INTAN JAYA – Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi keamanan di wilayahnya yang masih diwarnai konflik bersenjata. Ia secara tegas meminta Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) agar tidak menjadikan kampung-kampung yang dihuni masyarakat sebagai lokasi aktivitas maupun kontak bersenjata dengan aparat keamanan karena hanya akan meningkatkan risiko bagi warga sipil.
Menurut Aner, masyarakat Intan Jaya memiliki hak untuk hidup aman dan menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa dibayangi rasa takut akibat keberadaan kelompok bersenjata di sekitar permukiman. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa kampung-kampung harus tetap menjadi ruang aman bagi masyarakat, bukan dijadikan arena konflik.
“TPNPB tidak boleh beraktivitas di rumah-rumah masyarakat. Ketika aparat keamanan melakukan pengejaran, masyarakat yang tinggal di kampung berpotensi menjadi sasaran dalam insiden baku tembak. Jadi, sekali lagi TPNPB tolong tinggalkan kampung-kampung yang dihuni masyarakat sipil,” tegas Aner.
Ia menambahkan, apabila TPNPB tetap ingin melakukan kontak bersenjata dengan aparat keamanan, maka aktivitas tersebut tidak boleh dilakukan di sekitar kawasan pemukiman warga. Menurutnya, membawa konflik ke tengah masyarakat hanya akan memperbesar potensi jatuhnya korban dari kalangan yang tidak terlibat.
“Kalau mau kontak tembak dengan aparat, silakan cari lokasi yang kosong dan jadikan tempat perang. Jangan jadikan kampung-kampung tempat tinggal warga sebagai lokasi perang. Masyarakat sipil harus kita lindungi. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang menjadi korban,” ujarnya.
Pernyataan Bupati Intan Jaya tersebut muncul setelah insiden kontak tembak di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, yang mengakibatkan meninggalnya Okto Tigau. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa berdasarkan data aparat keamanan, Okto Tigau merupakan anggota TPNPB-OPM yang menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII Intan Jaya.
“Berdasarkan data yang dimiliki aparat keamanan, Okto Tigau diketahui merupakan anggota TPNPB-OPM yang menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya. Yang bersangkutan terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di Intan Jaya, antara lain penembakan terhadap aparat keamanan, penembakan pekerja sipil, penyiksaan warga, serta berbagai aksi intimidasi terhadap masyarakat,” jelas Wirya.
Ia menerangkan bahwa peristiwa bermula ketika personel TNI yang sedang melaksanakan pengamanan rutin mendeteksi empat orang bergerak secara sembunyi-sembunyi menuju pos pada malam hari. Personel kemudian memberikan peringatan secara bertahap sesuai prosedur, namun tidak mendapat respons.
“Peristiwa bermula ketika personel yang sedang melaksanakan tugas pengamanan mendeteksi empat orang bergerak secara sembunyi-sembunyi menuju pos pada malam hari. Sesuai prosedur, personel memberikan peringatan secara bertahap. Namun peringatan tersebut tidak direspons, dan sekitar pukul 22.00 WIT terjadi kontak tembak yang diawali oleh kelompok tersebut. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tiga orang melarikan diri, sementara satu orang terjatuh di sekitar lokasi,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Intan Jaya berharap seluruh pihak mengedepankan keselamatan masyarakat sipil serta mendukung berbagai langkah penegakan keamanan yang dilakukan sesuai ketentuan hukum, sehingga situasi kondusif dapat segera terwujud dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal.

