberikan contohsederhana mengenai bagaimana menjalani kehidupan yang tertib, disiplin, dan mandiri, seperti membiasakan bangun pagi, merapikan tempat tidur, menjaga perlengkapanpribadi, menggunakan seragam dengan baik, serta membangun kebiasaan hidup yang teratur. Ia juga menegaskan bahwa tidak terdapat agenda latihan fisik militersebagaimana yang sempat dikhawatirkan sebagian masyarakat. Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa orientasi program bukan membentuk siswamenjadi taruna ataupun mengenalkan pendidikan militer kepada anak-anak. Sebaliknya, pemerintah ingin memanfaatkan pengalaman praktis yang dimiliki para taruna dalam menjalani kehidupan berasrama agar dapat menjadi contoh positif bagisiswa yang sedang memasuki fase adaptasi.Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan bahwa para taruna tidak akanmengambil alih peran guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurutnya, fungsi utama mereka adalah menjadi pendamping kehidupan asrama selama beberapahari agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara nyamansekaligus membangun kebiasaan hidup mandiri. Ia juga menjelaskan bahwapendampingan tersebut mencakup pembinaan terhadap budaya saling menghormatidan pencegahan berbagai bentuk kekerasan maupun perundungan antarsiswa. Kehadiran pendamping yang memahami dinamika kehidupan asrama memang memilikinilai strategis. Pengalaman menunjukkan bahwa masa transisi menuju kehidupanberasrama sering menjadi periode yang cukup menantang bagi peserta didik. Merekatidak hanya harus beradaptasi dengan jadwal kegiatan yang lebih teratur, tetapi juga belajar hidup bersama teman-teman dari latar belakang yang beragam. Pendampingyang memiliki pengalaman serupa dapat membantu siswa melalui proses tersebutdengan pendekatan yang lebih mudah dipahami.Program pendampingan ini juga bersifat terbatas. Pemerintah menjelaskan bahwasekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini