Kulit Kering karena Kekurangan Cairan Selama Menjalani Puasa? Ini Cara Antisipasinya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kulit kering bisa terjadi karena kekurangan cairan. Kondisi ini kerap terjadi pada saat puasa di bulan Ramadan. Pakar kesehatan bidang anti-aging lulusan Universitas Udayana, dr.Cynthia Jayanto menegaskan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit.

Pertama, yaitu dengan menjaga hidrasi pada tubuh dengan cukup meminum delapan gelas per hari saat sahur dan berbuka puasa. Hal ini tidak lepas dari faktor anatomi kulit manusia yang terdiri dari lapisan utama epidermis (luar), dermis dan subkutis yang sifatnya sangat fleksibel menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar, baik kelembapan udara, suhu udara dan asupan.

Lapisan subkutis terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Saat berpuasa, kulit akan tetap terjaga hidrasinya sebab sudah punya mekanisme anatomi untuk tetap bisa menjaga kelembapannya sendiri.

Kedua, bisa dengan menggunakan pelembab atau moisturizer. Mengingat anatomi kulit terdiri dari lapisan epidermis yang sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar Anda.

Jika berada di dalam ruangan AC, kulit bagian luar akan lebih cepat kering sehingga memerlukan pelembap untuk menjaga cadangan air di bawah kulit tidak cepat berkurang dan hilang.

Ketiga, yaitu dengan membatasi penggunaan air hangat selama berpuasa. Bila menggunakan air hangat terus menerus bisa memunculkan efek heat sensitive terhadap skin barrier kulit. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan pada skin barrier dan membuat kulit tidak sehat dan tampak kusam.

Keempat, Cynthia menyarankan untuk menggunakan lip balm selama berpuasa. Solusi ini dilakukan bila Anda kurang minum air.

“Tujuan penggunaan lip balm ini, supaya menjaga kulit sekitar bibir menjadi lebih terawatt dan tidak terlalu pecah-pecah dan perih karena kurangnya minum saat berpuasa,” kata Cynthia.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini