Sadis! Seorang Ibu di Palembang Masukan Bayinya ke Mesin Cuci Hingga Meninggal Dunia

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Entah apa yang merasuki seorang ibu, Sutina (36) di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) yang begitu tega membunuh darah dagingnya sendiri. Dirinya dengan tega memasukan anaknya ke dalam mesin cuci hingga meninggal dunia.

Kasat Reskrim Polres Palembang Kompol Yon Edi Winara membenarkan peristwia tersebut dan kondisi bayinya meninggal dunia. Peristiwa sadis itu terjadi di Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Barat, Palembang, Senin 4 November 2019.

Berdasarkan pengakuan janda 7 tahun itu hanya tahu sang bayi masih hidup saat dimasukkan ke dalam mesin cuci. Dirinya baru tahu tewas di rumah sakit dari rekan kerjanya.

“Saya tahu dari teman kerja, mereka itu tahu anak saya di mesin cuci. Anaknya nangis waktu aku dibawa oleh majikan ke rumah sakit,” katanya.

Untuk diketahui, bayi tersebut tewas dimasukkan ke dalam mesin cuci. Hasil pemeriksaan di tubuh ditemukan luka lecet pada hidung dan leher.

“Setelah kami lakukan pemeriksaan luar, tidak ditemukan adanya luka kekerasan di tubuh korban. Tetapi ada luka lecet di hidung dan leher,” katanya dokter Forensik RS Bhayangkara, dr Indra Sakti Nasution.

 

Berita Terbaru

Sidak Ramadan sebagai Instrumen Stabilitas Pasar

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Setiap memasuki bulan suci Ramadan dan menjelang Idulfitri, pemerintahmemastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga melaluilangkah pengawasan yang aktif dan terukur. Peningkatan aktivitas konsumsimasyarakat dipandang sebagai momentum positif yang mencerminkan perputaranekonomi yang dinamis. Dalam kerangka tersebut, inspeksi mendadak (sidak) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola pangan, memastikandistribusi berjalan lancar, serta menjaga keterjangkauan harga bahan pokok. Kehadiran langsung pemerintah di lapangan menegaskan komitmen kuat dalammelindungi kepentingan masyarakat, memperkuat transparansi rantai pasok, sertamembangun kepercayaan publik terhadap sistem pangan nasional yang tangguhdan responsif. Langkah tersebut terlihat nyata ketika Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, turun langsung melakukan pemantauan di Pasar Jonggol, yang selama ini dikenal sebagai pasar penyangga bagi wilayah Bogor, Bekasi, hingga Jakarta. Kehadiran pejabat tinggi di titik distribusi akhir menunjukkan bahwapemerintah mengedepankan pengawasan berbasis kondisi riil lapangan. SarwoEdhy menegaskan bahwa selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah dan harus memastikan harga tetap terkendali serta distribusi berjalan lancar. Jika ditemukan ketidaksesuaian, langkah pembenahan akan segera dilakukan di lokasi. Hasil pemantauan memperlihatkan mayoritas komoditas pangan strategis beradadalam kondisi relatif stabil. Harga beras medium lokal berada di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per...
- Advertisement -

Baca berita yang ini