Gunakan Ratusan Ikan Piranha, Begini Cara Keji Kim Jong Un Hukum Mati Jenderal yang Makar

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Kim Jong Un dikenal sebagai pemimpin yang diktator dan kejam. Pemimpin Korea Utara ini bahkan tak segan memberikan hukuman tak manusiawi bagi pejabat negara yang dinilainya berkhianat.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, Kim Jong Un mengeksekusi seorang jenderal yang dituduh makar dengan cara mengerikan. Jenderal tersebut dilemparkan ke dalam sebuah tangki berisi ratusan ikan piranha raksasa yang dibangun di dalam Ryongsong Residence Kim, di Pyongyang.

Dilansir dari Daily Star, sebelum dilemparkan ke dalam “tangki kematian” itu, jenderal tersebut lebih dulu disayat tubuhnya pada bagian lengan dan beberapa bagian tubuh dengan pisau.

Jenderal yang identitasnya dirahasiakan itu dieksekusi mati lantaran tuduhan perencanaan kudeta. Hingga kini, setidaknya sudah ada 16 pejabat senior yang dieksekusi mati oleh Kim Jong Un.

“Dia ingin semua orang tahu, termasuk para ajudannya yang paling terpercaya, bahwa mereka berisiko menderita kematian yang sangat tidak menyenangkan jika dia mencurigai adanya pengkhianatan,” kata seorang pasukan intelijen Inggris, dikutip Selasa, 11 Juni 2019.

“Dia telah mengeksekusi anggota keluarganya sendiri dan membunuh pejabat senior pemerintah karena tidak bertepuk tangan cukup keras dalam salah satu pidatonya,” ujarnya.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini