Horor, dalam Sehari 117 Gempa Guncang Pulau Sumba

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hanya dalam satu hari, yakni Sabtu 8 Agustus 2020, Pulau Sumba, NTT diguncang 117 gempa tektonik susulan, setelah tiga kali gempa besar berkekuatan 5 SR.

BMKG menunjukkan tiga kali rentetan gempa bumi ini terjadi dengan selisih waktu 5 menit dan 28 menit dari gempa bumi pertama. Ketiga episenter tersebut berlokasi di laut arah Barat Daya Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, pada kedalaman 10 kilometer.

Menurut Kepala Stasiun Geofisika Waingapu Arief Tyastama, dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya deformasi kerak benua di dasar laut.

Sementara hasil analisis mekanisme sumber ketiga gempa bumi tersebut, menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault).

“Guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Tambolaka IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), Waingapu , Waikabubak III-IV MMI, Labuan Bajo, Bima, Dompu III MMI,” kata Arief.

Ia menjelaskan, hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini juga tidak berpotensi tsunami.

“Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hilirisasi Papua Jalan Strategis Menuju Kebangkitan Ekonomi Timur Indonesia

Oleh: Petrus Yoman Kambu* Hilirisasi di Papua kini tampil sebagai wajah baru pembangunan nasional yang berkeadilan dan berorientasi masa depan. Kebijakan ini bukan sekadar strategi ekonomiteknokratis, melainkan manifestasi nyata komitmen negara untuk memastikan bahwakekayaan alam Papua dikelola secara berdaulat, bernilai tambah tinggi, dan memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Di tengah dinamikaglobal yang kompetitif, langkah terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintahdaerah, dan investor internasional menunjukkan bahwa Papua tidak lagi ditempatkansebagai hinterland komoditas mentah, tetapi sebagai episentrum pertumbuhan baruyang diperhitungkan di pasar dunia. Langkah konkret tersebut tercermin dari fasilitasi pertemuan 21 investor Eropa denganperwakilan daerah penghasil kakao seperti Kepulauan Yapen, Jayapura, dan ManokwariSelatan. Forum ini membahas pengembangan industri kakao secara komprehensif darihulu hingga hilir, termasuk penetrasi pasar ekspor. Anggota Komite EksekutifPercepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, menegaskan bahwaPapua Sehat, Papua...
- Advertisement -

Baca berita yang ini