Jejak Tapak Artileri di Dunia Militer

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Tidak berlebihan jika ada yang menyatakan bahwa artileri telah mendampingi manusia. Bahkan sejak sejarah peperangan itu ada.

Sebabnya, mulai dari ketapel, onager, trebuchet, dan busur, oleh sejarawan militer semua itu disebut sebagai artileri. Jika diartikan secara umum, artileri merupakan sebutan lain untuk kesenjataan, pengetahuan kesenjataan, pasukan serta persenjataannya sendiri yang berupa senjata-senjata berat jarak jauh.

Istilah artileri digunakan untuk menyebut alat berat apapun yang menembakkan proyektil di medan perang. Pun dipakai untuk mendeskripsikan tentara yang tugasnya menjalankan alat-alat tersebut.

Dengan ditemukannya pesawat terbang pada awal abad ke-20, artileri menambah fungsinya sebagai senjata darat antiserangan udara. Bisa dikatakan, artileri merupakan persenjataan darat paling mematikan dan paling efektif.

Gak percaya? Lihatlah,  Perang Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sebagian besar kematian disebabkan pertempuran artileri. Pada tahun 1944, Joseph Stalin pun mengatakan bahwa artileri adalah “God of War”.

Sedangkan perwira artileri yang paling terkenal dalam sejarah mungkin Napoleon. Belum lagi, beberapa kuotasi menunjukkan dominannya peran artileri dalam peperangan.

Contoh saja “The King of Battles!” (Mayjen HG Bishop, Field Artillery, 1935), lalu “An Infantryman’s best friend is not his mother It’s the artillery, brotheff,” (Anonim, Fort Benning, Georgia, 1931)

“No matterhowhighly trained the in/antryand otherbranches maybe, there is no action until the artillery is ready.”(Mayjen William J. Snow, dalam The Shrapnel-1924) dan “The artillery is the most important of our arms” (Jenderal Dwight D. Eisenhower)

Dari kutipan-kutipan tersebut membuktikan bahwa artileri merupakan sistem persenjataan paling vital, khususnya bagi para infantri. Kutipan-kutipan tersebut begitu faktual, karena diutarakan langsung oleh orang-orang yang tahu betul fungsi persenjataan ini.

Singkat kata, artileri adalah pembungkam tembakan musuh di sepanjang garis pertahanan dan penghancur instalasi militer yang paling efektif. Seiring berjalannya waktu, jenis artileri pun kini bermacam-macam.

Mulai dari mortir, kanon, howitzer, dan pelontar roket. Artileri dengan mesiu propelan digunakan pertama kali pada 28 Januari 1132 ketika Jenderal Han Shizhong dari Dinasti Song untuk menyerang sebuah kota di Fujian. Kemudian menyebar ke Tengah timur dan sampai ke Eropa pada abad ke-13.

Di Asia, Mongol mengadopsi artileri Cina dan digunakan secara efektif dalam penaklukan-penaklukkan besarnya . Pada akhir abad ke-14, pemberontak Cina menggunakan artileri dan kavaleri yang terorganisir untuk memaksa bangsa Mongol meninggalkan Cina.

Artileri yang digunakan Tentara Mehmed II (penakluk Konstantinopel-1453), termasuk artileri yang paling canggih dan dahsyat pada masanya. Dinasti Utsmaniyah mengepung Konstanstinopel dengan enam puluh sembilan senjata artileri di lima belas tempat terpisah.

Rentetan tembakan meriam Utsmaniyah berlangsung selama 40 hari, dan diperkirakan jumlah tembakan mencapai 19.320 kali. Wajar dengan tembakan sebanyak itu karena kita tahu Konstantinopel sangat “tidak mungkin” untuk ditaklukkan pada waktu itu.

Kejatuhan konstantinopel membuktikan keefektifan penggunaan artileri pada perang yang akhirnya mengakhiri Kekaisaran Bizantium.

Di Indonesia sejarah artileri di zaman kuno jarang terdengar. Sekitar tahun 1500- 1850an di kepulauan Nusantara setiap kapal saudagar besar pribumi pasti ada sebuah meriam Lantaka yang digunakan untuk menghalau serangan bajak laut.

Asal tahu saja, Lantaka terbuat dari besi atau perunggu dan sering dipasang pada kapal saudagar. Biasanya beratnya di bawah dua ratus pound.

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini