Kebijakan Pemusnahan Kelelawar di Tengah Pandemi Covid-19 Dinilai Keliru

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pemerintah Kota Solo telah memusnahkan ratusan spesies kelelawar dan ikan kod di Pasar Hewan di Depok, Solo, Jawa Tengah. Mereka khawatir mamalia terbang itu adalah hewan yang menularkan virus corona.

Begitu peristiwa itu terjadi di Solo, ratusan kelelawar dibunuh oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa. Sedikitnya 193 kelelawar dan codot dimusnahkan di lahan kosong sebelah utara Pasar Depok.

Sebelum kepunahan, kelelawar dan kodot dibius sampai pingsan. Perhatian publik terhadap kelelawar sebagai asal mula virus corona ini sudah muncul setidaknya sejak studi genomik Proximal Origin SARS-CoV-2 diterbitkan dalam Journal of Nature Medicine pada 17 Maret 2020.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa RaTG13 yang diekstraksi dari sampel feses Rhinolophus affinis bat1 adalah 96 persen identik dengan SARS-CoV-2. Namun, para peneliti mencatat bahwa puncak yang menyimpang dalam domain pengikatan reseptor menunjukkan bahwa mereka mungkin tidak mengikat secara efisien ke enzim pengubah angiotensin, yang merupakan titik masuk virus ke dalam tubuh manusia.

Para peneliti masih belum bisa menyimpulkan mekanisme pasti mutasi SARS-CoV-2 pada manusia. Teori tentang asal usul SARS-CoV-2 hanya dapat dijelaskan dalam dua skenario. Pertama, virus menyebar dari hewan ke manusia di pasar satwa liar di Wuhan, Cina, pada akhir 2019. Skenario ini disebut seleksi alam pada inang hewan sebelum penularan zoonosis.

Skenario kedua disebut seleksi alam pada manusia setelah transmisi zoonosis. Ada kemungkinan bahwa pendahulu SARS-CoV-2 melompat pada manusia, memperoleh fitur genom melalui adaptasi selama transmisi yang tidak terdeteksi, dan kemudian menyebabkan penularan dari manusia ke manusia dalam jangka waktu yang lama.

Akan tetapi, pertanyaan tersebut belum sepenuhnya terjawab, beberapa pihak mengambil langkah untuk memberantas kelelawar tersebut.

Kebijakan salah arah

Tindakan-tindakan seperti inilah yang –menurut Peter Alagona, Profesor Ilmu Lingkungan dari Universitas California— salah arah. Kita perlu mengenal lebih jauh tentang kelelawar sebelum menyalahkannya atas pandemi yang kini terjadi. Kelelawar pada dasarnya bukanlah hewan yang agresif. Koloni kelelawar cenderung menghindari manusia. Mereka mencari makan di malam hari dan tinggal di gua-gua gelap yang jauh dari jangkauan manusia.

Keistimewaan kelelawar adalah merupakan satu-satunya mamalia tersisa yang bisa terbang dan satu-satunya mamalia yang mempunyai kemampuan ekolokasi. Kelelawar dinilai sebagai “spesies kunci” yang penting untuk beberapa ekosistem tropis dan gurun.

Tanpa penyerbukan kelelawar dan layanan penyebaran benih, ekosistem lokal dapat secara bertahap runtuh karena tanaman gagal menyediakan makanan dan penutup untuk spesies satwa liar di dekat pangkal rantai makanan.

Sebagai contoh, tahukah Anda tentang pohon yang sangat langka dan unik yang disebut Baobab?

Bentuk batangnya besar seperti drum, tinggi menjulang, mengecil drastis pada dahan. Usia Baobab bisa mencapai 1.000 tahun dan keberadannya sangat penting untuk kelangsungan hidup begitu banyak spesies liar di sabana, sehingga sering disebut “Pohon Kehidupan Afrika.”

Baobab begitu tergantung secara eksklusif pada kelelawar untuk penyerbukan. Tanpa kelelawar, “Pohon Kehidupan Afrika” bisa mati, mengancam salah satu ekosistem terkaya di planet kita.

Dalam tulisan The evolution of bat pollination: a phylogenetic perspective yang diterbitkan Jurnal Annals of Botany (Oxford Academic, 2009) diterangkan bahwa pada habitat tropis yang sangat terfragmentasi, kelelawar nektar memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan genetik populasi tanaman dan karenanya memiliki nilai konservasi yang cukup besar.

Kelelawar membantu penyerbukan sebanyak 528 spesies Angiospermae atau tumbuhan berbiji tertutup (memiliki biji yang dilindungi oleh daun buah serta memiliki bunga yang digunakan sebagai alat untuk perkembangbiakan).

Sebagian besar tanaman berbunga tidak dapat menghasilkan biji dan buah tanpa penyerbukan –proses memindahkan serbuk sari dari bagian jantan bunga (benang sari) ke bagian betina (putik). Proses ini juga meningkatkan keragaman genetik tanaman yang diserbuki silang.

Kelelawar yang minum nektar manis di dalam bunga mengambil serbuk sari dan memindahkannya ke bunga lain saat mereka makan. Selain itu kelelawar juga berperan dalam pengendalian hama. Kelelawar pemakan serangga adalah predator utama serangga terbang malam, dan banyak hama yang sangat merusak ada di menu mereka.

Menurut penelitian oleh Bat Conservation International, jutaan kelelawar di Bracken Bat Cave, Texas memakan banyak serangga setiap malam musim panas. Target pilihan mereka di Amerika Serikat dan Meksiko adalah hama yang sangat merusak yang disebut earworm, yang menyerang sejumlah tanaman komersial.

Secara global, kerusakan tanaman dari ngengat ini diperkirakan lebih dari 1 miliar USD per tahun, dan sebuah studi tahun 2006 menyimpulkan bahwa kelelawar menyelamatkan petani kapas di selatan-tengah Afrika Texas lebih dari 740.000 USD per tahun.

Di Amerika Serikat, para ilmuwan memperkirakan kelelawar bernilai lebih dari 3,7 miliar USD per tahun dalam hal pengurangan kerusakan tanaman dan penggunaan pestisida. Dan itu, tentu saja, berarti lebih sedikit pestisida yang memasuki ekosistem.

Dari gurun hingga hutan tropis, kelelawar nektarivora adalah penyerbuk penting untuk berbagai tanaman dengan nilai ekonomi dan ekologi yang besar. Di gurun Amerika Utara, kaktus raksasa dan agave bergantung pada kelelawar untuk penyerbukan, sementara kelelawar tropis menyerbuki banyak sekali tanaman.

Dunia adalah tempat yang berbahaya bagi kelelawar. Meskipun mereka menyediakan layanan lingkungan dan ekonomi yang penting, populasi kelelawar menurun di seluruh dunia, sebagian besar karena aktivitas manusia.

Jumlah kelelawar menurun karena perburuan untuk perdagangan “daging semak” dan hilangnya habitat hutan mereka. Tempat kelelawar hidup dan menciptakan mutualisme kehidupan Kelelawar yang tak terhitung jumlahnya diburu dari sarang gua dan tambang yang ditinggalkan karena penambangan guano atau pariwisata yang sembrono.

Selama periode musim dingin, sejumlah besar kelelawar berhibernasi di gua dan tambang. Jika terbangun dari hibernasi, seringkali karena campur tangan manusia, kelelawar dapat membakar lemak yang disimpan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup di musim dingin.

Persatuan Internasional untuk konservasi alam saat ini mencantumkan, sebanyak 24 spesies kelelawar sebagai sangat terancam punah, yang berarti mereka menghadapi risiko kepunahan yang akan segera terjadi.

Sebanyak 53 spesies lainnya terancam punah dan 104 spesies kelelawar dianggap rentan. Dari 1.296 spesies kelelawar yang dinilai oleh IUCN, hampir sepertiga dianggap terancam, menunjukkan perlunya.

 

Reporter : Syifa Ayuni Qotrunnada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Upaya Bersama Diperlukan untuk Jaga Situasi Kondusif Saat Idul Fitri

Oleh: Hafidz Ramadhan Pratama Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang selalu identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, dinamika sosial, serta potensi kerawanan keamanan, kebutuhan akan sinergi lintas sektor menjadisemakin mendesak untuk diwujudkan secara konkret. Stabilitas keamanan dan ketertibanmasyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan jugamemerlukan dukungan aktif dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga peran strategismedia sebagai penyampai informasi yang membentuk persepsi publik. Dalam konteks ini, menjaga suasana kondusif bukan sekadar upaya teknis, tetapi juga merupakan bagian darikomitmen kolektif dalam merawat persatuan di tengah keberagaman. Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasiantara kepolisian dan media melalui momentum buka puasa bersama insan pers yang tergabungdalam Pokja Polda Jatim. Kegiatan yang turut dihadiri Wakapolda Jatim Brigjen Pasma Royce serta jajaran pejabat utama tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi yang terbuka dansinergitas yang solid merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas daerah, khususnya saatada agenda nasional dan Idul Fitri. Dalam pandangannya, insan pers memiliki posisi strategissebagai mitra kepolisian dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepadamasyarakat, sehingga mampu mencegah berkembangnya informasi yang menyesatkan. Irjen Nanang Avianto juga melihat bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai penyampaiinformasi semata, tetapi juga berperan sebagai penyejuk di tengah dinamika sosial yang berkembang. Dalam situasi yang rawan terhadap provokasi dan penyebaran informasi yang tidakterverifikasi, media diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang edukatif sertamembangun opini publik yang konstruktif. Dengan demikian, masyarakat tidak mudahterpengaruh oleh isu-isu yang dapat memicu keresahan atau konflik. Ia menekankan bahwaketerbukaan informasi publik merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkantransparansi dan akuntabilitas, yang pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan masyarakatterhadap institusi negara. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Wakil Gubernur Abdullah Vanath turutmengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan memperkuat toleransi antarumat beragama, terutama karena perayaan Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi berlangsung dalam waktu yang berdekatan. Abdullah Vanath menilai bahwa masyarakat Maluku memiliki pengalaman panjangdalam menjaga kebersamaan, sehingga diharapkan mampu mempertahankan kondisi yang amandan damai. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini telah menunjukkan kedewasaan dalamkehidupan sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya memecahbelah persatuan. Abdullah Vanath juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu harus dijadikan pelajaran agar konflik serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, tidak ada alasan bagi masyarakat untukkembali pada situasi yang pernah menimbulkan perpecahan. Justru, momentum perayaankeagamaan harus dimanfaatkan untuk memperkuat rasa persaudaraan dan saling menghormati. Dalam konteks ini, toleransi bukan hanya menjadi konsep normatif, tetapi harus diwujudkandalam sikap nyata, seperti menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing umat beragama. Langkah konkret juga ditunjukkan melalui koordinasi yang dilakukan Pemerintah ProvinsiMaluku dengan forum komunikasi pimpinan daerah, tokoh agama, serta aparat keamanan. Sinergi ini bertujuan memastikan bahwa seluruh potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini, sehingga perayaan hari besar keagamaan dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Pendekatankolaboratif ini menunjukkan bahwa stabilitas tidak dapat dicapai secara parsial, melainkanmelalui kerja sama yang terintegrasi. Hal senada juga disampaikan Kapolda Nusa Tenggara Barat Irjen Pol Edy Murbowo S.I.K. M.Si. yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan danketertiban wilayah saat perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Dalam keterangannya, Irjen Edy Murbowo menekankan pentingnya menjagakebersamaan dan memperkuat nilai-nilai toleransi sebagai fondasi utama dalam menciptakanstabilitas keamanan. Ia menilai bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hiduprukun, melainkan kekuatan yang dapat memperkokoh persatuan. Irjen Edy Murbowo juga melihat bahwa momentum perayaan dua hari besar keagamaan yang berdekatan dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama. Iamengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan masing-masing agar tetapaman dan kondusif, sehingga seluruh rangkaian perayaan dapat berjalan dengan tertib dan penuhkedamaian. Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggungjawab aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah telah menunjukkan berbagai capaian signifikan dalammenjaga stabilitas nasional, mulai dari keberhasilan mengendalikan inflasi terutama saat haribesar keagamaan, peningkatan efektivitas pengamanan arus mudik melalui koordinasi lintasinstansi, hingga penguatan layanan publik berbasis digital yang semakin memudahkanmasyarakat dalam mengakses informasi dan layanan. Selain itu, upaya memperkuat moderasiberagama serta pendekatan humanis yang dilakukan aparat keamanan juga berkontribusi dalammenciptakan suasana yang lebih kondusif di berbagai daerah, sehingga kepercayaan publikterhadap pemerintah terus meningkat. Dengan melihat berbagai upaya yang telah dilakukan oleh aparat keamanan, pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa menjaga situasi kondusif saat Idul Fitrimembutuhkan komitmen bersama yang berkelanjutan. Sinergi antara media, pemerintah, danmasyarakat harus terus diperkuat agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk terus menjaga persatuan, meningkatkantoleransi, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai, sehinggamomentum Idul Fitri benar-benar menjadi ajang mempererat kebersamaan dan memperkuatharmoni sosial di Indonesia. *) Peneliti Keamanan Dalam Negeri dan Komunikasi Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini