Bencana Banjir Terparah di Dunia, Ada yang Sampai Enam Bulan Baru Surut

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pada musim hujan seperti sekarang, banyak wilayah yang ditemui pemberitaan banjir. Segala macam menjadi penyebab datangnya bencana banjir, mulai dari curah hujan tinggi, saluran drainase yang buruk, bendungan jebol, dan lain sebagainya.

Dari semua itu, terjadi bencana banjir besar yang menyebabkan kerusakan parah pada beberapa belahan dunia. Berikut kasus banjir terparah yang pernah ada dan memusnahkan peradaban.

Banjir Johnstown

Pada akhir Mei 1889, bendungan di Danau Conemaugh, Pennyslvania hanyut setelah dilanda hujan lebat selama beberapa hari. Akibatnya 16 juta ton air meluap ke permukiman penduduk.

Bencana banjir ini juga menghancurkan 1.600 bangunan dan menewaskan 2.200 orang. Selain itu, banyak orang yang luka-luka dan mengungsi akibat kehilangan tempat tinggalnya. Banyak pihak yang menyalahkan bendungan yang tak terawat menjadi penyebab dari banjir ini.

Banjir Jiangsu-Anhui, Cina

Yangtze adalah sungai terpanjang ketiha di dunia dengan panjang 6.300 meter. Sungai ini adalah sumber utama transportasi dan irigasi di Tiongkok.

Pada 1911 pernah terjadi bencana banjir ketika sungai Yangzte dan Huai terendam secara bersamaan. Bencana ini merenggut hingga 100.000 jiwa, menyebabkan sekitar 375.000 orang kehilangan tempat tinggal dan kerugian harta benda yang parah.

Banjir Delta Sungai Merah, Vietnam

Pada 1971, bencana banjir yang terjadi di Delta Sungai Merah menewaskan lebih dari ratusan ribu jiwa. Banjir ini tidak mendapatkan perhatian internasional seperti Perang Vietnam.

Butuh beberapa tahun bagi Vietnam untuk pulih dari bencana ini, terutama karena pemerintah dan orang-orang di negara ini sedang menghadapi kesulitan besar.

Banjir Laut Utara, Belanda

Banjir ini dimulai pada Juni 1212 dan berakhir selama enam bulan lamanya. Banjir tersebut diperkirakan sudah menelan sekiar 60 ribu jiwa.

Sementara, ratusan ribu lainnya harus rela meninggalkan rumah mereka. Banjir tersebut juga menyebabkan kerusakan pada properti dan infrastruktur. Belanda setidaknya membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk memulihkan keadaan dari banjir ini.

Banjir Banqiao, Tiongkok

Banjir Banqiao terjadi akibat kesalahan dalam pembangunan bendungan raksasa di kawasan setempat. Dinding bendungan yang diklaim mampu menahan sekitar 300 meter kubik air hujan malah roboh akibar hujan deras yang disertai angin topan melanda pesisir pantai Tiongkok.

Alhasil, tembok pun jebol dan menyebabkan sekitar 170 ribu orang tewas, serta lebih dari satu juta jiwa kehilangan tempat tinggal. Banjir ini juga menyebabkan beberapa tempat dilanda banjir sepanjang Agustus 1975.

Reporter : Afif Ardiansyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini