Caroline Mikkelsen, Wanita Pertama yang Berhasil Taklukan Antartika  

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jiwa penjelajah rupanya tidak hanya berlaku bagi seorang pria saja. Caroline Mikkelsen, wanita asal Norwegia telah berhasil membuktikan dirinya sebagai wanita pertama yang menjejakan kaki di Pulau Antartika pada tahun 1935.

Pencapaiannya bukanlah hal yang mudah karena sudah ada beberapa wanita sebelumnya yang gagal dalam misi tersebut. Lillemor Rachlew adalah salah satunya.

Rachlew sempat hampir berhasil mencapai benua Antartika. Namun upayanya gagal akibat adanya es tebal di sepanjang pantai yang membuatnya sulit untuk melakukan pendaratan di sana.

Selain Rachlew, Ingrid Christensen juga tercatat telah mengunjungi Antartika sebelum Mikkelsen. Suami Ingrid, Lars Christensen, memiliki perusahaan perburuan ikan paus di Norwegia dan menghabiskan waktu berbulan-bulan di perairan Antartika.

Pada tahun 1931, keduanya berlayar di sekitar Thorshavn dan sempat melihat Benua Antarktika. Meski begitu, catatan sejarah mengatakan Ingrid hanya berhasil melihat-lihat saja tanpa mampu mencapai daratan es terbesar di dunia itu.

Mikkelsen mengungkapkan niatnya melakukan misi eksplorasi Antarktika setelah mengalami kegagalan beberapa kali. Dia ditemani oleh suaminya, Klarius Mikkelsen, seorang kapten kapal sekaligus pemburu paus.

Dalam misi kali ini, dia mendapat sponspor dari Lars Christensen menggunakan kapal Thorshvan.

Selain untuk mencari paus, eksplorasi mereka juga untuk mencari tanah kosong di Antarktika yang bisa dianeksasi untuk Norwegia. Butuh waktu berhari-hari untuk kapal Mikkelsen akhirnya dapat menembus celah menuju Antarktika.

Kru Mikkelsen berhasil menemukan jalan masuk sempit di dekat gunung yang kemudian mereka namai Vestfoldfjellene. Sekitar pukul 10.30 pagi waktu setempat, rombongan mendayung sebuah perahu kecil melalui perairan kecil yang diapit gunung es. Beberapa jam setelah itu akhirnya mereka bisa sampai di lokasi.

Para kru dan Mikkelsen pun mengibarkan bendera Norwegia sebagai sebuah tanda keberhasilan. Untuk menghargai jasa Caroline Mikkelsen, banyak nama-nama di daerah Antarktika yang menggunakan nama ‘Caroline Mikkelsen’.

Menjadi wanita pertama yang berhasil taklukan Benua Antartika, bukan berarti Mikkelsen adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di Kutub Selatan. Rekan senegaranya, Roald Amundsen-lah orang pertama yang berhasil mencapai misi ini. Amundsen telah menginspirasi banyak orang, termasuk Mikkelsen, untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya.

Sebelumnya, Mikkelsen tidak secara terbuka berbicara tentang pelayarannya ke Antartika sampai enam puluh tahun lamanya. Ia akhirnya mau berbicara tentang perjalanannya ke surat kabar Norwegia Aftenposten setelah dihubungi oleh Pemimpin Stasiun Davis, Diana Patterson. (Marizke/R)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini