Instalasi Gabion Ratusan Juta Rupiah Dibongkar Buat Panggung Tahun Baru, Modus Korupsi Pemprov DKI?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Seperti landmark sebelumnya Bambu Getah-getih, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga membongkar Instalasi Gabion yang menggantikannya. Jika Bambu Getah-getih yang menelan Rp 550 juta dibongkar hanya dalam waktu 11 bulan, Gabion yang senilai Rp 150 juta lebih cepat lagi, yaitu dalam empat bulan.

Gabion rancangan Dinas Kehutanan Pemprov DKI Jakarta itu dibongkar tepat pada Minggu 23 Desember 2019, sedangkan pemasangannya 20 Agustus lalu.

Alasan pembongkaran Gabion seperti diungkap Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Suzi Marsita adalah untuk mendirikan panggung utama pesta pergantian tahun dari 2019 ke 2020. Setelah itu instalasi akan dipasang lagi.

Jelas alasan yang dinilai banyak kalangan mengada-ada. Mengapa panggung itu tidak ditempatkan pada titik lainnya yang tidak mengganggu Gabion?

Instalasi yang terdiri dari tiga pilar tumpukan batu bronjong dengan tinggi 2 meter, 1,8 meter dan 1,5 meter yang ditanami berbagai tanaman relatif murah itu saat dibangun menuai kritik, sebagaimana patung Bambu Getah-getih sebelumnya.

Ada yang menyatakan pembangunan satu Gabion seharusnya hanya senilai Rp 25 juta saja. Artinya tiga pilar hanya Rp 75 juta. Tetapi okelah kita amini saja nilai Rp 150 juta yang diungkap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut.

Sekarang dengan dibongkarnya landmark tersebut, pasti menimbulkan kecurigaan agar ada uang proyek lagi untuk memasang lagi Gabion-Gabion tersebut.

Pemprov DKI Jakarta atau bahkan Gubenur Anies Baswedan bisa beralasan pemasangan kembali tersebut tidak perlu mengeluarkan biaya konstruksi tiga bronjong serta beberapa material lainnya.

Tetapi, tetap ada biaya yang keluar untuk memasang kembali penanda yang aneh tersebut. Setidaknya Pemprov harus membayar upah pekerja yang bertugas menyusun kembali instalasi, mengganti kawat yang berkarat, hingga membeli tanaman baru. Mungkin tidak sampai Rp 150 juta, tetapi cara tersebut jelas sebuah praktik inefisiensi anggaran Pemprov.

Jika hal tersebut memang disengaja atau ada mens rea dari para pejabat Pemprov DKI Jakarta agar ada anggaran yang keluar, seharusnya bisa dijerat dengan undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini