Ketika Pesawat  Take Off dari Landasan Ekonomi Indonesia yang Stabil

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Percepatan pemulihan dunia penerbangan di Indonesia diperkirakan  memperoleh momentumnya di tahun 2023. Itu berarti proses pemulihannya berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan.

Demikian kesimpulan yang bisa dipetik dari berbagai pihak yang paham betul tentang dunia penerbangan di Indonesia.

Menjelang akhir tahun 2022, ancang-ancang pemulihan dunia penerbangan sudah dihembuskan oleh berbagai pihak. Indonesia National Air Carriers Association (INACA), misalnya,  sudah menargetkan pemulihan sektor penerbangan domestik pada 2023, sedangkan untuk rute internasional pada 2024.

Sikap optimis berbagai kalangan atas percepatan pemulihan dunia penerbangan di Indonesia, patut melegakan bisnis dunia penerbangan dalam negeri.

“Buat negara kepulauan sebesar Indonesia,  dunia penerbangan akan tergantung pada bagaimana geliat ekonomi berlangsung,” kata Rizzy Al Ghifari, 47, pengusaha garment.

Dan Rizzy, yang tergolong sering wara-wiri antar daerah di Indonesia,  melihat pemerintah bisa dibilang cukup gesit dalam menjaga ketangguhan stabilitas ekonomi. Maka dari itu ia optimis jika  tahun 2023, bisa menjadi momentum pemulihan dunia penerbangan di Indonesia.

Kalau dilihat dari sejumlah pandangan yang diperoleh Minews, Rizzy sepertinya tidak sendirian. Pendapat senada juga dikemukakan berbagai pihak.

Haryanto Cahyo, 40, pengusaha asal Jawa Tengah, berpandangan sama. Ia mengatakan bahwa keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonominya, merupakan modal besar bagi denyut dunia penerbangan.

Memang kembang kempisnya bisnis penerbangan hari ini, tak bisa dilepaskan dari berbagai berbagai hal. Sejumlah kalangan sepakat bahwa kunci utamanya ada pada ketangguhan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi.

Setidaknya, pada saat ini, ketika  ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Indonesia masih bisa memacu pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada tahun 2022, dan tahun 2023, -diproyeksikan tetap berada pada angka 5,0 persen.

Selain terkait dengan ikhwal pertumbuhan ekonomi, Harus juga diakui bahwa Pemerintah  memang berupaya sekuat tenaga untuk kembali memulihkan dunia penerbangan dari keterpurukannya di masa pandemic Covid 19.

Bahkan  Presiden Jokowi sampai meminta kepada pemerintah daerah (pemda) untuk mensubsidi penerbangan domestik agar industri penerbangan RI bisa segera pulih.

Di luar kebijakan di ruang ekonomi, tak bisa dipungkiri juga, keberhasilan pemerintah melakukan berbagai langkah terobosan dalam melakukan vaksinasi, cukup signifikan pengaruhnya bagi percepatan pemulihan dunia penerbangan di Indonesia.

Data  peningkatan jumlah penumpang dari Badan Pusat Statistik (BPS), mungkin bisa dijadikan pertimbangan, untuk melihat bagaimana  angkutan udara domestik dan internasional semenjak Oktober 2022 mengalami peningkatan.

Jumlah penumpang pada Oktober 2022 sudah tercatat sebanyak 4,57 juta orang, berarti tumbuh 56,57 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, pada angkutan udara internasional naik  ke angka 990.000 penumpang  dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dalam sebuah kesempatan di akhir tahun 2022, sikap optimisme pemulihan penerbangan di Bandara bandara Indonesia, juga dikemukakan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.

Saat itu Budi menyampaikan perbandingan antara kondisi penerbangan 2019 dengan sekarang. Kata Budi, penerbangan dalam negeri saat ini sudah mencapai 71 persen. Bahkan, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten sudah mencapai tingkat pemulihan 90 persen.

Dengan pertimbangan itu semua, percepatan pemulihan dunia penerbangan sepertinya sudah menemukan momentumnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini