Sedih Banget! Kisah Pria Tahan Lapar Demi Hidupi Ibu dan Kakaknya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di tengah-tengah masa sulit pandemi corona (COVID-19), ada banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan. Banyak orang yang banting tulang demi mencari uang untuk hidup sehari-hari.

Kisah tentang seorang pria tua yang harus kehilangan pekerjaan dan kini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup pun viral di media sosial. Pria asal Malaysia itu pun diketahui rela menahan ibu dan kakak perempuannya.

Pria tua itu diketahui kehilangan pekerjaannya sebagai pencuci piring. Setelah itu, ia telah berusaha keras untuk memastikan ibu dan kakak perempuannya tetap terawat meskipun ia kehilangan pekerjaan sebagai pencuci piring.

Dilansir World of Buzz, Senin 1 Juni 2020, kisahnya viral usai dibagikan oleh Hopes In Meals di Facebook. Terungkap bahwa ia memilih untuk kelaparan sendiri demi memberi makan keluarganya.

“Pria ini kehilangan pekerjaannya sebagai pencuci piring karena COVID-19, ia ditemukan telah kelaparan sendirian karena kesulitan keuangan untuk waktu yang lama dan tampak pucat di halte bus selama beberapa hari sebelum tetangga yang baik hati memberi tahu kami tentang keadaannya,” tulisnya.

BACA JUGA: Gawat! 3 Sampel Darah Pasien Covid-19 Digondol Seekor Monyet

Untuk bertahan hidup, pria tua itu mengumpulkan kaleng dan barang daur ulang lainnya, tetapi tidak bisa menjualnya karena penguncian wilayah (lockdowm) yang ditetapkan pemerintah sampai 2 Juni demi mencegah penyebaran virus corona.

Sebenarnya pria itu memang menerima sejumlah dana dari pemerintah, tetapi telah menyerahkan semua uang itu kepada saudara perempuannya yang hidup bersama ibunya yang berusia 93 tahun.

Tak hanya itu, pria tua ini juga mencoba yang terbaik untuk menghemat uang untuk makanan dan sering kali tidak makan sehingga dia bisa menghemat lebih banyak uang untuk diberikan kepada ibunya.

“Ia mengatakan kadang-kadang dirinya hanya akan minum lebih banyak air untuk mempertahankan rasa lapar atau beristirahat lebih banyak ketika dia merasa pusing atau lemah,” imbuhnya.

Postingan yang telah dibagikan empat ribu lebih pengguna Facebook ini pun dibanjiri oleh komentar netizen yang ingin membantu pria tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini