Indonesia Bangkit Bersama Rerumputan

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Bangkit itu hanya bisa terjadi ketika seseorang pernah mengalami suatu kejatuhan secara pribadi maupun bersama sebagai sebuah komunitas atau lembaga.

Tanpa jatuh, orang tak pernah bisa bangkit karena dengan kejatuhan setiap orang belajar cara untuk bangkit dan bisa berdiri dengan tegak lagi. Hal yang paling penting bukanlah berapa banyak kali orang terjatuh tapi bagaimana orang mampu bangkit dari kejatuhannya dan berusaha menggunakan akal dan pikirannya untuk tidak jatuh pada lubang yang sama. Namun bila memang harus jatuh lagi, tak menjadi soal juga karena proses bangkit itu jaminan seumur hidup.

Pada 17 Agustus 2021, Indonesia telah berusia 76 tahun dengan semangat tangguh dan tumbuh. Hal ini adalah sebuah anugerah yang patut untuk dibanggakan. Penulis bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Penulis mengakui bahwa suka dan duka adalah santapan harian dari generasi ke generasi.

Proses menjadi bangsa pun tak pernah berakhir karena ini adalah sebuah kisah hidup dan perjalanan yang tak pernah usai karena proses untuk menjadi tangguh dan tumbuh harus berlangsung baik dari lintas suku, agama maupun generasi bahkan yang terutama dari setiap pribadi. Menjadi tangguh dan tumbuh pun bukanlah hal yang mudah dan bukan pula hal yang terlampau sulit. Penulis menyadari bahwa sebagai sebagai warga negara yang baik, penulis perlu “Merumput” agar mampu bangkit, tangguh dan tumbuh secara seimbang. “Bagaimana penulis menjadi pribadi yang merumput?”

Lingkungan tempat penulis berinteraksi pun penuh dengan rumput dan penulis sudah mengenal rumput sejak masih kecil. Orang tua penulis sering bermain dengan rumput agar bisa menghasilkan makanan. Penulis mengenal rumput melalui mereka dan mampu mendefinisikan apa itu rumput melalui sekolah.

Rumput dalam pemahaman penulis adalah tumbuhan yang berbatang kecil dan beruas, memiliki daun yang panjang dan sempit. Rumput adalah tumbuhan unik yang mudah dijumpai di berbagai tempat dan berbagai situasi. Dia terlihat kecil namun sebenarnya adalah tumbuhan yang tangguh dan tumbuh. Keistimewaan rumput membuat penulis merefleksikan bahwa bangsa Indonesia perlu belajar dari rumput.

Melalui berbagai pengalaman hidup penulis menemukan bahwa rumput bisa hidup di berbagai tempat dan tidak banyak memerlukan syarat untuk bertumbuh. Pada tanah yang berbatu, rumput akan tetap bisa mencari celah untuk hidup. Demikian juga pada tanah kering, basah, tandus bahkan hanya beralas pasir dan di dasar lautan pun selalu ada rumput.

Rumput adalah tumbuhan yang sering dipangkas, sering diinjak dan mudah untuk dicabut sampai ke akar-akarnya namun dia tak menyerah karena justru di situ ada kekuatan yang tersembunyi. Ketika dipangkas, dia akan tumbuh lagi dengan tunas-tunas baru dan bahkan terlihat lebih indah. Ketika diinjak, dia akan merunduk sebentar lalu bangun lagi seperti sediakala dan ketika dicabut hingga ke akar-akarnya, selalu ada benih-benih baru yang bangkit dan muncul serta siap untuk bertumbuh.

Penulis sadar bahwa ada begitu banyak fenomena yang dihadapi bangsa Indonesia. Penulis menerjemahkah fenomena tersebut ibarat “kejatuhan” dalam bentuk ketidakadilan sosial, berbagai kekerasan yang mengatasnamakan agama, ancaman terorisme dan kerusakan ekologi. Hal ini membuat sebagian besar masyarakat termasuk penulis merasa dipangkas dan diinjak dengan ketidakpercayaan terhadap orang -orang yang memiliki kedudukan yang penting namun demikian sebagian besar orang dan penulis juga bersyukur karena selalu ada ide-ide dan pemikiran kreatif dari sebagian kecil orang yang membuat kami kembali bangun dan siap untuk bangkit dan bertumbuh, baik secara pribadi maupun bersama sebagai komunitas dalam pola pikir dan tingkah laku.

Penulis secara pribadi menyaksikan sendiri bahwa rumput adalah tumbuhan kecil yang paling tangguh. Ketika ada hujan lebat dan banjir, banyak tumbuhan yang terlihat kokoh dan menjulang tinggi justur akan beresiko tumbang hingga ke akar-akarnya dan ketika telah tumbang maka sulit untuk bangun. Namun hal ini tidak berlaku bagi rumput.

Rumput berani menghadapi badai topan hujan lebat dan banjir. Dia tak perlu bersedih karena menjadi yang terkecil. Rumput tak pernah tumbang ataupun patah. Tubuhnya hanya sedikit merunduk namun beberapa saat kemudian setelah bencana berlalu, dia akan kembali berdiri dengan tegar. Bangsa Indonesia sekarang masih dilanda pandemi covid.

Ada banyak dari masyarakat Indonesia yang menjadi korban dari wabah ini. Ada banyak hal yang telah dilakukan namun serasa tidak berhasil. Banyak orang yang protes dan tidak mau divaksin dengan berdalih bahwa ada yang sengaja dicovidkan oleh tenaga kesehatan, ada yang berdalih kalau ini adalah virus rekayasa, mafia bisnis dan politik industri obat. Sebagai warga negara yang baik, penulis sadar bahwa ini adalah sebuah fenomena “kematian akal” yang perlu untuk dibangkitkan.

Indonesia perlu berbangga karena memiliki pemerintah dan tenaga kesehatan yang kuat dan tanggap sehingga telah berupaya membuat masyarakat bangkit sedemikan rupa dengan menyediakan vaksin gratis serta menghimbau masyarakat dan penulis untuk senantiasa taat pada protokol kesehatan secara bersama dan pribadi untuk menjaga diri sendiri dan orang lain.

Penulis sangat bersyukur karena setiap hari angka kesembuhan semakin meningkat dan banyak orang terselamatkan dengan program pemerintah ini. Sebagai generasi masa kini, penulis perlu untuk merunduk dalam hal taat pada protocol kesehatan, bersedia divaksin bila memenuhi syarat dan mendengarkan himbauan-himbauan dari para senior yang telah banyak makan garam agar mampu membawa perubahan yang besar bagi bangsa tercinta ini karena ketika penulis tetap bertahan dengan ide-ide penulis yang tinggi maka pasti penulis akan mudah jatuh dan patah hingga tak bisa bangun lagi. Masa pandemi ibarat sebuah batu yang tiba-tiba dilemparkan ke penulis.

Penulis tak perlu mencari tahu siapa yang melempar, jenis batunya apa atau beratnya berapa karena kepala penulis jauh lebih berharga dari batu yang ada. Penulis hanya perlu menghindar melalui ketaatan penulis pada protocol kesehatan dan vaksinasi agar penulis bisa menyelamatkan kepala penulis.

Bangsa Indonesia dengan generasi masa kini yang penuh dengan berbagai keunggulan perlu belajar dari semangat rumput yang dengan tangguh menghadapi berbagai persoalan dan tidak pernah menyerah dan putus asa melainkan senantiasa memiliki daya juang untuk bangkit, bertumbuh dan terus hidup dalam segala situasi, agar mampu memberikan yang terbaik tidak hanya bagi diri sendiri namun juga banyak orang.

Penulis: Maria Christin Imaculata Bulu Manu

  • Instagram: @milacjd

14 KOMENTAR

  1. Saya sangat apresasi untuk tulisan ini karena cara pandang dari penulis sangat luar biasa dalam mengulas masalah yang terjadi di negara ini meski itu hal kecil yang tdk disadari oleh semua orang. Saya berharap rumput yang kecil juga harus berdamai dengan air agar tetap hidup maksdunya adalah meskipun masyarakatnya banyak haruslah mengikuti program pemerintah agar Negara ini bisa berkembang dan kesejahrteraan dirasakan oleh semua warganegara bkn hanya kelompok rumput tertentu (kelompok tertentu saja). terimakasih

  2. Jadilah seperti rumput, walau dipotong/dipangkas tetap bertumbuh untuk memberikan hasil yg baik.

    Trimaksih untuk goresannya sista.

    Salam sehat & sukses selalu.

  3. Bukan main…pandangan penulis ttng keadaan yg sdng dasyat ini. Menimpali kalimat yg tertoreh dalam wacana tsb sungguh luar biasa keadaan rerumputan bagaikan baja besi yg dapat diterpa disegala sedut. Saya yakin tulisan ini bakal melejid sempurna di media manapun.

    Salam sehat selalu untuk kita semua….

  4. Wooouuuu…keren Sr, menyadarkan saya, jgn iri melihat orang lain dengan segalanya, bak pohon tinggi yg kokoh, sementara saya terlihat kecil spt tak berharga, ternyata semua sdh ada anugrahnya masing², fisik tidak menjamin utk hidup survive yaa..

    Selamat berkarya utk banyak orang….
    Love you Sr. ?

    • Terima kasih Mom,,benar bangt setiap org punya anugrah dan klbihan masing,?, tinggl bgmaina kelebihn n anugrah itu disadari, dsyukuri dan d kembangkan…
      Slam sehat selalu Mama syg. Tuhan Yesus memberkati. Amin

  5. Rumput menjadikan pemandangan menjadi sejuk dan asri…enak dilihat…adem ayem tentrem. Indonesia bangkit…utk generasi yg tangguh dan maju. Selamat berkarya Sr.BD???

  6. Ulasan yang bagus. Filosofi rumput, bisa dipahami oleh masyarakat luas. Allah senantiasa mengajarkan kita melalui alam sekitar kita. Kita hanya dituntut untuk membuka diri, hati, mata dan pikiran untuk belajar kehidupan dari alam sekitar kita. Teruslah berkarya. Terima kasih sudah mau berbagi refleksi yang bermakna ini. ???

  7. Tak disangka ternyata rumput itu bukan hanya sekedar tumbuhan belaka namun memiliki makna yang sangat mendalam dan hebat. Terima kasih sudah menghadirkan karya yang luar biasa dari hal-hal yang tampak biasa ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih, Perisai Baru Ekonomi Petani

Oleh : Rivka Mayangsari*)Pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan melalui percepatan pembangunanKoperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di berbagai wilayah Indonesia. Program ini hadir sebagailangkah strategis untuk melindungi petani, peternak, dan pelaku usaha kecil dari ketidakpastianpasar sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa. Di tengah tantangan ekonomi global dan fluktuasi harga pangan, Koperasi Merah Putih diposisikan sebagai perisai baru ekonomirakyat yang mampu menghadirkan stabilitas, kepastian usaha, dan pemerataan kesejahteraan.Pembentukan Koperasi Merah Putih dirancang secara khusus untuk memutus panjangnya rantaipasok distribusi bahan pangan yang selama ini dinilai merugikan masyarakat desa. Selamabertahun-tahun, petani dan peternak sering berada pada posisi lemah akibat ketergantunganterhadap tengkulak dan pembeli besar yang menentukan harga secara sepihak. Akibatnya, keuntungan ekonomi lebih banyak dinikmati pihak tertentu, sementara produsen utama justrumemperoleh margin yang kecil.Melalui koperasi, pemerintah ingin membangun sistem distribusi yang lebih adil dan transparan. Lembaga ini akan menjadi penyerap utama hasil produksi masyarakat, termasuk gabah dankomoditas pangan lainnya, dengan harga yang menguntungkan petani. Kebijakan tersebutmemberikan jaminan pendapatan yang lebih stabil, terutama saat harga pasar mengalamipenurunan drastis. Kehadiran koperasi membuat petani tidak lagi dihantui ketidakpastian hargayang selama ini menjadi persoalan utama di sektor pertanian.Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pemerintah pusat telahmenyiapkan target kerja sama dan dukungan logistik di seluruh wilayah untuk memastikankeberhasilan program tersebut. Menurutnya, Koperasi Merah Putih memiliki mandat utamauntuk menjamin keuntungan bagi setiap produsen di sektor pangan primer. Peran koperasi tidakhanya sebagai lembaga ekonomi biasa, tetapi juga sebagai instrumen negara dalam menjagastabilitas harga komoditas unggulan masyarakat desa.Pemerintah memandang bahwa stabilitas harga merupakan faktor penting dalam menjagakeberlangsungan ekonomi masyarakat kecil. Dengan sistem distribusi yang dikelola secarakolektif melalui koperasi, nilai jual hasil pertanian dapat lebih terkendali dan tidak mudahdipermainkan oleh spekulan pasar. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi tawar petani danpeternak dalam rantai perdagangan nasional.Selain berfungsi sebagai penggerak ekonomi, Koperasi Merah Putih juga akan menjadi pusatlayanan sosial masyarakat desa. Pemerintah menegaskan bahwa koperasi akan difungsikansebagai prasarana distribusi bantuan tunai dan barang kebutuhan pokok bersubsidi agar lebihtepat sasaran. Sistem berbasis keanggotaan dan pengawasan di tingkat desa dinilai mampumemperkuat transparansi sekaligus mencegah praktik penyelewengan bantuan sosial.Koordinasi antara pemerintah desa dan pengelola koperasi diharapkan mampu menciptakansistem distribusi bantuan yang lebih tertib, efisien, dan akuntabel. Dengan demikian, manfaatprogram pemerintah benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Kehadiran koperasi bukan hanya memperkuat ekonomi desa, tetapi juga memperkuat keadilansosial di tingkat akar rumput.Koperasi Merah Putih juga diyakini mampu mempercepat laju ekonomi masyarakat desa secarakeseluruhan. Selama ini, banyak pelaku usaha kecil kesulitan mendapatkan akses modal usahayang sehat dan pasar yang luas. Kondisi tersebut membuat perputaran ekonomi desa berjalanlambat dan kurang kompetitif. Melalui koperasi, masyarakat memiliki wadah bersama untukmembangun sistem ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.Hasil pertanian, peternakan, hingga produk UMKM dapat dipasarkan secara kolektif sehinggamemiliki nilai jual yang lebih baik. Sistem ini memungkinkan efisiensi distribusi sekaligusmemperluas akses pasar. Dampaknya, daya beli masyarakat meningkat dan peluang usaha barusemakin terbuka. Ekonomi desa yang sebelumnya berjalan secara terpisah kini dapat bergeraksecara kolektif dan lebih kuat.Kehadiran koperasi juga menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadapmonopoli harga. Selama ini, petani dan pelaku usaha kecil sering kali tidak memiliki pilihanselain menjual hasil produksinya kepada tengkulak dengan harga rendah. Dengan koperasi, masyarakat memiliki kekuatan bersama untuk menentukan harga yang lebih adil dan stabil.Komitmen pemerintah dalam mempercepat pembangunan Kopdes Merah Putih juga ditegaskanlangsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Presiden mendorong koperasi desa menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu menciptakan pemerataan pembangunan hingga ke pelosoknegeri. Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Komarudin, turut mengajak pemerintah desa untukmengoptimalkan peran koperasi dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang kuat danberkelanjutan.Berdasarkan data Kementerian Desa, saat ini telah dibangun sekitar 34.000 unit Kopdes MerahPutih di seluruh Indonesia, dengan sekitar 5.500 unit di antaranya telah selesai dibangun. Angkatersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat pembangunan ekonomiberbasis desa.Dengan dukungan pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, Koperasi Merah Putih kini hadirsebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Koperasi bukan lagi sekadar lembaga usaha, melainkan benteng perlindungan ekonomi masyarakat desa yang mampu menjaga stabilitasharga, memperkuat kesejahteraan petani, dan menciptakan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih adil dan mandiri.*) Pemerhati ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini