Pemkab Sleman Membuka Acara Orientasi Organisasi Pengurus PWI Kabupaten Sleman

Baca Juga

Mata Indonesia, Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menghadiri sekaligus membuka acara orientasi organisasi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sleman, pada Sabtu (6/4), bertempat di Omah Cemara Sego Pecel Blora, Tridadi, Sleman.

Dalam sambutannya, Danang mengaku senang dapat bertatap muka dan bersilaturahmi bersama insan pers yang ada di Kabupaten Sleman. Menurutnya wartawan memiliki peran yang sangat penting untuk mendorong serta mengawasi pembangunan di Kabupaten Sleman.

“Diskusi-diskusi seperti ini saya pengennya sering dilakukan, agar ada sinergi yang baik antara pemerintah dan wartawan. Karena dalam beberapa hal, kadang teman-teman wartawan ini lebih paham. Makanya diskusi seperti ini sangat penting,” ucapnya.

Sementara ketua PWI Kabupaten Sleman, Wisnu Wardhana, mengatakan kegiatan ini merupakan komitmen PWI Kabupaten Sleman untuk meningkatkan kapasitas pengurus, serta komitmen untuk menjalankan organisasi secara baik dan benar. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Sleman yang telah mendukung serta memfasilitasi jalannya kegiatan tersebut.

“Kami berharap ke depan kerja sama antara PWI Kabupaten Sleman dengan Pemerintah Kabupaten Sleman dapat terus berjalan dengan baik,” kata Wisnu.

Selain dihadiri pengurus PWI Kabupaten Sleman, acara ini juga menghadirkan dua pemateri. Diantaranya Sobirin selaku Wakil Ketua PWI DIY Bidang Organisasi yang menyampaikan materi “Orientasi Organisasi PWI Berdasar PD PRT PWI, Peran, Fungsi dan Tanggungjawab PWI Kabupaten/Kota. Pemateri kedua yakni Aris Herbandang, S.I.P, M.T., selaku Kabag Prokompin Kabupaten Sleman dengan materi “Sinergi Pemkab Sleman dan PWI dalam Upaya Mewujudkan Visi dan Misi Kabupaten Sleman”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hilirisasi dan Perluasan Lapangan Kerja bagi Masyarakat

Oleh: Alexander Royce*)Di tengah ketidakpastian ekonomi global, arah pembangunan nasional yang bertumpu pada hilirisasi semakin menunjukkan relevansinya sebagai strategi besar untuk memperluas lapangankerja dan meningkatkan kualitas pertumbuhan. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tampakmenempatkan hilirisasi bukan sekadar agenda industri, melainkan sebagai jalan transformasiekonomi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat: pekerjaan yang layak, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi. Dalam berbagai pernyataannya, Presiden menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alamIndonesia tidak boleh lagi berhenti pada ekspor bahan mentah, karena praktik itu selamabertahun-tahun justru membuat nilai ekonomi terbesar dinikmati negara lain. Pemerintah kinimendorong pengolahan dari hulu ke hilir agar setiap komoditas mampu melahirkan rantaiindustri baru di dalam negeri, dari smelter, manufaktur, hingga sektor teknologi turunan.Gagasan besar tersebut menjadi menarik karena tidak berhenti pada tataran visi. Tahun 2026, pemerintah telah memaparkan sedikitnya 18 proyek hilirisasi prioritas dengan nilai investasimencapai Rp618 triliun yang diproyeksikan menciptakan sekitar 276 ribu lapangan kerja baru. Proyek-proyek itu mencakup sektor strategis seperti aluminium, stainless steel, hilirisasi sawit, rumput laut, kelapa, hingga energi berbasis bioavtur dan DME. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi kini berkembang menjadi ekosistem industri lintas sektor yang membuka peluang kerja bagi tenaga terampil, lulusan vokasi, insinyur, hingga pelaku UMKM lokal yang masuk ke rantai pasok industri. Dalam konteks ini, hilirisasi bukan hanya proyekekonomi makro, tetapi mesin distribusi kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat luas. Presiden Prabowo Subianto melihat bahwa inti dari transformasi ini adalah mengakhirideindustrialisasi yang selama ini membuat Indonesia kaya bahan baku tetapi miskin nilaitambah. Karena itu, pernyataannya mengenai pentingnya mengolah bauksit menjadi alumina dan aluminium, atau kelapa menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti virgin coconut oil, sesungguhnya merupakan gambaran konkret bagaimana satu komoditas dapat melahirkan ribuanpekerjaan baru. Ketika industri pengolahan tumbuh di dalam negeri, kebutuhan terhadap tenagakerja manufaktur, logistik, riset, pemasaran, dan jasa pendukung ikut meningkat. Dampakbergandanya akan terasa hingga daerah-daerah penghasil bahan baku, yang selama ini hanyamenikmati manfaat ekonomi terbatas dari aktivitas ekstraktif. Pandangan ini diperkuat oleh Anggota Komisi XII DPR RI, Nevi Zuairina,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini