2 Kali Debat, 5 Blunder ini Meluncur dari Capres & Cawapres Prabowo – Sandiaga

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Debat capres jilid 2 telah usai digelar pada hari Minggu 17 Februari 2019. Debat kali ini, keduanya tak didampingi para cawapres. Tema yang diusung adalah energi, sumber daya alam, lingkungan hidup, pangan dan infrastruktur. Debat pilpres 2019 pertama pun telah digelar pada Januari 2019 lalu.

Ada banyak gagasan dan pendapat yang diutarakan kedua calon presiden dan wakil presiden. Termasuk adanya blunder yang dilakukan oleh salah satu capres dan cawapres selama dua kali debat pilpres 2019.

MataIndonesia merangkum beberapa ucapan capres dan cawapres nomor urut 02 yang disebut-sebut kerap membuat pernyataan blunder dalam dua kali gelaran debat. Apa saja? Mari simak berikut ini.

Ucapan Sandiaga Uno

Saat Sandiaga Uno menyatakan diri bukan lagi kader Gerindra ketika Prabowo meminta tambahan penjelasan soal struktur kepengurusan Gerindra. “Saya kaget juga ketika sahabat saya membuat pernyataan bahwa dia bukan Gerindra. Ketika Gerindra dipertanyakan. Kan mestinya dia membela Gerindra. Ini blunder,” ujar Erick.

Soal caleg perempuan

Dikutip dari Tempo.com, Eks Presenter Tina Talisa mengatakan paslon 02 membuat blunder saat Prabowo mengklaim partainya punya caleg perempuan paling banyak. Angkanya, kata Prabowo, hampir 40 persen. Berdasarkan data KPU, memang benar Gerindra memiliki hampir 40 persen caleg perempuan untuk DPR RI. Namun, persentase caleg perempuan untuk DPR RI terbanyak bukanlah dari Gerindra, melainkan PKPI (Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia). Adapun partai yang paling banyak mengusung caleg perempuan untuk DPR RI adalah PSI (Partai Solidaritas Indonesia).

“Mengutip data saja salah, caleg perempuan itu di PSI yang paling banyak,” ujar dia.

Tentang korupsi

Prabowo kembali membuat blunder saat bicara isu korupsi. Saat itu, Jokowi mempertanyakan komitmen anti-korupsi Prabowo yang berbanding terbalik dengan Partai Gerindra yang banyak mencalonkan eks terpidana korupsi dalam pileg. Prabowo bahkan mengatakan, “Mungkin korupsinya nggak seberapa.”

Namun, Prabowo membantah Jokowi dan menyatakan pernyataan Jokowi tersebut subjektif. “Dari sana saja bisa dilihat, artinya Pak Prabowo tidak tahu apa-apa tentang partainya,” ujar Tina.

Tak tahu unicorn

Pakar politik, Charta Politika Yunarto Wijaya melihat segmen kelima debat kedua Pilpres 2019 jadi yang paling menentukan. Ada sebuah blunder yang membahayakan Prabowo. “Blunder terbesar Prabowo dari semua segmen. Karena di sesi unicorn, Prabowo bukan hanya tidak tahu unicorn tapi soal duit yang bisa lari ke luar itu punya efek negatif ke elektoral ke segmen terbesar, milenial,” kata Yunarto kepada wartawan, Minggu 17 Februari 2019.

Yunarto menyebut unicorn salah satu hal yang menarik bagi milenial. “Statemen itu membawa efek buruk di kalangan milenial. Walaupun masih kalah dengan Jokowi, tapi situ selisihnya paling kecil. Unicorn tadi itu bidang segmented dan spesifik terkait interest yang dianggap menarik oleh milenial,” imbuhnya..

Sebut kelola tanah sendiri daripada jatuh ke tangan asing

Dalam salah satu sesi debat Minggu 17 Februari 2019, Jokowi menyinggung kepemilikan ratusan ribu hektar tanah oleh Prabowo di beberapa daerah di Indonesia. “Saya tahu Pak Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Kalimantan Timur. Sebesar 220.000 hektar,” kata Jokowi.

Ia juga menyebutkan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut memiliki lahan seluas 120.000 hektar di Aceh Tengah.

Menanggapi hal itu, Prabowo pun menjawab soal tanah yang dimaksud oleh Jokowi dalam penutupan debat julid 2. “Saya disebut kuasai tanah ratusan ribu hektar di beberapa tempat. Itu benar tapi itu HGU [hak guna usaha] dan itu milik negara. Kalau negara mau ambil alih, saya rela,” tambahnya yang langsung disambut oleh tepukan tangan para pendukungnya.

“Tapi dibandingkan dikelola orang asing, lebih baik saya yang kelola. Karena saya nasionalis dan saya patriot,” tutupnya. (Tisa)

Berita Terbaru

Hilirisasi Pertanian sebagai Jalan Ganda: Kurangi Impor, Naikkan Ekspor

Oleh : Lailani FitriSektor pertanian selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional sekaligusfondasi ketahanan pangan Indonesia. Di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, sertatantangan rantai pasok internasional, penguatan sektor pertanian tidak lagi cukup hanyaberorientasi pada peningkatan produksi. Indonesia membutuhkan transformasi yang lebihmenyeluruh melalui hilirisasi pertanian agar setiap komoditas yang dihasilkan mampumemberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani, industri, dan negara. Hilirisasi pertanianmenjadi jalan ganda yang strategis karena tidak hanya mampu mengurangi ketergantunganterhadap impor, tetapi juga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar ekspor.Selama bertahun-tahun, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantunganterhadap sejumlah komoditas pangan tertentu. Kebutuhan terhadap kedelai, bawang putih, maupun beberapa komoditas strategis lainnya masih belum sepenuhnya dipenuhi dari produksidalam negeri. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global, gangguan distribusi internasional, serta perubahan kebijakan negara pemasok. Oleh karena itu, upaya memperkuat produksi nasional harus berjalan beriringan dengan pengembangan inovasidan hilirisasi agar komoditas dalam negeri memiliki produktivitas, kualitas, dan nilai ekonomiyang semakin tinggi.Langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengumpulkan civitas akademikaUniversitas Gadjah Mada untuk memperkuat kolaborasi inovasi dan hilirisasi pertanianmenunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem pertanian yang modern dan berkelanjutan. Pertemuan yang melibatkan rektor, dekan, guru besar, peneliti, hingga mahasiswaklaster agro tersebut mencerminkan kesadaran bahwa pembangunan pertanian memerlukanketerlibatan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menghadirkan solusi yang mampu menjawabtantangan sektor pertanian nasional.Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian Andi...
- Advertisement -

Baca berita yang ini