5 Tradisi di Indonesia Ini Mirip dengan Tradisi di Korea Selatan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebenarnya tradisi di berbagai negara sangat beraneka ragam. Keanekaragaman ini disebabkan karena kepercayaan masing-masing penduduk negaranya. Namun, tak menutup kemungkinan ada kemiripan tradisi di antara negara-negara tersebut.

Ya, seperti Indonesia dan Korea Selatan. Dua negara ini sama-sama terletak di Asia, dan ternyata memiliki beberapa kemiripan tradisi, lho! Meski tidak benar-benar sama, namun kemiripan tersebut dapat dilihat dari makna dan tujuannya. Penasaran apa saja kemiripan di antara dua negara ini? Yuk, simak!

  1. Sopan dan hormat terhadap orang yang lebih tua

Nyatanya, tidak semua negara menjunjung tinggi tradisi ini. Namun Indonesia dan Korea Selatan amat sangat menjunjung dan menjadi bagian yang tidak akan terhapuskan. Jika di Indonesia rasa sopan dan hormat ditunjukkan dengan cara mencium tangan orang yang lebih tua, kesopanan di Korea Selatan ditunjukkan dengan cara membungkukkan badan sekitar 45 derajat kepada orang yang lebih tua.

  1. Mudik dan berziarah ke makam leluhur

Kedua negara ini ternyata sama-sama melakukan mudik, lho. Tradisi mudik untuk mengunjungi kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Di Indonesia, mudik biasanya menjelang momentum Hari Raya Idul Fitri tiba. Sementara di Korea Selatan mudik menjelang momentum Chuseok, yakni festival panen yang sekaligus menjadi hari libur nasional Korea Selatan selama tiga hari di tengah-tengah musim gugur yang pada hari ke-15 bulan ke-8 menurut perhitungan kalender lunar.

  1. Upacara adat untuk Buah Hati

Di Indonesia tradisi upacara adat ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas kehadiran buah hati. Sebagai contohnya adalah Tedak Siten masyarakat Jawa. Tedak Siten pada bayi yang sudah bisa berdiri dan harapan agar sang anak memiliki kehidupan yang sukses di masa depan. Sementara di Korea Selatan, upacara adat ini bernama Doljanchi.

Biasanya upacara ini bayi berusia satu tahun. Upacara Doljanchi adalah ungkapan rasa syukur orangtua, harapan umur panjang bagi bayi tersebut.  Alasan Korea Selatan melakukan Doljanchi karena kala itu angka kemiskinan sangat tinggi sehingga menyebabkan banyak bayi yang meninggal sebelum berusia satu tahun.

  1. Mengenakan pakaian adat 

Di Indonesia, perayaan khusus seperti pernikahan biasanya dengan menggunakan pakaian adat. Baik kedua mempelai ataupun keluarganya, mereka akan mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing. Tradisi yang sama juga di Korea Selatan. Di perayaan pernikahan, sang mempelai akan mengenakan pakaian adat (hanbok).

  1. Gemar Mengonsumsi Nasi dan Mi Instan

Sama seperti Indonesia, ternyata penduduk Korea Selatan juga mengonsumsi nasi dan mie instan, lho. Bahkan di Indonesia ada ungkapan “belum makan jika belum makan nasi”, saking pentingnya nasi sebagai makanan pokok bagi orang Indonesia. Di Korea Selatan, nasi juga menjadi bahan utama hidangan. Banyak hidangan-hidangan Korea Selatan yang berbahan dasar nasi, seperti bibimbap. Tak hanya itu, kedua negara ini juga sama-sama punya tradisi yaitu gemar mengonsumsi mi instan. Bahkan orang Korea Selatan langsung melahap mi tersebut dari pancinya, tanpa memindahkannya terlebih dahulu ke mangkuk. Dan biasanya mi instan di Korea Selatan dominasinya varian rasa pedas.

Reporter: Intan Nadhira Safitri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Tegas Jaga Keamanan Papua Demi Masa Depan Masyarakat yang Lebih Sejahtera

Oleh Yonas Pekei*Komitmen pemerintah dalam menjaga keamanan dan melindungi masyarakat Papua kembali terlihat melalui langkah cepat aparat TNI-Polri dalam menangani gangguankeamanan di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan. Kehadiran negara melalui aparatkeamanan menunjukkan bahwa keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utamadi tengah upaya besar pemerintah mempercepat pembangunan dan pemerataankesejahteraan di seluruh wilayah Papua.Peristiwa yang terjadi di wilayah Korowai menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut keselamatan warga sipil yang sedang bekerja mencari nafkah. Dalamsituasi tersebut, aparat keamanan bergerak cepat melakukan pengamanan wilayah, mengevakuasi korban, serta memastikan kondisi tetap terkendali agar masyarakatdapat kembali beraktivitas dengan aman. Respons cepat tersebut mencerminkankeseriusan negara dalam menjaga stabilitas Papua sekaligus memberikan rasa amankepada masyarakat di daerah pedalaman.Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna menegaskanbahwa para korban merupakan warga sipil yang tengah melakukan aktivitaspendulangan emas. Penjelasan tersebut menjadi penting untuk meluruskan berbagaiinformasi yang berkembang sekaligus memastikan masyarakat memperoleh fakta yang benar. Pemerintah melalui aparat keamanan terus mengedepankan keterbukaaninformasi agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh propaganda dan narasi yang dapat memperkeruh situasi keamanan di Papua.Langkah yang dilakukan aparat keamanan patut diapresiasi karena Papua saat initengah mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Pemerintah dalam beberapatahun terakhir terus memberikan perhatian besar terhadap pembangunan Papua melalui pembangunan jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, sekolah, layanantelekomunikasi, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Berbagai program strategistersebut bertujuan membuka keterisolasian wilayah serta menciptakan kesempatanyang lebih luas bagi generasi muda Papua untuk berkembang dan bersaing.Keamanan menjadi faktor utama agar seluruh program pembangunan dapat berjalanoptimal. Tanpa situasi yang aman dan kondusif, masyarakat akan kesulitan menikmatimanfaat pembangunan yang telah dihadirkan pemerintah. Karena itu, langkah tegasaparat keamanan sejatinya merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsunganpembangunan sekaligus memastikan masyarakat Papua dapat hidup dengan tenang, bekerja dengan nyaman,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini