Wajib Tahu! Ini Lho Fakta dan Sejarah Paskibraka

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Masih dalam suasana hari kemerdekaan, tak ada salahnya untuk mencari tahu hal-hal berbau tradisi yang dilakukan pada 17 Agustus. Ada banyak hal identik dilakukan di hari kemerdekaan Indonesia, mulai dari upacara, hingga berlomba.

Salah satunya yang menjadi ajang di hari kemerdekaan ialah paskibra atau pasukan pengibar bendera. Biasanya, setiap sekolah mulai menyeleksi para siswa berpestrasi untuk menjadi pasukan pengibar bendera di Istana Negara.

Lantas, seperti apa sih fakta dan sejarah dari paskibraka?

Lisa dan Elmayana Sabrenia membahas tentang sejarah dari paskibraka. Mereka mengatakan, paskibraka dibentuk pertama kali pada tahun 1946.

“Paskibraka dibentuk atas perintah Presiden Soekarno kepada Mayor M. Husein Mutahar. Beliau merupakan ajudan dari presiden Soekarno,” kata Renia.

Dari situ, Husein Mutahar menunjuk lima orang pemuda perwakilan dari Yogyakarta. Faktanya, penunjukan lima orang untuk paskibraka pertama berlandaskan jumlah Pancasila.

“Karena lima sila dari dasar negara, jadi dipilihlah lima pemuda ini,” ungkap Renia.

Kemudian, di tahun 1967, Presiden kedua RI, Soeharto kembali meminta Husein Mutahar untuk mencari pemuda sebagi pengibar bendera merah putih. Namun, pemilihin dibagi menjadi tiga regu, yakni kelompok 17, 8 dan 45.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini