Begini Aturan Penggunaan Properti Senjata Api untuk Syuting Menurut Ahli

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Joseph Fisher selaku props master atau ahli properti film, menjelaskan beberapa hal. Dalam proses syuting perlu diperhatikan sebelum pistol properti digunakan dalam film.

Salah satunya adalah melakukan briefing keselamatan bersama kru dan pemain.

“Kami akan membiarkan mereka memeriksa senjata itu. Kami akan menjelaskan tindakan pencegahan keamanan yang menyertai setiap jenis senjata,” kata Joseph Fisher.

Fisher juga mengambil contoh kasus insiden yang menimpa Brandon Lee yang tertembak dengan pistol properti saat syuting film The Crow pada 1993.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, polisi menemukan proyektil peluru 44 bersarang di pistol properti yang mengakibatkan Lee terluka di bagian perut. Dalam hal ini, Fisher mengatakan meskipun pistol properti yang digunakan tidak menyimpan ‘peluru’, namun masih ada proyektil.

Termasuk bubuk mesiu dan gas yang bisa berbahaya dalam jarak tertentu.

Menurut Buku Pegangan Senjata Api dan Balistik, senjata api yang kosong adalah senjata tanpa peluru yang hanya berisi cangkang dan bubuk mesiu. Jadi ketika ditembakkan akan terdengar suara ledakan.

Alih-alih menggunakan peluru, mereka menggunakan gumpalan benda atau lilin yang dikerutkan untuk diletakkan di ujung senjata. Demikian, Simmons menyatakan senjata kosong tidak serta merta atau dipastikan aman untuk digunakan begitu saja.

“Jika Anda berada di depannya atau terlalu dekat dengannya, (akan) ada banyak kotoran dan puing-puing yang terlempar keluar dari ujung senjata, dan itu dapat membahayakan,” ujar Simmons. “Ini sangat jarang terjadi dan bahkan lebih jarang menyebabkan kematian.”

Reporter : Firda Padila

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini