Kuatkan Solidaritas, Putin Membela Cina dalam Perang Dagang

Baca Juga

MINEWS, INTERNASIONAL – Presiden Rusia Vladimir Putin dengan tegas membela Cina dalam perang dagang melawan AS yang selama ini berkecamuk. Putin bahkan menyebut AS seharusnya tak melakukan agresi terhadap perusahaan Cina, karena akan bisa berdampak pada perang senjata yang nyata.

Selain itu, Putin juga menyatakan dukungan dan solidaritasnya bersama Cina dengan menyebut AS sebagai negara yang egois dalam urusan ekonomi. Terutama setelah Trump menjatuhkan sanksi berat terhadap perusahaan teknologi raksasa Cina, yakni Huawei.

Pernyataan itu disampaikan Putin di tengah-tengah pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di St Petersburg, demikian sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Sabtu 8 Juni 2019.

Ia bercerita, keegoisan AS juga tampak saat negara tersebut menggagalkan proyek pipa gas Rusia ke Eropa, serta seruan Washington kepada negara-negara untuk melarang Huawei, produsen peralatan telekomunikasi terbesar di dunia, memasok infrastruktur jaringan.

“Negara-negara yang sebelumnya mempromosikan perdagangan bebas dengan persaingan jujur dan terbuka telah memulai perang dagang dan sanksi, menggunakan taktik memutarbalikkan dan menakut-nakuti, untuk menghilangkan pesaing,” kata Putin dalam pidatonya.

Menurut Putin, dunia berisiko tergelincir ke era ketika aturan internasional berisiko ditukar oleh mekanisme pemerintahan dan hukum yang merupakan cara AS berperilaku saat ini.

Ia menambahkan, kebijakan AS justru akan berujung pada konflik yang tak berkesudahan, bahkan lebih buruk dari itu, bisa meyebabkan perang besar yang merugikan.

Putin juga mengeluhkan posisi dolar AS dan menyebutnya sebagai alat tekanan dalam sistem keuangan global sehingga harus dipertimbangkan kembali.

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini