Pernah Kecanduan Film Porno, Billie Eilish Sering Mengalami Mimpi Buruk

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON  – Dalam sebuah wawancara dengan SiriusXM, dalam acara Howard Stern Show, Billie Eilish, penyanyi sekaligus penulis muda berbakat asal Amerika Serikat, blak-blakan mengenai hal tak terduga yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Ia mengatakan pernah kecanduan film porno sejak berusia 11 tahun. Ia juga mengaku, pasca menonton film porno “kasar” yang penuh kekerasan, ia selalu mengalami mimpi buruk. Ia sangat hancur.

Bahasan mengenai porno tersebut bermula ketika Eilish sedang membicarakan lagu “Male Fantasy” di album barunya, yakni “Happier Than Ever”. Kini ia menganggap bahwa porno adalah aib.

Tadinya ia berpikir bahwa seks mampu membuatnya tertarik, namun ternyata tidak demikian. Bahkan dulunya ia selalu mengiyakan ajakan seks seperti itu.

Eilish mengaku, dulunya ia memang tidak mengerti jika hal tersebut dapat berdampak buruk bagi mental seseorang. Ia berpikir bahwa itu adalah bentuk edukasi seksualitas. Ia belum melihat adanya hal negatif dalam ponografi “kasar” tersebut.

Ia merasa tidak akan mengalami dampak buruk terhadap hal itu, bahkan ia merasa sudah menjadi bagian dari “film porno” akibat kecanduannya.

Sebelum mengalami dampak buruk, Eilish menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang lumrah.

Mengenai adegan pornografi yang “kasar” itu, ibunya pun merasa ngeri.

Tumbuh makin dewasa telah membuat cara berpikirnya menjadi lebih terbuka. Saat ini ia sangat memedulikan citra tubuh dan mengkritik cara film porno mengekspos tubuh wanita secara bebas.

Eilish sangat yakin, bahwa film pornolah yang menjadi penyebab mimpi buruknya. Film porno berhasil menghancurkan otaknya.

Ini menjadi permasalahan nyata yang dapat merusak pemahaman yang lebih luas mengenai standar normal berhubungan seks.

Hal ini dipertegas oleh beberapa ahli berfokus pada kesejahteraan anak, termasuk pula UNICEF. Mereka memaparkan, pornografi sangat berbahaya bagi anak-anak, terkhusus lagi pornografi yang penuh dengan adegan kekerasan.

Pornografi dengan adegan kekerasan dapat merusak mental anak dan sangat mempengaruhi kondisi psikologis anak.

Tak hanya membahas mengenai masalah pornografi, dalam wawancara tersebut Eilish juga bercerita pernah terpapar Covid-19 selama dua bulan, padahal ia sudah divaksinasi.

Reporter: Intan Nadhira Safitri

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menjaga Aspirasi Tetap Murni di Tengah Agenda Pemulihan Ekonomi

Oleh: Dhita Karuniawati )*Demokrasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, masukan, dan aspirasi kepada pemerintah. Kebebasan berpendapat menjadi salah satu fondasipenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena memungkinkan lahirnyakebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan publik. Namun, di tengah upayamemperkuat pemulihan ekonomi nasional, penyampaian aspirasi perlu tetap dijagaagar tidak kehilangan substansinya akibat tindakan yang justru merugikan masyarakatluas.Demonstrasi merupakan instrumen demokrasi yang sah dan telah menjadi bagian dariperjalanan sejarah Indonesia. Berbagai perubahan kebijakan lahir dari dialog yang diawali oleh kritik masyarakat. Oleh karena itu, penyampaian aspirasi yang dilakukansecara damai dan bertanggung jawab bukan hanya menjadi hak warga negara, tetapijuga bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan nasional.Di era digital, dinamika penyampaian aspirasi tidak lagi hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga di media sosial. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik dan memengaruhi persepsi masyarakat secara luas. Kondisi ini membuka peluang bagimunculnya disinformasi, provokasi, maupun narasi yang dapat memperkeruh situasiapabila tidak disikapi secara bijaksana. Karena itu, kedewasaan dalam bermedia sosialmenjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kualitas demokrasi.Dalam konteks tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajakmahasiswa untuk menjaga ketertiban dalam menyampaikan aspirasi sertameningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hoaks dan berbagai bentukprovokasi di ruang digital yang berpotensi memicu eskalasi situasi. Imbauan tersebutjuga menekankan pentingnya penggunaan media sosial secara bertanggung jawabagar ruang digital tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang menyesatkan dan dapat mengganggu stabilitas sosial. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat ruang digital kini memiliki pengaruh besarterhadap dinamika di lapangan. Narasi yang dibangun melalui media sosial mampumenggerakkan opini publik, bahkan memicu tindakan spontan yang belum tentudidasarkan pada informasi yang utuh. Oleh sebab itu, literasi digital menjadi kebutuhanmendesak agar masyarakat dapat memilah informasi secara kritis sebelummenyebarkannya.Di sisi lain, organisasi kemahasiswaan juga menunjukkan komitmen terhadappenyampaian aspirasi yang bermartabat. Ketua Umum Pimpinan Pusat KesatuanMahasiswa Hindu Dharma Indonesia...
- Advertisement -

Baca berita yang ini