Imbas Insentif PPnBM, Penjualan Mobil Melonjak 758 Persen

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Pertumbuhan volume penjualan mobil melonjak secara signifikan pada kuartal II/2021. Pada periode tersebut, volume penjualan mobil meningkat sebesar 758,68 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)

Dibandingkan dengan kuartal I/2021, volume penjualan mobil naik 10,38 persen. Peningkatan penjualan mobil mendorong pertumbuhan kinerja sektor industri pengolahan pada kuartal II/2021.

“Industri alat angkutan tumbuh 45,7 persen didukung oleh peningkatan permintaan kendaraan bermotor sebagai dampak pemberian insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM),” kata Kepala BPS Margo yuwono.

Kinerja industri pengolahan yang tinggi itu pun menjadi pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2021 berdasarkan lapangan usaha.

Adapun pada kuartal II/2021, BPS mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja industri pengolahan yang tinggi itu pun menjadi pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2021 berdasarkan lapangan usaha.

Adapun pada kuartal II/2021, BPS mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Jika dibandingkan dengan kuartal I/2021, maka ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan positif sebesar 3,31 persen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini