Oleh: Julius Wentipo
Aksi kekerasan kembali terjadi di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, ketika kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilaporkan menembaki dua unit mobil warga sipil dan membakar gedung SMA Negeri II Kuaserama. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa kelompok tersebut terus melakukan teror yang menyasar masyarakat dan fasilitas publik. Tindakan pembakaran sekolah serta penembakan kendaraan sipil dinilai sebagai bentuk kekejaman yang tidak dapat dibenarkan, karena mengancam keselamatan warga dan merusak sarana pendidikan yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda Papua.
Sayap militer OPM dilaporkan melancarkan serangan senjata api terhadap dua unit mobil warga sipil pada Sabtu. Informasi tersebut disertai siaran pers yang dilengkapi beberapa video dan foto. Dalam rekaman berdurasi kurang dari dua menit terlihat seorang kombatan bertelanjang dada, khas kelompok tersebut, membidikkan senjata laras panjang dari balik semak belukar sebelum melepaskan tembakan. Adegan itu menunjukkan bahwa aksi dilakukan secara sengaja untuk menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat yang melintas di wilayah tersebut.
Kelompok tersebut juga merekam insiden terbakarnya gedung SMA Negeri II Kuaserama. Dalam dokumentasi yang beredar, tampak beberapa ruang kelas dalam satu deretan terbakar pada bagian atap. Api berkobar dan asap hitam mengepul sepanjang bangunan sekolah. Tidak adanya aktivitas belajar mengajar saat kejadian membuat tidak ada pelajar maupun guru yang berada di lokasi. Namun, kerusakan fasilitas pendidikan tetap menjadi kerugian besar bagi masyarakat setempat. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan membangun masa depan generasi muda justru menjadi sasaran aksi kekerasan.
Foto lain memperlihatkan dua kendaraan sipil berwarna merah dan hitam menjadi sasaran tembak. Serangan terhadap kendaraan masyarakat menunjukkan bahwa kelompok tersebut tidak segan menyasar warga sipil. Situasi ini berpotensi menimbulkan rasa takut dalam aktivitas sehari-hari, terutama bagi warga yang harus melakukan perjalanan antarwilayah. Ancaman terhadap masyarakat sipil tersebut juga memperlihatkan bahwa kelompok bersenjata tersebut tidak memperhitungkan keselamatan warga.
Informasi yang beredar juga menyebutkan bahwa OPM menyiagakan pasukannya di puluhan distrik dan ratusan kampung. Kelompok tersebut bahkan menyebut Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, sebagai target tembak mati. Ancaman tersebut dikaitkan dengan dukungan pemerintah daerah terhadap kunjungan kerja Wakil Presiden beberapa waktu lalu di wilayah Yahukimo. Selain itu, kelompok tersebut menyerukan agar pengemudi membuka kaca jendela kendaraan apabila ingin selamat. Pernyataan tersebut dinilai sebagai bentuk intimidasi yang menimbulkan ketidakpastian dan meningkatkan ketegangan di tengah masyarakat.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol (Inf) Wirya Arthadiguna menyatakan bahwa TNI mengecam pembakaran dan penembakan tersebut dan akan mengambil langkah lanjutan. “Koops TNI Habema akan berkoordinasi dengan Polri dan melakukan pengejaran terhadap kelompok OPM yang terlibat dalam penembakan ini,” kata Wirya. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen aparat untuk menindak tegas pelaku kekerasan yang mengancam masyarakat sipil.
Wirya mengatakan, saat ini aparat gabungan TNI-Polri tengah mengejar pelaku yang diduga melarikan diri ke wilayah hutan. Upaya pengejaran dilakukan secara terkoordinasi dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat sekitar. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada serta tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, sembari memastikan pengamanan di Papua Pegunungan terus diperkuat. Langkah tersebut menunjukkan bahwa aparat keamanan berupaya menjaga stabilitas situasi sekaligus mencegah eskalasi lebih lanjut.
Koops TNI Habema juga menyatakan bahwa insiden tersebut menambah daftar panjang kekejaman OPM yang menyasar warga sipil di wilayah Papua Pegunungan. Dalam sejumlah kejadian sebelumnya, kelompok tersebut dilaporkan menyerang aparatur sipil negara, tenaga kesehatan, guru, serta pekerja pendatang. Pola kekerasan yang berulang tersebut memperlihatkan bahwa kelompok bersenjata tersebut tidak hanya menargetkan aparat keamanan, tetapi juga masyarakat umum dan fasilitas publik.
Kepala Satuan Tugas Hubungan Masyarakat Operasi Damai Cartenz 2026 Komisaris Besar Yusuf Sutejo mengatakan bahwa polisi sebelumnya telah lebih dulu memantau pergerakan pelaku. “Penindakan dilakukan melalui proses yang terukur,” ucap Yusuf. Pernyataan ini menegaskan bahwa langkah aparat dilakukan secara profesional dan berdasarkan perencanaan yang matang, sehingga penegakan hukum dapat berjalan efektif tanpa membahayakan masyarakat.
Pembakaran sekolah di Yahukimo menjadi pukulan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan di Papua. Fasilitas pendidikan merupakan fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia. Ketika sekolah dibakar, dampaknya tidak hanya pada kerusakan fisik, tetapi juga pada tertundanya proses belajar mengajar. Anak-anak kehilangan ruang belajar, sementara guru harus menyesuaikan kembali kegiatan pendidikan. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Serangan terhadap kendaraan sipil juga menimbulkan dampak sosial yang signifikan. Mobilitas masyarakat menjadi terganggu karena meningkatnya kekhawatiran akan keselamatan. Aktivitas ekonomi, distribusi barang, serta pelayanan publik dapat terdampak jika rasa takut terus berkembang. Oleh karena itu, kehadiran aparat keamanan untuk memastikan kondisi tetap kondusif menjadi sangat penting.
Langkah sinergis antara TNI dan Polri dalam melakukan pengejaran terhadap pelaku diharapkan dapat segera memulihkan rasa aman. Upaya pengamanan yang diperkuat juga menjadi bagian penting untuk memastikan aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Keamanan yang terjaga akan mendukung keberlanjutan pembangunan, termasuk sektor pendidikan yang menjadi korban langsung dalam insiden ini.
Sebagai penutup, kekejaman berupa pembakaran sekolah dan penembakan kendaraan sipil harus dikutuk secara tegas. Tindakan tersebut tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga menghambat masa depan generasi muda Papua. Dukungan terhadap langkah TNI dan Polri dalam operasi penegakan hukum menjadi penting untuk memastikan keamanan dan stabilitas tetap terjaga. Dengan kebersamaan seluruh elemen masyarakat dan komitmen aparat, harapan akan Papua yang damai, aman, dan sejahtera dapat terus diwujudkan.
(* Penulis merupkan anggota Aliansi Masyarakat Papua Cinta Damai

