Keren! Bawa Pulang Banyak Medali, Arsy Hermansyah Ditawari Rekaman di Amerika

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Arsy Hermansyah putri pertaman dari pasangan Anang Hermansyah dan Ashanty berhasil mengharumkan Negara Indonesia dalam ajang World Champions of Permforming Arts di Amerika Serikat.

Anak perempuan berusia 7 tahun itu berhasil membawa pulang sebanyak delapan medali, enam medali emas dan 2 medali perak.

Selain memenangkan dan mendapatkan delapan medali, Arsy Hermansyah mendapatkan tawaran untuk melakukan rekaman lagu di Amerika Serikat.

“Arsy ditawarin ama salah satu juri yaitu produser untuk rekaman di sana,” ujar Ashanty.

Mengetahui hal itu, Arsy sangat antusias namun juga merasakan khawatir kala mendapatkan kesempatan itu.

“Arsy agak sedikit deg-degan soalnya Arsy gak mau tinggalin Negara Arsy juga kan, tapi Arsy seneng sih,” ucap Arsy.

Sementara itu, Ashanty selaku ibunda mengatakan bahwa masih harus memikirkan kesempatan yang ditawarkan kepada Arsy lantaran tidak ingin pendidikan sang anak terbengkalai.

“Karena dia kan masih sekolah jadi kita bakalan ngerembukin dulu sama keluarga di sini,” sahut Ashanty.

“Kalo aku sih maunya dia fokus utamain sekolah, tapi sekolah sama karir bisa balance ya,” imbuhnya.

Kendati demikian, istri dari Anang Hermansyah itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang berhasil diraih Arsy Hermansyah.

“InsyaAllah tahun depan, awal tahun kita bakal balik lagi buat ngurusin rekamannya dia,” pungkas Ashanty.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini