Catat, Kata ‘Gong Xi Fat Cai’ Gak Ada Hubungan dengan Tahun Baru Imlek

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Setiap perayaan Imlek, masyarakat Indonesia biasanya mengucapkan “Gong Xi Fat Cai”.

Ternyata ucapan itu tidak sepenuhnya tepat diutarakan saat Imlek karena dinilai materialistis.

Apalagi, ucapan tersebut bukan dilontarkan oleh seluruh warga Cina di dunia. Hanya orang Hong Kong yang biasa memakainya.

Arti kata itu adalah “selamat menjadi kaya raya.” Biasanya hanya digunakan oleh kalangan pebisnis saat berkumpul dengan rekannya atau saling menyapa saat Imlek.

Kata itu berasal dari bahasa Kanton, Gong Hei Fat Choy. Sedangkan bahasa Mandarin pengucapannya berubah menjadi Gong Xi Fa Cai (diucapkan Gong She Fa Tsai).

Bahasa Kanton pada umumnya digunakan di Guangdong dan daerah sekitarnya termasuk Hong Kong. Namun di tempat lain seperti Cina daratan dan Taiwan bahasa Mandarin lebih familiar digunakan.

Lalu kata apa yang harus diucapkan saat imlek tiba? Mata Indonesia menyajikan dua kata yaitu;

1. Xi Nian Kuai Le
Diucapkan kepada teman atau kerabat yang merayakan Imlek dan memiliki arti “Semoga bahagia di tahun yang baru”

2. Xi Nian Hao
Bahasa yang formal saat kita bertemu orang asing dengan arti “Semoga menjadi tahun baru yang baik.”

Reporter: Tria Mayang Sari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini