15.000 Kambing Senilai Rp 58 miliar Tenggelam di Sudan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-15 ribu kambing mati setelah sebuah kapal tenggelam di pelabuhan Red Sea, Sudan kemarin.

Kapal pengangkut ternak itu akan mengekspor kambing dari Sudan ke Arab Saudi ketika muatan kapal ternyata melampaui kapasitas seharusnya.

“Kapal Badr 1 itu tenggelam dini hari Minggu,” kata pejabat senior pelabuhan, seperti dilansir laman Aljazeera, Senin 13 Juni 2022.

Pejabat itu mengatakan kapasitas kapal seharusnya hanya membawa 9.000 kambing. Pejabat Sudan lain mengkhawatirkan dampak ekonomi dan lingkungan atas kejadian ini.

“Kapal tenggelam itu akan berdampak pada operasional pelabuhan,” kata si pejabat. “Dan juga pasti ada dampak lingkungan karena banyaknya hewan yang mati tenggelam.”

Ketua asosiasi eksportir nasional, Umar Al-Khalifa mengatakan kapal itu butuh beberapa jam untuk tenggelam, artinya seharusnya kambing-kambing itu bisa diselamatkan.

Total nilai ekspor kambing itu adalah 4 juta US dolar senilai Rp 58 miliar, kata Salih Salim, kepala divisi peternakan dari asosiasi. Kambing-kambing itu dinaikkan ke kapal di pelabuhan Suakin.

Dia mengatakan pemilik ternak itu hanya mampu menyelamatkan sekitar 700 kambing “tapi kondisinya sakit dan harapan hidupnya tidak lama.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini