Pemerintah Pacu Pertumbuhan Ekonomi Nasional Sesuai Tuntutan 17+8

Baca Juga

Oleh : Antonius Utomo

Di tengah berbagai tantangan global dan dinamika politik dalam negeri pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secarainklusif dan berkelanjutan selaras dengan semangat tuntutan 17+8 yang digaungkan olehberbagai elemen masyarakat sebagai cerminan harapan kolektif akan masa depan yang lebih adilsejahtera dan penuh kepastian

Pemerintah tidak menanggapi tuntutan tersebut secara reaktif melainkan menjadikannya bahanintrospeksi dan inspirasi untuk memperkuat fondasi kebijakan ekonomi agar tidak hanyamengejar pertumbuhan angka semata namun juga menghadirkan pertumbuhan yang berkualitasyang menyentuh langsung kehidupan rakyat banyak dari petani di desa-desa hingga pelakuUMKM di kota-kota besar semua dipandang sebagai bagian penting dari motor penggerakbangsa.

Menteri Keuangan (Menkeu) menanggapi tuntutan rakyat 17+8 yang belakangan ini disuarakan masyarakat. Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah bergerak ke arah 8 persen. Sehingga, dirinya akan berusaha bergerak secepat mungkinuntuk mengoptimalkan perekonomian domestik.

Saat ini perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah tekananeksternal seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan ketidakpastian pasar global bahkan hinggakuartal III 2025 pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di kisaran positif yaitu sekitar 5,12 persen year on year yang menandakan adanya optimisme yang tumbuh di tengah masyarakatdunia usaha dan kalangan investor

Pemerintah telah menyadari bahwa akselerasi pertumbuhan tidak bisa hanya mengandalkansektor konsumsi semata oleh karena itu kebijakan didorong untuk memperkuat sektor produksiindustri pengolahan hilirisasi sumber daya alam serta peningkatan investasi baik dalam dan luarnegeri salah satu contohnya adalah keberhasilan Indonesia dalam mendorong pengembanganindustri kendaraan listrik dan baterai yang kini mulai menunjukkan dampak nyata terhadapserapan tenaga kerja dan nilai ekspor nasional

Dalam konteks tuntutan 17+8 isu upah layak dan perlindungan pekerja menjadi perhatian khususpemerintah melalui koordinasi lintas kementerian seperti Kementerian KetenagakerjaanKementerian Perindustrian dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dilakukanpembahasan intensif untuk memastikan bahwa kebijakan pengupahan yang akan diterapkanmencerminkan keadilan serta keberlanjutan dunia usaha selain itu program dialog sosial antarapekerja pengusaha dan pemerintah terus diperkuat agar tercipta hubungan industrial yang harmonis dan produktif

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa indikatormakroekonomi di Indonesia dalam kondisi baik. Ia menambahkan bahwa setelah sempatmenurun tipis, pasar modal kini telah kembali pulih. Tuntutan “17+8” yang disuarakan olehmasyarakat ini mencakup berbagai isu, termasuk sektor ekonomi.

Di sisi fiskal pemerintah telah menggelontorkan stimulus senilai lebih dari 24 triliun rupiah padapertengahan tahun 2025 sebagai langkah konkret untuk mendukung sektor strategis sepertipertanian pariwisata energi baru terbarukan dan transformasi digital semua ini ditujukan agar masyarakat terutama pelaku ekonomi kecil dan menengah tidak hanya bertahan tetapi jugatumbuh dan berkembang di tengah tantangan ekonomi

Pemerintah juga tidak lupa untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dankeberlanjutan lingkungan konsep ekonomi hijau menjadi bagian dari perencanaan pembangunannasional termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029 pemerintah mendorong investasi pada energi bersih pertanian ramah lingkungan sertapengelolaan limbah yang lebih terintegrasi dan modern hal ini menjawab harapan generasi mudadan komunitas lingkungan yang menjadi bagian dari tuntutan perubahan dalam 17+8

Dalam bidang infrastruktur pembangunan tidak hanya difokuskan pada kota besar tetapi jugapada kawasan tertinggal dan perbatasan jalan tol pelabuhan bandara dan jaringan kereta api terusdiperluas guna mendorong konektivitas antarwilayah yang pada akhirnya membuka aksesekonomi baru meningkatkan distribusi barang dan jasa serta mempercepat perputaran uang di daerah

Lebih lanjut pemerintah juga menunjukkan komitmen terhadap penguatan jaring pengamansosial sebagai upaya untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pembangunan program bantuan sosial pendidikan gratis layanan kesehatan universal dan jaminansosial diperluas cakupannya agar seluruh lapisan masyarakat merasakan kehadiran negara secaranyata

Tidak kalah penting adalah upaya pemerintah dalam mendorong reformasi birokrasi danpenguatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan pelayanan publik terus diperbaikimelalui digitalisasi proses perizinan dipercepat pengawasan keuangan diperketat dan partisipasimasyarakat dalam perencanaan pembangunan semakin dilibatkan semua ini dilakukan agar kepercayaan publik terhadap institusi negara tetap tinggi sekaligus menjawab tuntutanmasyarakat yang menginginkan pemerintahan yang lebih akuntabel dan responsif

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pemerintah saat ini tidak hanya berupaya memacupertumbuhan ekonomi secara teknokratis tetapi juga dengan pendekatan yang lebih humanismendengar dan menampung aspirasi rakyat menjadikan kritik sebagai bahan pembelajaran danmenyesuaikan arah kebijakan dengan kebutuhan nyata di lapangan termasuk yang terumuskandalam 17+8

Seluruh masyarakat memiliki peran dalam proses ini pemerintah sebagai nahkoda rakyat sebagaienergi pendorong dan generasi muda sebagai penerus yang membawa nilai-nilai baru dan ide-ide segar untuk menjadikan negeri ini lebih hebat dan tangguh menghadapi masa depan.

)*Pengamat Ekonomi Nasional

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini