Rekonsiliasi Usai Putusan MK Percepat Stabilkan Gejolak Sosial

Baca Juga

MINEWS, PALEMBANG – Rekonsiliasi elite politik pascasidang sengketa pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK) dapat mempercepat stabilisasi gejolak sosial. Hal tersebut dikarenakan sifat politik masyarakat Indonesia yang cair.

Menurut pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Center for Democracy and Civilization Studies Alip Dian Pratama, bahwa pernyataan-pernyataan para elite politik terutama capres dan cawapres memiliki pengaruh kuat terhadap masing-masing pendukung.

“Peluang rekonsiliasi masih terbuka lebar karena jika berkaca pada Pemilu 2014 di mana saat itu Jokowi dan Prabowo bertemu pascasidang MK lalu Prabowo mau mengakui kekalahan, artinya sikap menerima serta mengakui lumrah dimiliki Prabowo, inilah pintu awal rekonsiliasi,” ujarnya di Palembang, Kamis 27 Juni 2019.

Menurutnya rekonsiliasi yang timbul dari sifat politik Indonesia yang cair secara tidak langsung mendorong partai-partai peserta pemilu juga mulai mencari arah untuk menyesuaikan dinamika pascasidang MK, dalam proses penyesuaian tersebut masyarakat dengan sendirinya akan terbawa perubahan arus politik.

Akibatnya arah politik akan terpolarisasi dalam waktu tertentu dan akhirnya masyarakat mulai meninggalkan dinamika menyangkut Pemilu 2019, apalagi jika elite politik lebih cepat kompak menyudahi permasalahan pemilu.

‘Harapannya rekonsiliasi memang dapat menenangkan masyarakat akar rumput,” ujarnya.

Sedangkan bagi partai politik, kata dia, kemungkinan besar banyak yang akan mencoba rekonsiliasi dengan berupaya menjadi bagian koalisi pemerintahan mengingat empat tahun ke depan masih ada pilkada serentak, secara politis koalisi tersebut akan memberi banyak keuntungan bagi partai politik.

“PDI dan Gerindra dulu pernah koalisi meskipun akhirnya pisah saat Pemilu 20119, tapi bukan tidak mungkin hal itu akan terulang mengingat politik Indonesia cair sekali sifatnya, ” kata Alip.

Berita Terbaru

MBG Dikawal Para Ahli, Masa Depan Gizi Anak Makin Terjamin

Oleh: Alexander Royce*)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu kebijakan strategispemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengahberbagai tantangan pembangunan, mulai dari stunting, kesenjangan akses panganbergizi, hingga kebutuhan peningkatan kualitas generasi muda menuju Indonesia Emas 2045, kehadiran MBG menunjukkan komitmen negara untuk memastikan setiap anakIndonesia mendapatkan hak yang sama atas asupan gizi yang berkualitas. Pemerintahterus memperkuat tata kelola dan pengawasannya dengan melibatkan para ahli gizi, tenaga kesehatan, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan agar manfaatnya semakin optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap MBG juga datang dari kalangan akademisi dan praktisi gizi. Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi, Lesda Lybaws, menilai program MBG merupakan langkah yang efektif untuk memutus rantai stunting...
- Advertisement -

Baca berita yang ini