Kebakaran Hebat, Ribuan Pengungsi Rohingya Kehilangan Tempat Tinggal

Baca Juga

MATA INDONESIA, COX’S BAZAR – Ribuan orang kehilangan tempat tinggal setelah kebakaran hebat menghanguskan 1,200 shelter pengungsi Rohingya, Myanmar di Bangladesh.

Sekitar 850 ribu pengungsi Rohingya yang dianiaya di Myanmar – banyak di antaranya lolos dari penumpasan militer tahun 2017 yang menurut penyelidik PBB dieksekusi dengan “niat genosida”, tinggal di jaringan kamp di distrik perbatasan Cox’s Bazar, Bangladesh.

“Sekitar 1.200 rumah hangus terbakar,” kata Kamran Hossain, juru bicara Batalyon Polisi Bersenjata, yang mengepalai keamanan di kamp tersebut, melansir Arab News, Senin, 10 Januari 2022.

Kamran mengatakan bahwa api mulai menyala di Kamp 16 dan menjalar melalui tempat perlindungan yang terbuat dari bambu dan terpal, menyebabkan lebih dari 5.000 pengungsi kehilangan tempat tinggal.

“Api mulai berkobar sekitar pukul 16.40 WIB. (1040 GMT) dan berhasil dikendalikan sekitar pukul 18:30,” sambungnya kepada AFP.

Salah satu pengungsi, Abdur Rashid, mengungkapkan api begitu besar sehingga dia lari untuk menyelamatkan diri karena rumah dan perabotannya dilalap api.

“Semua yang ada di rumah saya terbakar. Bayi dan istri saya sedang keluar. Ada banyak barang di rumah,” katanya.

“Saya menghemat 30.000 taka (350 USD) dari bekerja sebagai buruh harian. Namun, uang tersebut ludes terbakar. Saya sekarang berada di bawah langit terbuka. Saya kehilangan semua mimpi,” sambungnya.

Pada Maret tahun lalu, setidaknya 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan sekitar 50.000 orang kehilangan tempat tinggal di Bangladesh setelah kebakaran hebat menghancurkan rumah-rumah Rohingya di pemukiman pengungsi terbesar di dunia.

Pengungsi lain bernama Mohammad Yasin, mengeluhkan kurangnya peralatan keselamatan kebakaran di kamp-kamp.

“Kebakaran sering terjadi di sini. Tidak mungkin kami bisa memadamkan api. Tidak ada air. Rumah saya terbakar. Banyak dokumen yang saya bawa dari Myanmar juga dibakar. Dan di sini dingin,” katanya.

Bangladesh dipuji karena menerima pengungsi Rohingya yang terus berdatangan melintasi perbatasan dari Myanmar, tetapi hanya sedikit berhasil menemukan rumah permanen bagi mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini