Maraknya Makanan Oplosan Babi, Begini Cara Membedakannya!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Merebaknya rendang babi membuat umat muslim semakin khawatir dengan kehalalan makanan yang dikonsumsinya. Pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan aturan untuk mengetahui apakah produk ini mengandung babi atau campuran babi dan sapi.

Namun tetap saja ada orang yang mencoba-coba mencampurkan daging babi dalam produk makanan buatannya supaya bisa dikonsumsi umat Muslim. Misalnya paling gampang adalah bakso.

Nah, hati-hati biasanya bakso babi akan tercium aroma khas daging babi yang lebih amis dari daging sapi. Untuk urusan tekstur, daging babi akan mudah pecah bila ditusuk sendok. Soal harga, penjual baso akan menaruh harga yang murah untuk dagangannya.

Nah, kalau produk produk di swalayan yang belum tersertifikasi halal namun sudah dijual bebas, biasanya dari kandungannya kita bisa mengetahui apakah produk tersebut mengandung babi atau tidak.

Berikut adalah istilah yang digunakan dalam produk yang mengandung/menggunakan unsur babi, antara lain:

  1. PIG: Istilah umum untuk seekor babi atau sebenarnya babi muda, berat kurang dari50 kg.
  2. PORK: Istilah yang digunakan untuk daging babi di dalam masakan.
  3. SWINE: Istilah yang digunakan untuk keseluruhan kumpulan spesies babi.
  4. HOG: Istilah untuk babi dewasa, berat melebihi 50 kg.
  5. BOAR: Babi liar / celeng / babi hutan.
  6. LARD: Lemak babi yang digunakan untuk membuat minyak masak dan sabun.
  7. BACON: Daging hewan yang disalai, termasuk/terutama babi.
  8. HAM: Daging pada bagian paha babi.
  9. SOW: Istilah untuk babi betina dewasa (jarang digunakan)
  10. SOW MILK: susu babi.
  11. PORCINE: Istilah yang digunakan untuk sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi. Porcine sering digunakan di dalam bidang pengobatan/ medis untuk menyatakan sumber yang berasal dari babi.

Reporter: Fadila Aliah Hakim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini