Sebelum Kampanye Terakhir Jokowi Didatangi Bapak Tua

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Beberapa kilometer sebelum tiba di “Konser Putih” di Gelora Bung Karno (GBK), Sabtu 13 April 2019, calon petahana Jokowi tiba-tiba didatangi seorang bapak tua.

Seperti diungguh akun twitter @jokowi, kejadiannya saat rombongan Jokowi terjebak macet di antara Cawang dan Semanggi. Saat itu dia dari Istana Bogor untuk menghadiri acara konser tersebut.

“Seorang bapak tua tiba-tiba menyebrang jalan dan mendekati mobil yang saya tumpangi. Rupanya ia hanya ingin bersalaman,” kata Jokowi melalui akun yang dikutip Minggu 13 April 2019.

Seperti diberitakan “Konser Putih” adalah kampanye akbar terakhir pasangan Jokowi-Ma’ruf sebelum masa tenang hari ini 14 April 2019.

Hingga kini tidak diketahui siapa bapak tua tersebut. Namun, netizen menaruh hormat terhadap sikap Jokowi yang mau membuka kaca mobilnya sekadar menyalami bapak tua yang tidak dikenalnya.

Netizen Shena mee melalui akunnya @mee_wijaya berkomentar, “Bapak itu “BAPAK” nya rakyat Indonesia paaakk…jadi kami cinta sm bapak..jangankan bapak Salami,bapak dadah dadah aja kami sdh bahagiaaa….❤️❤️😍😍😍.”

Pernyataan itu dibenarkan Permadi #OPT1MIS yang berkomentar melalui akun @PermadiReds, “Eh…bener lho ini kak. Anak saya sama temannya sampe heboh sueneng bgt pas Bapak buka jendela..dadah…mobilnya diminta pelan. Malah ada yg sampe teriak mau nangis saking senengnya. Seakan kalimat “bahagia itu sederhana” nyata depan saya pas itu.”

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini