Adzan, Bilal, dan Islam

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Islam diturunkan Allah SWT melalu Nabi Muhammad SAW. Agama ini bukan diturunkan hanya dalam bentuk nilai-nilai yang abstrak, melainkan juga dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut syariat Islam.

Syariat Islam adalah tata aturan atau hukum-hukum Allah SWT yang mengatur tata hubungan manusia dengan Allah SWT dan manusia dengan manusia. Dan salah satu bentuk hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan melalui doa dan ibadah shalat.

Berbicara mengenai shalat, umumnya kita mendengar suara kumandang adzan yang merupakan tanda dan panggilan untuk setiap umat Islam menjalankan shalat. Adzan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah.

Mulanya, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana metode memberitahu masuknya waktu shalat dan mengajak umat Muslim agar berkumpul di masjid guna menjalankan shalat berjamaah.

Orang-orang mengumumkan dengan suara keras, panggilan shalat dengan “As-salat ul-jamiah (Shalat untuk jama’ah sudah siap).” Mereka yang mendengar panggilan ini lalu datang ke masjid untuk menjalankan shalat secara berjamaah.

Beberapa sahabat menyarankan meniup terompet untuk mengumumkan waktu shalat – layaknya umat Yahudi. Sementara yang lain mengatakan untuk membunyikan lonceng seperti yang dilakukan umat Kristen di gereja. Sisanya mengusulkan agar umat Islam – seperti para penyembah api, menyalakan api untuk memanggil orang-orang untuk berdoa.

Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW merasa tidak puas dengan sederet ide dan masukan tersebut. Beliau menunggu untuk mendengar ide yang lebih baik atau untuk menerima bimbingan dari Allah SWT.

Suatu hari, seorang Sahabat, Abdullah bin Zaid datang kepada Nabi Muhammad (SAW) dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku bermimpi indah tadi malam.”

“Apa mimpi yang kamu lihat,” Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Zaid.

“Saya telah melihat seorang pria yang mengenakan pakaian hijau mengajari saya kata-kata adzan dan menyarankan saya untuk memanggil orang-orang untuk sholat dengan kata-kata ini,” kata Zaid seraya membacakan kata-kata adzan.

Berikut kata-kata tersebut:

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allahu Akbar, Allahu Akbar

Ash-hadu allaa illaha ilAllah
Ash-hadu allaa illaha ilAllah

Ash-hadu anna Muhammadar Rasul-Allah
Ash-hadu anna Muhammadar Rasul-Allah

Hayya ‘alas salaah, hayya ‘alas salaah
Hayya ‘alas salaah, hayya ‘alas salaah

Hayya ‘alal falaah, hayya ‘alal falaah
Hayya ‘alal falaah, hayya ‘alal falaah

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allahu Akbar, Allahu Akbar

La illaha il-Allah

Mendengar kata-kata yang indah dan penuh makna, Nabi Muhammad SAW pun mengakui bahwa mimpi Zaid adalah benar dari Allah SWT. Beliau lalu meminta Zaid untuk mengajarkan kata-kata adzan kepada Bilal.

Nabi Muhammad SAW selanjutnya memanggil Bilal bin Rabbah, seorang budak Abyssinia yang dibebaskan, karena dia memiliki suara yang nyaring dan indah. Bilal bin Rabbah menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam.

Ketika Bilal bin Rabbah telah mempelajari kata-kata tersebut, Nabi Muhammad SAW memintanya untuk memanjat tembok tinggi di sebelah masjid dan memanggil orang-orang untuk shalat dengan suara yang kini dikenal sebagai adzan. Suara Bilal bin Rabbah bergema di seluruh Madinah dan umat Muslim pun berlarian menuju Masjid Al-Nabawi.

Umar bin Khattab adalah salah satu orang yang datang dan berkata: “Wahai Rasulullah, seorang malaikat mengajariku kata-kata yang sama dalam mimpiku tadi malam.” Dan sejak saat itulah Nabi Muhammad SAW menerima adzan sebagai panggilan resmi untuk shalat.

Reporter: Sheila Permatasari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Optimalkan Sekolah Rakyat untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Oleh: Yoga Pradana SantosoPemerintah terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasionalmelalui percepatan dan optimalisasi program Sekolah Rakyat yang kini menunjukkan progressignifikan di berbagai daerah, sekaligus menjadi bukti bahwa pemerataan akses pendidikan tidaklagi sebatas wacana, melainkan telah dijalankan secara konkret dan terukur sebagai bagian dariagenda pembangunan sumber daya manusia. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah jugamencatat berbagai keberhasilan penting, mulai dari percepatan pembangunan infrastrukturpendidikan, peningkatan akses belajar di wilayah tertinggal, hingga penguatan kolaborasi lintaskementerian yang berdampak langsung pada masyarakat, sehingga kehadiran Sekolah Rakyat menjadi simbol nyata investasi jangka panjang negara dalam menciptakan generasi yang lebihberkualitas dan berdaya saing.Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengungkapkan bahwa pembangunan SekolahRakyat tahap kedua terus berjalan dengan progres yang menggembirakan meskipun dihadapkanpada sejumlah tantangan di lapangan, terutama terkait kesiapan lahan dan akses menuju lokasipembangunan, sementara peran Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PekerjaanUmum Bisma Staniarto dinilai sangat krusial dalam menjaga ritme pembangunan agar tetapsesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menilai koordinasi teknis yang dilakukan secara konsisten menjadi faktor kunci dalam memastikan setiap hambatan dapatdiatasi secara terukur sehingga proyek tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dari pusathingga daerah.Lebih lanjut, pembangunan Sekolah Rakyat tahap kedua tidak hanya berfokus pada penyelesaianfisik bangunan, tetapi juga memastikan kesiapan operasional agar sekolah dapat langsungdigunakan pada tahun ajaran baru 2026/2027, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan olehmasyarakat. Berdasarkan data terbaru, dari total 104 lokasi pembangunan, sebanyak 101 lokasitelah memasuki tahap konstruksi dan seluruhnya ditargetkan rampung pada 20 Juni 2026, sebuahcapaian yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan sektor pendidikan sebagaiprioritas utama pembangunan nasional.Dalam upaya memastikan target tersebut tercapai, Muhammad Qodari menegaskan bahwaKantor Staf Presiden bersama Ditjen Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum terusmelakukan langkah konkret melalui rapat koordinasi intensif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN karya dan penyedia jasa konstruksi, sehingga setiap persoalan yang muncul, baik terkait teknis, logistik, maupun kesiapan lahan, dapat dipetakan secara komprehensif danditangani dengan solusi yang jelas dan terukur.Koordinasi tersebut kemudian diperluas dengan melibatkan Kementerian Sosial, KementerianDalam Negeri, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan, serta Zeni TNI Angkatan Darat, yang dinilai mampu mempercepat penyelesaian berbagai hambatan strategis di lapangan, termasukpembangunan akses jalan dan penuntasan persoalan lahan di sejumlah wilayah, di mana sinergilintas sektor ini menjadi kunci dalam mempercepat realisasi program secara menyeluruh danmemastikan tidak ada kendala yang berlarut-larut.Hasil dari upaya percepatan tersebut mulai terlihat di sejumlah wilayah dengan progrespembangunan yang cukup signifikan, seperti di Kalimantan Selatan yang mencapai 30,85 persen, Sulawesi Selatan sebesar 30,22 persen, serta Jawa Barat sebesar 28,07 persen, meskipunpemerintah tetap memberikan perhatian khusus pada beberapa lokasi dengan progres yang masihrendah melalui intervensi yang lebih intensif agar target penyelesaian secara keseluruhan tidakterganggu.Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk memperluas aksespendidikan bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak bencana maupun daerahdengan keterbatasan infrastruktur pendidikan, sehingga anak-anak dari keluarga prasejahteratetap dapat memperoleh pendidikan formal yang layak. Program ini dirancang sebagai investasijangka panjang dengan target penyelesaian yang terukur agar dapat segera dimanfaatkan, sekaligus menjadi bagian dari upaya negara dalam menjamin hak pendidikan bagi seluruh wargatanpa terkecuali.Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah juga mempercepat penambahanprogram Sekolah Rakyat yang ditargetkan mulai beroperasi pada April 2026, di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini