Perhatikan Beberapa Hal Ini Sebelum Bercinta di Dalam Air

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bagi sebagian orang, bercinta di dalam air memiliki sensasi tersendiri dan mungkin memacu adrenalin. Daya apung yang diberikan air memungkinkan Anda dan pasangan untuk mencoba berbagai gerakan dan gaya yang tidak dapat dilakukan di tempat yang kering.

Namun, Anda juga perlu mempertimbangkan beberapa kemungkinan yang bisa ditimbulkan. Terapis seks dan dokter ilmu kesehatan, Debra Laino memberikan beberapa saran untuk Anda yang ingin mencoba bercinta di dalam air.

“Apabila Anda berada di bak mandi, kolam renang, atau bak mandi air panas, pastikan untuk bersandar pada sesuatu, sehingga Anda tidak tenggelam atau kehilangan keseimbangan,” kata Debra Laino, melansir Womenshealthmag.

Selain itu, Laino juga menyarankan agar pasangan melakukan banyak foreplay, sebab, pelumasan cenderung hilang di dalam air. Selain itu, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat bercinta di dalam air.

Mengeringkan pelumas

Seorang ob-gyn di Baylor University, Jessica Sthepherd, MD mengatakan bahwa air bukanlah pelumas yang baik sama sekali. Air bahkan dapat membersihkan pelumas alami yang dibuat oleh tubuh. Akibatnya, akan sulit bagi Anda untuk tetap ‘basah’ dan nyaman ketika bercinta di air.

Berpotensi merobek Miss V

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa bercinta di dalam air dapat menghilangkan pelumas tubuh, untuk itu masalah seperti gesekan di Miss V akan mengalami peningkatan. Dr. Stepher mengatakan, apabila pasangan Anda mengenakan alat kontrasepsi, maka akan lebih banyak gesekan tercipta yang kemungkinan merobek Miss V.

Terinfeksi saluran kemih (ISK)

Coba Anda bayangkan ada berapa banyak bakteri yang terdapat dalam air, kolam renang misalnya? Ketika Anda dan pasangan bercinta, maka itu semua bisa terdorong ke dalam uretrea (lubang kecil tempat keluarnya urin). Dan tentu saja hal itu meningkatkan risiko terkena infeksi saluran kemih.

Meski demikian, Dr. Shepherd memberikan solusi, yakni selalu buang air kecil setelah Anda selesai bercinta demi mengeluarkan bakteri yang masuk ke saluran uretrea.

Meningkatkan risiko infeksi jamur

Anda yang memikirkan sensasi bercinta di dalam air, tampaknya harus benar-benar mempertimbangkannya. Pasalnya bercinta di air dapat meningkatkan risiko infeksi jamur, khususnya klorin yang dapat mengiritasi Miss V dan mengganggu pH halus di area tersebut.

“PH yang terganggung akan membuka peluang bagi pertumbuhan ragi lebih yang menyebabkan infeksi,” kata dr. Stepherd.

Berisiko tinggi terkena infeksi menular seksual (IMS)

Hal penting yang harus Anda ketahui adalah, air tidak memiliki sifat pembersih IMS. Dr. Wider mengatakan bahwa gesekan dari seks dapat menyebabkan robekan  Miss V yang disebutkan di atas dan itu juga dapat meningkatkan risiko terkena IMS. Satu IMS masuk ke tubuh Anda, maka itu akan membuka jalan bagi IMS lainnya!

Penetrasi juga bisa menjadi risiko

Dr. Wider mengatakan bahwa penetrasi dapat menempatkan Anda pada risiko iritasi, dan infeksi karena Anda akan mendorong kuman ke saluran Miss V. Dengan begitu, Anda berisiko terkena infeksi jamur, iritasi, dan bahkan ISK jika bercinta di dalam air.

Tidak sepenuhnya steril

Ada kemungkinan badan air dapat membawa beberapa bakteri yang cukup kotor, termasuk E.coli dan salmonella. Di mana pun Anda berenang, dari kolam dan bak air panas dengan tingkat pH yang tidak tepat, hingga sungai, danau, lautan, mungkin bukan tempat berhubungan seks.

“Ada kemungkinan Anda mendorong bakteri atau kuman lain ke saluran vagina dan ke dalam tubuh Anda,” ucap Dr. Wider.

Kendati begitu, para ahli mengatakan bahwa bercinta di dalam air sesekali tidak menimbulkan masalah serius dan merugikan kesehatan tubuh Anda. So, jangan terlalu khawatir ya! Tapi sekali lagi, Anda juga perlu mempertimbangkan beberapa hal di atas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini