Rani, Sapi Mungil di Bangladesh yang Lagi Viral

Baca Juga

MATA INDONESIA, DHAKA Namanya Rani, sapi berwarna putih asal Bangladesh. Tidak seperti sapi pada umumnya, Rani memiliki tubuh yang mungil dan hanya memiliki tinggi badan 51 cm.

Rani adalah sapi Bhutti atau Bhutan, yang dihargai karena dagingnya dan sapi jenis ini biasanya memiliki dua kali ukuran Rani. Rani pun diklaim sebagai sapi terkecil di dunia.

Ribuan orang di Bandladesh kemudian melangar kebijakan lockdown akibat Covid-19, karena penasaran ingin melihat sosok Rani secara langsung. Sapi berusia 23 bulan itu kini tengah menjadi bintang di negaranya dan dunia maya.

Rani memiliki panjang 66 sentimeter dengan berat hanya 26 kilogram. Sang pemilik mengatakan bahwa sapi miliknya 10 cm lebih pendek dari sapi terkecil di Guinness World Records.

Meskipun transportasi nasional di Bangladesh ditutup karena rekor infeksi dan kematian virus corona yang terus meningkat, tak menghalangi orang-orang untuk datang. Mereka berbondong-bondong naik becak ke pertanian di Charigram -9 mil barat daya Dhaka.

“Saya belum pernah melihat yang seperti ini dalam hidup saya. Tidak pernah,” kata Rina Begum yang berasal dari luar kota Dhaka, melansir The Guardian.

Otoritas Bangladesh melaporkan terjadi 11,525 kasus Covid-19 baru (8/7), angka ini menjadi yang tertinggi sejak pandemi dimulai. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa akan terjadi kekurangan oksigen dalam waktu dekat untuk merawat pasien terinfeksi Covid-19 dengan kasus parah.

“Kami tidak menyangka orang akan meninggalkan rumah mereka karena situasi virus yang memburuk. Tapi mereka datang ke sini berbondong-bondong,” kata manager pertanian.

Kepala Dokter Hewan Pemerintah untuk wilayah tersebut, Sajedul Islam mengatakan bahwa Rani adalah produk perkawinan sedarah genetik dan tidak mungkin menjadi lebih besar. Ia juga mengatakan kepada pertanian untuk membatasi masuknya turis.

“Saya mengatakan kepada pihak pertanian bahwa mereka seharusnya tidak mengizinkan begitu banyak orang memadati pertanian. Mereka mungkin membawa penyakit ke sini yang mengancam kesehatan Rani,” kata Sajedul Islam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra)*Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannyamengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagimasyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukunganpemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satufondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untukmemastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkanproduktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosisteminovasi yang berdaya saing global.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwaperguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi risetnasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologidan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi risetIndonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terusdiperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilaitambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalampembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerakpertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan risetjuga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagikehidupan masyarakat.Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terusmemperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusatinovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengandunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagilahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasionalyang lebih modern.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif...
- Advertisement -

Baca berita yang ini