Chaeyeon Buster Tertangkap Kamera Dipukul dan Dilecehkan, Dua Komedian Ini Hengkang dari Program

Baca Juga

MATA INDONESIA, KOREA – Acara anak-anak EBS “Tok! Tok! Boni Hani” mendapat kecaman dari netizen usai video Chaeyeon Buster yang diduga dipukul oleh sesama anggota pemeran serta dilecehkan secara verbal oleh yang lain viral di media sosial.

Pada 11 Desember, sebuah video dibagikan secara online tentang Chaeyeon yang usianya 15 tahun di lokasi pertunjukan dengan pemeran lainnya untuk siaran langsung.

Video itu memperlihatkan Chaeyeon tampaknya memegang lengan komedian Choi Young Soo saat dia berjalan pergi. Dia berbalik dan memukulnya. Aksi pemukulan itu tidak tertangkap kamera karena terhalang oleh anggota pemeran lain.

Meski demikian suara yang dihasilkan dari pukulan itu cukup keras dan Chaeyeon memegang lengan atas kirinya saat dia berjalan pergi.

EBS membantah bahwa telah terjadi kekerasan di antara para anggota pemeran dalam pertunjukan tersebut, menggambarkan adegan itu sebagai para pemain yang bercanda bersama. Seorang perwakilan dari Chaeyeon juga dilaporkan menyatakan bahwa itu adalah lelucon dan bukan kekerasan.

Dalam video lain, Park Dong Geun terdengar memanggil Chaeyeon hal-hal seperti “Listerine disterilkan pela**r,” dan ketika dia tampaknya tidak mendengarnya dengan benar atau mengerti pada awalnya, dia menyingkatnya menjadi frasa yang berarti “berbisa pela**r”.

Ungkapan tentang Listerine telah dideskripsikan sebagai sesuatu yang umum digunakan di tempat hiburan orang dewasa, merujuk pekerja seks yang menggunakan obat kumur untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual.

Mengenai komentar yang banyak digambarkan sebagai pelecehan seksual verbal terhadap anak di bawah umur, EBS menyatakan, “Selalu ada Listerine di ruang tunggu, dan Chaeyeon akan selalu berkumur dengan Listerine sebelum pertunjukan.”
Mereka menambahkan, “Selama siaran langsung , dia bercanda dengan Chaeyeon dan mengatakan itu untuk menggodanya, tetapi baik produser dan Park Dong Geun sendiri tidak tahu bahwa itu adalah ekspresi yang bermasalah.”

Mereka juga meminta maaf atas penggunaan ekspresi tanpa mengetahui artinya, mengatakan keduanya produser dan Park Dong Geun terkejut.

Komedian yang diduga melakukan pemukulan dan pelecehan Choi Young Soo dan Park Dong Geun dari pertunjukan berlanjut secara online, dan EBS sekarang telah mengeluarkan pernyataan berikut:

“Kami mohon maaf.

Kami dengan tulus meminta maaf kepada pemirsa yang selalu mencintai EBS.

Baru-baru ini, siaran YouTube dari program populer EBS ‘Tok! Tok! Boni Hani ’termasuk adegan kekerasan dan adegan pelecehan seksual verbal yang disiarkan tanpa diedit. Mereka telah menyebabkan banyak ketidaknyamanan dan sakit bagi pemirsa kami, yang sebagian besar adalah siswa muda. EBS menerima seberapa serius situasinya, dan kami sangat merasa bertanggung jawab.

Segera setelah EBS mengetahui insiden tersebut, kami mengadakan pertemuan perencanaan darurat dan kami menetapkan langkah selanjutnya sebagai perusahaan dan menentukan bagaimana kami akan melakukannya. Pertama, kami segera menangguhkan dua anggota pemeran yang terlibat dalam masalah [Choi Young Soo, Park Dong Geun], dan kami telah menghapus video YouTube.

Daripada insiden ini menjadi masalah pribadi antara anggota pemeran, itu adalah tanggung jawab besar manajemen EBS. EBS juga sangat terkejut dan merasa sangat bertanggung jawab setelah kejadian ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi, terjadi. Setelah kejadian ini, kami akan memeriksa ulang seluruh proses kami untuk memilih anggota pemeran dari program kami. Kami bertanggung jawab penuh untuk staf program kami, dan kami berencana untuk secara ketat menerapkan langkah-langkah disipliner dan langkah-langkah tindak lanjut. Yang paling penting, kita akan secara menyeluruh mencari penyebab insiden sehingga tidak terjadi lagi, dan kita akan meluruskan kembali sistem produksi dan seluruh proses produksi, dengan melakukan pemeriksaan ulang dan pengembangan yang ketat.

Agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, EBS akan lebih ketat dan lebih berhati-hati saat memproduksi program. Kami sekali lagi menundukkan kepala meminta maaf kepada pemirsa yang memercayai EBS.”

Berita Terbaru

Koperasi Desa Merah Putih Mesin Pencipta Lapangan Kerja Baru di Pedesaan

Oleh: Ahmad RizaldiDi tengah tantangan ketenagakerjaan yang masih menjadi pekerjaan rumah nasional, pemerintahmenghadirkan terobosan yang berpotensi menciptakan dampak ekonomi langsung hingga ketingkat desa. Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) bukan sekadarinstrumen penguatan ekonomi kerakyatan, melainkan juga dapat menjadi salah satu mesinpencipta lapangan kerja terbesar dalam sejarah pembangunan desa di Indonesia. Jika target pembangunan 80 ribu unit koperasi dapat direalisasikan hingga tahun 2029, program inidiperkirakan mampu menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.Angka tersebut bukan sekadar proyeksi di atas kertas. Skema yang dirancang pemerintahmenunjukkan bahwa setiap unit KDKMP akan dikelola oleh satu manajer hasil seleksi nasionaldan didukung sedikitnya 17 tenaga kerja lokal yang diprioritaskan berasal dari desa setempat. Artinya, setiap koperasi yang berdiri akan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru yang membukakesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menjelaskan bahwa keberadaan KDKMP dirancang agar manfaatnya tidak hanya dirasakan melalui aktivitas usaha koperasi, tetapi juga melalui penciptaan lapangan kerja yang tersebar merata di berbagai wilayah. Para pekerja yang direkrut akan mengisi berbagai posisi, mulai dari asisten manajer, kasir, pramuniaga, petugas simpan pinjam, petugas gudang, sopir, hingga petugas keamanan. Dengandemikian, koperasi tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi pusatpenyerapan tenaga kerja produktif di desa.Kehadiran lapangan kerja di desa memiliki arti strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadarangka statistik. Selama bertahun-tahun, urbanisasi terjadi karena keterbatasan peluang kerja di wilayah pedesaan. Banyak generasi muda memilih meninggalkan kampung halaman untukmencari pekerjaan di kota-kota besar. Melalui KDKMP, pemerintah berupaya membangunekosistem ekonomi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan tanpa harusmeninggalkan daerah asalnya.Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang disampaikan Qodari bahwa negara sedangmembangun sistem ekonomi desa yang lebih kuat agar petani memperoleh kepastian pasar, usaha masyarakat berkembang, dan generasi muda memiliki peluang untuk bekerja serta meraihkesuksesan di lingkungan mereka sendiri. Dengan kata lain, KDKMP tidak hanya berbicaratentang koperasi, tetapi juga tentang upaya menghidupkan kembali ekonomi lokal secaraberkelanjutan.Tingginya minat masyarakat terhadap program ini menjadi indikator bahwa kebutuhan akanlapangan kerja masih sangat besar. Data panitia seleksi menunjukkan lebih dari 639 ribu pelamarmendaftarkan diri untuk posisi manajer KDKMP dan pegawai Kampung Nelayan Merah Putih. Dari jumlah tersebut, ratusan ribu peserta berhasil lolos seleksi administrasi dan puluhan ribulainnya melanjutkan ke tahapan seleksi kompetensi. Antusiasme tersebut memperlihatkan bahwamasyarakat melihat program ini sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.Lebih jauh lagi, manfaat ekonomi KDKMP tidak hanya berasal dari tenaga kerja yang direkrutsecara langsung. Koperasi juga dirancang menjadi pusat aktivitas ekonomi desa yang mampumenciptakan efek berganda (multiplier effect). Setiap unit akan dilengkapi gerai kebutuhanpokok, layanan keuangan mikro, pergudangan, dukungan logistik, apotek, hingga kliniksederhana. Seluruh aktivitas tersebut berpotensi melahirkan kebutuhan tenaga kerja tambahandan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar.Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, keberadaan koperasi sebagai offtaker ataupenyerap hasil produksi masyarakat juga memiliki nilai strategis. Produk pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, hortikultura, hingga kerajinan rakyat akan memperoleh akses pasar yang lebih pasti. Ketika hasil produksi terserap dengan baik, pendapatan masyarakat meningkat, aktivitas ekonomi tumbuh, dan kebutuhan tenaga kerja secara alami ikut bertambah.Menteri Koperasi Ferry Juliantono bahkan memperkirakan sekitar 40 ribu KoperasiDesa/Kelurahan Merah Putih dapat mulai beroperasi hingga akhir tahun 2026. Target tersebutmenunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat implementasi program. Saat ini ribuankoperasi telah menyelesaikan pembangunan fisik, sementara puluhan ribu lainnya masih dalamtahap pembangunan. Sebagai langkah awal, lebih dari seribu unit koperasi telah beroperasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.Perkembangan tersebut memberikan sinyal bahwa program ini bukan sekadar wacana, melainkanproyek pembangunan ekonomi yang sedang berjalan secara nyata. Jika target 20 ribu koperasiyang direncanakan beroperasi pada Agustus mendatang dapat tercapai, maka dampak terhadappenyerapan tenaga kerja akan semakin terasa dalam waktu relatif singkat.Tentu saja, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah koperasi yang berdiri. Kualitas pengelolaan, profesionalisme sumber daya manusia, keberlanjutan usaha, dankemampuan koperasi menjawab kebutuhan masyarakat akan menjadi faktor penentu utama. Karena itu, pendekatan yang mengedepankan kualitas dan realisme sebagaimana ditekankanpemerintah patut diapresiasi agar koperasi yang dibangun benar-benar produktif dan tidaksekadar menjadi bangunan fisik.Karena itu, Koperasi Desa Merah Putih layak dipandang sebagai strategi pembangunan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi sekaligus. Program ini bukan hanya memperkuat distribusikebutuhan pokok dan pemberdayaan usaha rakyat, tetapi juga menciptakan jutaan peluang kerjayang sangat dibutuhkan masyarakat. Jika dijalankan secara konsisten dan profesional, KDKMP dapat menjadi bukti bahwa pembangunan berbasis desa mampu menjadi motor penggerakpertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.*) Pengamat Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini