MUI: Puasa Arafah 9 Juli Tetap Sah, Meski di Mekkah Sudah Idul Adha

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Perbedaan perayaan Idul Adha di Indonesia tahun ini kembali terjadi. Tak hanya itu, penentuan waktu Idul Adha dari pemerintah Indonesia dengan pemerintah Arab Saudi juga berbeda.

Perbedaan penetapan waktu tersebut berdampak pada pergeseran waktu ibadah puasa Arafah. Puasa ini biasanya sehari sebelum Idul Adha dan berbarengan dengan wukuf di Padang Arafah.

Persoalannya banyak masyarakat yang mempertanyakan keputusan pemerintah yang ngotot berbeda pelaksanaan perayaan Idul Adhanya. Apalagi perbedaan waktu antara Indonesia dengan Arab Saudi hanya 4 jam dan tidak sampai 12 jam.

Kekhawatiran bahwa puasa sunah yang akan berlangsung sehari sebelum perayaan Idul Adha itu menjadi tidak sah. Dan pertanyaan ini banyak tertuju kepada ulama terutama Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Dalam hukum Islam, haram menjalankan puasa saat hari raya Idul Adha.

MUI menjawab, perbedaan penentuan waktu yang terjadi di belahan bumi lainnya adalah hal yang biasa terjadi. Hal ini karena ada perbedaan metode penghitungan waktu hijriah.

“Selain perbedaan metode tersebut, perbedaan kerap terjadi antara satu negara dan negara lain. Terutama jika standard 9 Zulhijah (9 Juli 2022) adalah terjadinya hari wukuf di Padang Arafah,” ujar MUI.

MUI menyarankan agar warga bisa mengikuti keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama.

Puasa Arafah pada 9 Juli di Indonesia menurut UI tetap bisa berjalan dengan sah karena bagian dari ijtihad yang pembenarannya oleh seluruh ulama. Meski di Mekkah yang bedanya hanya 4 jam sudah menjalankan perayaan Hari Raya Idul Adha.

MUI menuliskan, dasar hukumnya adalah pendapat Syafi’iyah bahwa tempat di luar 57 kilometer dari titik Mekah tidak wajib ikut dalam penentuan waktu Idul Adha. Untuk itu, penduduk yang berada di Indonesia bisa mengikuti ketentuan pemerintah terkait penentuan waktu Idul Adha.

“Pendapat Syafi’iyah inilah yang dianut saat ini di Indonesia karena ketentuan lebaran di Mekkah tidak diikuti sebab berbeda tempat terbitnya bulan,” tulis MUI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Strategi 3B dalam Program MBG Bangun SDM Unggul

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan darikualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibumenyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasimasa depan tumbuh sehat dan optimal. Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentanini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia. Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kuncidalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagilahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat. Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentukkualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.  Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalahmemastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang...
- Advertisement -

Baca berita yang ini